Malam Pertama
Hari itu adalah hari yang berbahagia bagiku dimana saat itu telah kuucapkan ikrar pernikahan di depan penghulu. Runtuh sudah segala pertanyaanku tentang siapa wanita yang mendampingiku. Hilang sudah keraguanku akan ketidakmampuanku memikat dan mengikat wanita, meski untuk itu, kutaruh segala keangkuhanku dan egoismeku demi menyatukan dua hati yang benar-benar berbeda menjadi satu, untuk hari ini, esok, hingga ajal memisahkan kita.
Dan di sini, di kamar pengantin ini, hanya kita berdua, melewati surga dunia yang mungkin kita merasa, inilah saatnya kita memasrahkan diri kita sepenuhnya dan seutuhnya untuk orang yang kita cintai.
Meski tanpa kata romantis yang terucap, meski tanpa bujuk rayu pujangga yang bergelora, tetapi karena niat kita, niatku dan niatmu yang satu, mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga demi menyempurnakan separuh iman kita, karena kita merasa bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan untuk sama-sama meniti jalan yang diridhoi dan merupakan sarana bagi mereka yang takut akan terjerumus dosa karena memperturutkan nafsu birahi.
Kutatap matamu yang sendu, kaupun menunduk malu. Kusibak lembut rambutmu, kau makin tersipu. Ketika bibir ini melekat di bibirmu, kurasakan getaran dahsyat di sekujur tubuhku. Dan secepat itu kaupun meronta melepaskan pelukanku serta mendorong tubuhku. Entah kenapa, aku heran sekali melihat butiran keringat di keningmu, aku bertanya dalam hatiku, salahkah aku?, kurasa tidak!, kau sudah halal bagiku. Aku lalu bertanya dalam benakku, terlalu bernafsukah aku. Ya, aku menemukan jawabannya. Sungguh merasa bersalah aku karena memperturutkan keinginanku yang mungkin kau belum siap untuk itu. Untuk melewati malam ini dengan syahdu, dengan disaksikan berjuta bintang di langit dan beribu kesenyapan yang menelisik malam.
Di malam kedua, kembali aku menerka suasana hatimu. Apakah gerangan yang ada dalam pikiranmu. Mengapa setiap kita berdua, kau belum bisa menerima kehadiranku di sisimu. Apa aku tak pantas bagimu, apa aku kurang romantis, tak bisa berkata-kata bujuk rayu yang menyunggingkan senyum di bibirmu, merekahkan kebahagiaan di sudut kalbumu.
Ya Allah. Bila dia belum bisa menerimaku sepenuhnya, maka aku memohon agar dibukakan seluasnya sarana meluluhkan hatinya. Jika aku tak pandai berbujuk rayu, maka jadikan aku pujanga yang melantunkan bait-bait cinta untuknya.
Akhirnya, aku himpun keberanianku untuk bertanya.
“Dik…”
Kutatap pula wajahmu, kau malah makin menundukkan kepalamu.
“Dik...”
Belum selesai aku meneruskan pertanyaanku, kau malah terisak dengan menahan tangismu.
“Mas..” ucapmu kemudian, dilanjutkan dengan isaknya lagi.
“Maafkan aku.
Aku belum bisa menerimamu sepenuhnya di hatiku.
Aku merasa belum mengenalmu, bahkan sebelumnya saja tak pernah kita berbicara bedua dari hati ke hati.
Kau tak pernah tahu perasaanku.
Kau terlalu berani memintaku dari orang tuaku.
Kau tentu tahu, tak mungkin aku bertentangan dengan ibu dan bapakku” begitu katanya, kemudian dia diam.
Tak karuan perasaanku, beginikah zaman telah merubah dunia, dimana dia merasa perlunya saling mengenal (lebih jauh) dahulu sebelum mereka siap untuk disandingkan dengan seorang pria. Aku terdiam membisu. Kuayunkan langkah kakiku untuk menghirup udara segar sebentar, kemudian setelah beberapa jenak, aku kembali, tidur.
Hari-hari berikutnya kulalui seperti layaknya suami istri. Kupimpin salat berjamaah dimana istriku sebagai makmumnya. Diciumnya tanganku setelah kami selesai bersembahyang itu, kemudian kami larut dalam doa kami masing-masing. Doaku tentu saja agar tumbuh rasa cinta dihatinya, untuk menerimaku sebagai suaminya, orang yang paling bertanggung jawab atas dirinya, dan yang paling berhak atas segala apapun yang ia punya.
Beberapa malam berikutnya.
“Mas..” bisikmu kemudian di telingaku.
“ Ada apa dik” tanyaku.
“Aku……….”
Kau tersipu, senyum-senyum malu.
“Apa!” tanyaku penasaran.
Belum selesai keherananku, bibirmu mengatup menutup bibirku. Matamu terpejam dan setelah itu aku berbalik menguasaimu. Ada kekuatan diriku untuk meneruskan apa yang baru kau mulai. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, telah Engkau bukakan hatinya untukku.
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Jumat, 2009 Juni 19
Antara Karma dan Sariawan
Antara Karma dan Sariawan
Percayakah anda dengan karma? Jika anda bukan termasuk orang yang percaya dengan karma, maka mulai sekarang, saatnyalah anda untuk percaya karma itu.
Beberapa hari yang lalu saya menggertak anak didik saya dengan kata- kata yang pedas dan saya bisa pastikan: menyakitkan. Kenapa saya bisa bilang begitu, bacalah tulisan ini sampai selesai.
Karma bukanlah kurma, makanan khas yang tumbuh di daerah padang pasir itu, kondang sebagai oleh-oleh haji. Meski belinya tidak dari arab langsung, tapi setiap yang menyajikan orang yang pulang dari haji, maka setiap yang bertandang pasti ingin menyantap kurma dan air zam-zam itu (bisa dipastikan air zam-zamnya juga tidak semuanya zam-zam, maklum setiap jemaah haji pasti dibatasi berapa dirigen dia boleh membawa. Sementara ketika tiba di tanah air, berapa banyak warga yang ingin meraskan air zam-zam itu).
Bukan ke sana arah pembicaraan kita. Tapi yang namanya manusia. Suka bicara ngalor ngidul, yang kurang ditambah-tambahi, yang pedas jadi semakin pedas. Kembali ke laptop kata tukul, ya karma, kata yang tersusun dari lima huruf itu yang akan kita bicarakan.
Beberapa hari yang lalu ketika saya mengajar di depan murid-murid saya, ketika saya menerangkan, mereka mengobrol sendiri. Sontak saya pun marah, merasa tidak diperhatikan, merasa sia-sia diri ini dengan lantangnya menjelaskan materi pelajaran, sementara untuk ngomong saja mulut ini menahan kelu karena sariawan di bibir yang makin menjadi, asem kecut lah bisa dibilang mulut ini. Sariawan, benar benar menjengkelkan.
Lalu dimanakah karma itu? Sabar saudara- saudara, orang sabar disayang Tuhan.
Ketika saya mengikuti kuliah, (maklum kata pak guru saya yang sudah tua, guru muda harus sekolah, biar nanti bisa untuk surtifikasi katanya). Entah kenapa mungkin karena kebiasaan mengutak-atik handphone, pada waktu itu saya ketahuan sedang bermain hp. Maka sontaklah sang dosen pun menegur, lebih tepatnya marah, karena merasa beliau sedang berbicara (mungkin sambil menahan sariawan di bibir juga) tapi mahasiswanya tak mendengarkan beliau, mengacuhkannya.
Ketika beliau selesai melampiaskan kemarahannya, saya pun diam beribu bahasa. Teman-teman saya pun bilang, sudah jangan terlalu dipikirkan. Mungkin mereka kasihan melihat saya yang seketika merasa bersalah. Tampang saya waktu itu memang bisa dibilang, layak untuk dikasihani.
Tapi sebenarnya bukan karena beliau marah itu saya diam. Tapi saya memikirkan perasaan anak didik saya yang beberapa hari yang lalu saya marahi justru bukan karena kesalahan mereka, tapi karena sariawan. Tapi kalau beliau yang barusan marah, ya saya terima. Karena itu memang kesalahan saya.
Ada beberapa hikmah yang saya petik dari kejadian itu. Pertama, karma itu berlaku. Tidak menunggu bulan atau tahun, hanya keletan (basa jawa) beberapa hari saja, langsung berbalik. Kedua, dimarahi memang menyakitkan. Ketiga, orang marah itu sebenarnya seperti mengeluarkan sifatnya yang sebenarnya, berkuranglah wibawanya. Keempat, kalau pikiran sedang sariawan, janganlah sariawan ini dibawa-bawa.
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Percayakah anda dengan karma? Jika anda bukan termasuk orang yang percaya dengan karma, maka mulai sekarang, saatnyalah anda untuk percaya karma itu.
Beberapa hari yang lalu saya menggertak anak didik saya dengan kata- kata yang pedas dan saya bisa pastikan: menyakitkan. Kenapa saya bisa bilang begitu, bacalah tulisan ini sampai selesai.
Karma bukanlah kurma, makanan khas yang tumbuh di daerah padang pasir itu, kondang sebagai oleh-oleh haji. Meski belinya tidak dari arab langsung, tapi setiap yang menyajikan orang yang pulang dari haji, maka setiap yang bertandang pasti ingin menyantap kurma dan air zam-zam itu (bisa dipastikan air zam-zamnya juga tidak semuanya zam-zam, maklum setiap jemaah haji pasti dibatasi berapa dirigen dia boleh membawa. Sementara ketika tiba di tanah air, berapa banyak warga yang ingin meraskan air zam-zam itu).
Bukan ke sana arah pembicaraan kita. Tapi yang namanya manusia. Suka bicara ngalor ngidul, yang kurang ditambah-tambahi, yang pedas jadi semakin pedas. Kembali ke laptop kata tukul, ya karma, kata yang tersusun dari lima huruf itu yang akan kita bicarakan.
Beberapa hari yang lalu ketika saya mengajar di depan murid-murid saya, ketika saya menerangkan, mereka mengobrol sendiri. Sontak saya pun marah, merasa tidak diperhatikan, merasa sia-sia diri ini dengan lantangnya menjelaskan materi pelajaran, sementara untuk ngomong saja mulut ini menahan kelu karena sariawan di bibir yang makin menjadi, asem kecut lah bisa dibilang mulut ini. Sariawan, benar benar menjengkelkan.
Lalu dimanakah karma itu? Sabar saudara- saudara, orang sabar disayang Tuhan.
Ketika saya mengikuti kuliah, (maklum kata pak guru saya yang sudah tua, guru muda harus sekolah, biar nanti bisa untuk surtifikasi katanya). Entah kenapa mungkin karena kebiasaan mengutak-atik handphone, pada waktu itu saya ketahuan sedang bermain hp. Maka sontaklah sang dosen pun menegur, lebih tepatnya marah, karena merasa beliau sedang berbicara (mungkin sambil menahan sariawan di bibir juga) tapi mahasiswanya tak mendengarkan beliau, mengacuhkannya.
Ketika beliau selesai melampiaskan kemarahannya, saya pun diam beribu bahasa. Teman-teman saya pun bilang, sudah jangan terlalu dipikirkan. Mungkin mereka kasihan melihat saya yang seketika merasa bersalah. Tampang saya waktu itu memang bisa dibilang, layak untuk dikasihani.
Tapi sebenarnya bukan karena beliau marah itu saya diam. Tapi saya memikirkan perasaan anak didik saya yang beberapa hari yang lalu saya marahi justru bukan karena kesalahan mereka, tapi karena sariawan. Tapi kalau beliau yang barusan marah, ya saya terima. Karena itu memang kesalahan saya.
Ada beberapa hikmah yang saya petik dari kejadian itu. Pertama, karma itu berlaku. Tidak menunggu bulan atau tahun, hanya keletan (basa jawa) beberapa hari saja, langsung berbalik. Kedua, dimarahi memang menyakitkan. Ketiga, orang marah itu sebenarnya seperti mengeluarkan sifatnya yang sebenarnya, berkuranglah wibawanya. Keempat, kalau pikiran sedang sariawan, janganlah sariawan ini dibawa-bawa.
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Minggu, 2009 April 19
Kekerasan Pelajar Putri, Potret Buram Pendidikan Keluarga
Kekerasan Pelajar Putri, Potret Buram Pendidikan Keluarga
Akhir-akhir ini marak terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sesama pelajar. Parahnya, tindak kekerasan ini banyak yang diabadikan dalam rekaman video handphone, tekhnologi yang bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, termasuk pelajar. Lebih parahnya lagi, kekerasan pelajar tersebut tidak hanya terjadi pada pelajar putra saja, tetapi juga pelajar putri.
Masyarakat kita sepertinya sudah biasa disuguhi adegan-adegan yang direkam dengan video handphone. Mulai dari video mesum yang dilakukan oleh publik figur, video adegan panas yang dilakukan oleh pelajar, video kekerasan yang dilakukan guru terhadap murid, video perpeloncoan senior terhadap yuniornya, dan video-video yang lain dengan judul dan berita yang lebih memukau. Rekaman video tersebut dengan mudahnya tersebar lewat kecanggihan tekhnologi informasi dan komunikasi saat ini.
Tapi yang membuat saya tidak habis pikir adalah kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri yang dalam tayangan videonya tampak dilihat oleh banyak orang, ditonton, atau lebih tepatnya disemangati oleh yang menonton ibarat menyaksikan pertandingan tinju saja. Perempuan sosok yang anggun itu, tampaknya telah berubah paradigmanya menjadi perempuan petarung yang handal. Sungguh sebuah ironi.
Ada yang mengatakan, dimana sebenarnya kontrol pihak sekolah dalam memantau siswanya?, mengingat kejadian itu dilakukan oleh pelajar, masih berseragam pula. Ada yang bertanya, dimana peran keluarga dalam memberikan pendidikan kepada putra-putrinya?. Menurut saya, kekerasan pelajar sebenarnya merupakan hal yang sering terjadi di kalangan pelajar. Kita mengenal istilah bullying. Hanya saja mungkin dulu tidak direkam dalam handphone, sehingga tidak semua orang bisa menyaksikan hal itu.
Kegagalan Pendidikan dalam Keluarga
Kekerasan atau perkelahian yang dilakukan oleh pelajar putri sebenarnya merupakan sebuah indikasi yang menandakan bahwa telah rusaknya tatanan dalam masyarakat, runtuhnya budaya malu, hilangnya tenggang rasa dan kekeluargaan, musnahnya kesabaran yang dilandasi kasih sayang, dan kegagalan pendidikan dalam keluarga.
Pendidikan keluarga adalah proses transformasi perilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat, sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Secara tersirat dipahami bahwa bahwa tujan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Memperhatikan tujuan tersebut maka pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya. Adapun isi pendidikan dalam keluarga biasanya, meliputi nilai agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan (Dinn Wahyudin, 2008).
Tidak ada kontrol dari keluarga, khususnya para orang tua yang tidak sempat lagi memberikan pendidikan dalam keluarga karena lebih sibuk dengan memenuhi ekonomi keluarga, telah membuat pelajar kita tidak memiliki kontrol diri dalam pergaulannya. Sehingga perkelahian pun marak terjadi karena mereka tidak memiliki sikap sabar dan sikap saling menghargai. Tayangan televisi bisa dikatakan menjadi penyebab merosotnya moral pelajar kita. Misalkan ada sebuah tayangan sinetron mengisahkan pelajar remaja yang berseteru hingga berusaha untuk melukainya. Peristiwa semacam ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kepribadian anak.
Pembentukan Kepribadian Anak
Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan oleh orang tua yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, sopan santun, etika, agar anak menjadi lebih siap untuk berperilaku baik dalam kehidupan masyarakat dan menghormati orang lain. Jika setiap keluarga menanamkan nilai-nilai etika yang benar maka semua manusia akan hidup berdampingan dan damai.
Sebagai orang tua, marilah kita pantau anak-anak kita agar terhindar dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh temannya atau melakukan kekerasan terhadap temannya. Walau bagaimanapun, anak tetaplah sosok yang mudah kita nasehati apabila kitapun memberikan contoh yang baik buat mereka. Pendidikan dalam keluarga sangatlah penting dan utama dalam keseluruhan proses pendidikan anak. Bila memiliki anak perempuan, didiklah mereka agar sadar akan posisi keperempuanannya. Tidak baik jika sampai dilihat orang kalau ada anak perempuan yang berkelahi.
Dede Awan Aprianto, A.Ma.
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Akhir-akhir ini marak terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sesama pelajar. Parahnya, tindak kekerasan ini banyak yang diabadikan dalam rekaman video handphone, tekhnologi yang bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, termasuk pelajar. Lebih parahnya lagi, kekerasan pelajar tersebut tidak hanya terjadi pada pelajar putra saja, tetapi juga pelajar putri.
Masyarakat kita sepertinya sudah biasa disuguhi adegan-adegan yang direkam dengan video handphone. Mulai dari video mesum yang dilakukan oleh publik figur, video adegan panas yang dilakukan oleh pelajar, video kekerasan yang dilakukan guru terhadap murid, video perpeloncoan senior terhadap yuniornya, dan video-video yang lain dengan judul dan berita yang lebih memukau. Rekaman video tersebut dengan mudahnya tersebar lewat kecanggihan tekhnologi informasi dan komunikasi saat ini.
Tapi yang membuat saya tidak habis pikir adalah kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri yang dalam tayangan videonya tampak dilihat oleh banyak orang, ditonton, atau lebih tepatnya disemangati oleh yang menonton ibarat menyaksikan pertandingan tinju saja. Perempuan sosok yang anggun itu, tampaknya telah berubah paradigmanya menjadi perempuan petarung yang handal. Sungguh sebuah ironi.
Ada yang mengatakan, dimana sebenarnya kontrol pihak sekolah dalam memantau siswanya?, mengingat kejadian itu dilakukan oleh pelajar, masih berseragam pula. Ada yang bertanya, dimana peran keluarga dalam memberikan pendidikan kepada putra-putrinya?. Menurut saya, kekerasan pelajar sebenarnya merupakan hal yang sering terjadi di kalangan pelajar. Kita mengenal istilah bullying. Hanya saja mungkin dulu tidak direkam dalam handphone, sehingga tidak semua orang bisa menyaksikan hal itu.
Kegagalan Pendidikan dalam Keluarga
Kekerasan atau perkelahian yang dilakukan oleh pelajar putri sebenarnya merupakan sebuah indikasi yang menandakan bahwa telah rusaknya tatanan dalam masyarakat, runtuhnya budaya malu, hilangnya tenggang rasa dan kekeluargaan, musnahnya kesabaran yang dilandasi kasih sayang, dan kegagalan pendidikan dalam keluarga.
Pendidikan keluarga adalah proses transformasi perilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat, sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Secara tersirat dipahami bahwa bahwa tujan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Memperhatikan tujuan tersebut maka pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya. Adapun isi pendidikan dalam keluarga biasanya, meliputi nilai agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan (Dinn Wahyudin, 2008).
Tidak ada kontrol dari keluarga, khususnya para orang tua yang tidak sempat lagi memberikan pendidikan dalam keluarga karena lebih sibuk dengan memenuhi ekonomi keluarga, telah membuat pelajar kita tidak memiliki kontrol diri dalam pergaulannya. Sehingga perkelahian pun marak terjadi karena mereka tidak memiliki sikap sabar dan sikap saling menghargai. Tayangan televisi bisa dikatakan menjadi penyebab merosotnya moral pelajar kita. Misalkan ada sebuah tayangan sinetron mengisahkan pelajar remaja yang berseteru hingga berusaha untuk melukainya. Peristiwa semacam ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kepribadian anak.
Pembentukan Kepribadian Anak
Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan oleh orang tua yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, sopan santun, etika, agar anak menjadi lebih siap untuk berperilaku baik dalam kehidupan masyarakat dan menghormati orang lain. Jika setiap keluarga menanamkan nilai-nilai etika yang benar maka semua manusia akan hidup berdampingan dan damai.
Sebagai orang tua, marilah kita pantau anak-anak kita agar terhindar dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh temannya atau melakukan kekerasan terhadap temannya. Walau bagaimanapun, anak tetaplah sosok yang mudah kita nasehati apabila kitapun memberikan contoh yang baik buat mereka. Pendidikan dalam keluarga sangatlah penting dan utama dalam keseluruhan proses pendidikan anak. Bila memiliki anak perempuan, didiklah mereka agar sadar akan posisi keperempuanannya. Tidak baik jika sampai dilihat orang kalau ada anak perempuan yang berkelahi.
Dede Awan Aprianto, A.Ma.
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Harapan Itu Masihkah Ada?
FIKSI
Harapan Itu Masihkah Ada?
Cerpen Dede Awan Aprianto
Langkahku tergesa-gesa kemudian ikut berjejalan dengan orang-orang yang bergerombol melihat daftar pengumuman yang lolos seleksi CPNS. Beragam raut muka mereka. Dari yang datar-datar saja, bersujud syukur menekuri hamparan tanah, tertawa menertawakan nasib, atau diam tanpa ekspresi dan susah ditebak, seakan menyimpan beban yang tak tertanggungkan. Dan ekpresiku datar-datar saja. Bagiku ini bukan yang pertama kali ini saja, sudah yang kesekian kalinya, dan kesekian kali ini pula sama saja, nihil, tak ada hasil. Bergemuruh harapan yang sedari rumah bergema, luntur seketika. Kali ini pun aku pulang dengan perasaan hampa.
Setibanya di rumah, kutatap istriku tercinta yang baru saja menyajikan segelas air putih ke hadapanku. Kuminum berteguk dengan takzim, berucap syukur karena dahaga terpuaskan. Segelas air telah mampu menyiramkan kesegaran setelah hari yang melelahkan. Apalagi air itu disuguhkan oleh istri tercinta dengan kesetiaannya serta kepatuhannya berbakti pada suami. Sebuah anugerah yang tak terperikan.
“Bu..!” aku menyapa istriku yang masih sibuk menyusui anak kedua kami yang baru beberapa bulan itu.
Istriku menoleh, menghampiriku “Ada apa pak!”
“Namaku tidak ada dalam daftar pengumuman itu” sahutku.
“Lalu!..” tanggapannya datar.
“Ya itu artinya aku tidak diterima dalam seleksi itu!” jawabku.
“Sudahlah Pak! Yang sabar saja. Mungkin itu belum rezeki kita” nasihat istriku menyejukkanku.
Sungguh Tuhan masih memberikanku keberuntungan yang lain. Seorang istri yang setia dan selalu menemani dalam suka, apalagi dukanya, lebih banyak. Masih terucap pujian syukur dimulutku yang kelu dan dalam hati kuucapkan doa mudah-mudahan disediakannya kelak kebahagiaan bagi istri yang setia seperti istriku.
“Bu..!” sapaku.
“Ya Pak”
“Masih cukupkah persediaan beras kita sampai akhir bulan ini?” tanyaku.
“Maaf pak, sudah habis!” istriku menundukkan kepalanya, tak tega melihat raut wajahku yang berpikir.
Aku beranjak dari tempatku duduk, menuju tempat berwudhu untuk memberikan kesejukan pada hatiku. Kemudian kugelar sajadah memanjatkan doa memohon kepada Yang Maha Kuasa dan berserah diri pada-Nya.
“Mbok Yem berkeberatan jika kita mengutang di warungnya lagi” lapor istriku.
“Pak, si sulung tadi merengek minta dibelikan sepatu baru!” kata istriku lagi.
Kasihan istriku dan anak-anakku. Mereka harus menjalani kehidupanku yang serba berkekurangan ini dari pekerjaanku sebagai guru wiyata bakti, guru honor, yang selalu tabah dengan diselimuti harapan.
Nasib manusia memang tak ada yang menduga. Aku terkadang iri pada temanku yang masih muda itu. Baru saja dia lulus tahun ini, beberapa bulan yang lalu, tetapi sekarang dia sudah menjadi guru CPNS melalui tes jalur umumnya. Sedangkan aku, sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu lulus SPG, masih saja belum berubah statusnya, guru honor. Berkali-kali kuikuti tes seleksi masuk CPNS, belum ada yang lolos, belum, ya belum, mungkin tidak sama sekali, entahlah.
Matahari pagi masih sama sinarnya seperti pagi-pagi sebelumnya. Bagiku kehangatannya belum mampu menghangatkan jiwaku yang sedang gundah. Dengan pertanyaan yang selalu berkelebat dalam pikiranku, apakah harapan itu masih tetap ada?
Dengan langkah gontai aku menuju sekolah tempatku mengajar. Kupasang senyum ramah menyambut anak didikku yang berbaris rapi menyalamiku. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku karena merasa dirindu, dinanti, dan dibutuhkan.
Setahun kemudian…..
Kembali aku bergegas mengerumuni papan pengumuman itu. Harapan itu sepertinya masih tetap ada. Kali ini pun aku berharap tidak terlalu muluk. Tapi andaikata pun tidak ada lagi, istriku pasti hanya akan berkata, “Sudahlah Pak! Yang sabar saja. Mungkin itu belum rezeki kita”.
Kucari namaku diurutan nama yang berabjad D. Melansir satu persatu dari deretan nama-nama itu. Tapi sampai hampir habis urutan nama berawalan D, namaku belum juga muncul. Jantungku berpacu kencang dengan detakannya. Lemas lunglai sudah badanku. Harapan yang kubangun selama setahun ini kembali berujung pada sebuah pertanyaan “Harapan Itu Masihkah Ada?”.
Kali ini pun, seperti setahun yang lalu, aku pulang dengan hati remuk redam. Ingin rasanya segera sampai rumah dan menemui keramahan istriku yang cantik nan setia itu berucap menghiburku. Sungguh hanya itulah yang membuatku mampu yakin berdiri kembali dengan tegap dan berkata “Ya, harapan itu masih ada!”.
Sesampai di rumah….
“Bagaimana pak?” istriku bertanya tapi pertanyaan itu sungguh mengagetkanku karena tidak seperti biasanya istriku yang terlebih dahulu bertanya, bertanyanya langsung seperti itu lagi. Harapan membuncah yang telah kubangun bahwa nanti istriku mampu menyejukkanku, sirna sudah.
“Bagaimana sih pak, masa dari dulu nggak lolos-lolos!”
Bagai disambar petir di siang bolong perasaanku. Hancur berkeping-keping. Keputus asaan tertinggi telah menyergapku, dan kembali pertanyaan itu bergema “apakah harapan itu masih tetap ada?” dan aku langsung dengan tegar dan tegas menjawab “Sepertinya harapan itu sudah tidak ada”.
Purworejo, 14 Januari 2009
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Harapan Itu Masihkah Ada?
Cerpen Dede Awan Aprianto
Langkahku tergesa-gesa kemudian ikut berjejalan dengan orang-orang yang bergerombol melihat daftar pengumuman yang lolos seleksi CPNS. Beragam raut muka mereka. Dari yang datar-datar saja, bersujud syukur menekuri hamparan tanah, tertawa menertawakan nasib, atau diam tanpa ekspresi dan susah ditebak, seakan menyimpan beban yang tak tertanggungkan. Dan ekpresiku datar-datar saja. Bagiku ini bukan yang pertama kali ini saja, sudah yang kesekian kalinya, dan kesekian kali ini pula sama saja, nihil, tak ada hasil. Bergemuruh harapan yang sedari rumah bergema, luntur seketika. Kali ini pun aku pulang dengan perasaan hampa.
Setibanya di rumah, kutatap istriku tercinta yang baru saja menyajikan segelas air putih ke hadapanku. Kuminum berteguk dengan takzim, berucap syukur karena dahaga terpuaskan. Segelas air telah mampu menyiramkan kesegaran setelah hari yang melelahkan. Apalagi air itu disuguhkan oleh istri tercinta dengan kesetiaannya serta kepatuhannya berbakti pada suami. Sebuah anugerah yang tak terperikan.
“Bu..!” aku menyapa istriku yang masih sibuk menyusui anak kedua kami yang baru beberapa bulan itu.
Istriku menoleh, menghampiriku “Ada apa pak!”
“Namaku tidak ada dalam daftar pengumuman itu” sahutku.
“Lalu!..” tanggapannya datar.
“Ya itu artinya aku tidak diterima dalam seleksi itu!” jawabku.
“Sudahlah Pak! Yang sabar saja. Mungkin itu belum rezeki kita” nasihat istriku menyejukkanku.
Sungguh Tuhan masih memberikanku keberuntungan yang lain. Seorang istri yang setia dan selalu menemani dalam suka, apalagi dukanya, lebih banyak. Masih terucap pujian syukur dimulutku yang kelu dan dalam hati kuucapkan doa mudah-mudahan disediakannya kelak kebahagiaan bagi istri yang setia seperti istriku.
“Bu..!” sapaku.
“Ya Pak”
“Masih cukupkah persediaan beras kita sampai akhir bulan ini?” tanyaku.
“Maaf pak, sudah habis!” istriku menundukkan kepalanya, tak tega melihat raut wajahku yang berpikir.
Aku beranjak dari tempatku duduk, menuju tempat berwudhu untuk memberikan kesejukan pada hatiku. Kemudian kugelar sajadah memanjatkan doa memohon kepada Yang Maha Kuasa dan berserah diri pada-Nya.
“Mbok Yem berkeberatan jika kita mengutang di warungnya lagi” lapor istriku.
“Pak, si sulung tadi merengek minta dibelikan sepatu baru!” kata istriku lagi.
Kasihan istriku dan anak-anakku. Mereka harus menjalani kehidupanku yang serba berkekurangan ini dari pekerjaanku sebagai guru wiyata bakti, guru honor, yang selalu tabah dengan diselimuti harapan.
Nasib manusia memang tak ada yang menduga. Aku terkadang iri pada temanku yang masih muda itu. Baru saja dia lulus tahun ini, beberapa bulan yang lalu, tetapi sekarang dia sudah menjadi guru CPNS melalui tes jalur umumnya. Sedangkan aku, sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu lulus SPG, masih saja belum berubah statusnya, guru honor. Berkali-kali kuikuti tes seleksi masuk CPNS, belum ada yang lolos, belum, ya belum, mungkin tidak sama sekali, entahlah.
Matahari pagi masih sama sinarnya seperti pagi-pagi sebelumnya. Bagiku kehangatannya belum mampu menghangatkan jiwaku yang sedang gundah. Dengan pertanyaan yang selalu berkelebat dalam pikiranku, apakah harapan itu masih tetap ada?
Dengan langkah gontai aku menuju sekolah tempatku mengajar. Kupasang senyum ramah menyambut anak didikku yang berbaris rapi menyalamiku. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku karena merasa dirindu, dinanti, dan dibutuhkan.
Setahun kemudian…..
Kembali aku bergegas mengerumuni papan pengumuman itu. Harapan itu sepertinya masih tetap ada. Kali ini pun aku berharap tidak terlalu muluk. Tapi andaikata pun tidak ada lagi, istriku pasti hanya akan berkata, “Sudahlah Pak! Yang sabar saja. Mungkin itu belum rezeki kita”.
Kucari namaku diurutan nama yang berabjad D. Melansir satu persatu dari deretan nama-nama itu. Tapi sampai hampir habis urutan nama berawalan D, namaku belum juga muncul. Jantungku berpacu kencang dengan detakannya. Lemas lunglai sudah badanku. Harapan yang kubangun selama setahun ini kembali berujung pada sebuah pertanyaan “Harapan Itu Masihkah Ada?”.
Kali ini pun, seperti setahun yang lalu, aku pulang dengan hati remuk redam. Ingin rasanya segera sampai rumah dan menemui keramahan istriku yang cantik nan setia itu berucap menghiburku. Sungguh hanya itulah yang membuatku mampu yakin berdiri kembali dengan tegap dan berkata “Ya, harapan itu masih ada!”.
Sesampai di rumah….
“Bagaimana pak?” istriku bertanya tapi pertanyaan itu sungguh mengagetkanku karena tidak seperti biasanya istriku yang terlebih dahulu bertanya, bertanyanya langsung seperti itu lagi. Harapan membuncah yang telah kubangun bahwa nanti istriku mampu menyejukkanku, sirna sudah.
“Bagaimana sih pak, masa dari dulu nggak lolos-lolos!”
Bagai disambar petir di siang bolong perasaanku. Hancur berkeping-keping. Keputus asaan tertinggi telah menyergapku, dan kembali pertanyaan itu bergema “apakah harapan itu masih tetap ada?” dan aku langsung dengan tegar dan tegas menjawab “Sepertinya harapan itu sudah tidak ada”.
Purworejo, 14 Januari 2009
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Kamis, 2009 Januari 22
Sahara (Cerpen Anak Oleh Dede Awan Aprianto)
Cerpen Anak
Sahara
Oleh: Dede Awan Aprianto
Masih dengan sepatu di kakinya, Sahara melenggang masuk rumah dan sengaja menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tas sekolah dilemparkannya ke meja. Sejenak ia ingin melupakan keruwetan pikirannya dengan memejamkan mata dalam-dalam diselingi desahan nafas yang coba teratur. Tatapi sesak itu masih tetap ada. Kembali bayangan sahabatnya, Nita yang hari ini telah membuatnya jengkel bukan main.
"Eeeh…. Anak ibu ternyata sudah pulang? Tumben pulang-pulang kok mukanya cemberut. Habis dikerjain temanmu ya!" Ibu menghampiri Sahara dengan penuh tanda tanya. Jarang sekali anak perempuan satu-satunya ini cemberut jika tidak karena dikerjain teman sepermainannya yang nakal, Anton, tetangga sebelah rumah itu.
"Iya ma, Sahara lagi sebel, sebbell…!" Sahara makin memanyunkan bibirnya lebih maju.
"Memangnya Anton mengejekmu lagi, dengan sebutan nenek sihir itu" Ibu mencoba menerka suasana hati Sahara yang biasanya diganggu Anton dengan sebutan itu. Maklum saja, rambut sahara memang berwarna kemerahan, sehingga sebutan nenek sihir melekat pada gadis cilik berlesung pipit itu.
"Bukan Anton ma, tapi Nita, yang bertubuh gajah itu.." Sahara melepas ejekannya pada Nita yang memiliki tubuh subur alias gendut.
"Lho..lho..lho.. bukannya Nita itu sahabat baik kamu, teman sebangku kamu. Tidak baik berkata seperti itu. Ingat anak mama yang cantik ini bukan hanya cantik parasnya, tatapi harus cantik pula tutur katanya".
Sahara terdiam.
"Ayo lekas ganti baju, cuci tangan terus makan dulu. Ibu sudah siapkan ayam goreng kesukaanmu" Ibu berkata dengan penuh perhatian.
Ibu menyiapkan piring dan mengambilkan nasi hangat beserta lauknya. Pada saat seperti ini, Sahara memang harus diberi perhatian ekstra, maklum anak bungsu. Kalau tidak dilunakkan, bisa makin sewot dia.
Selesai makan, Ibu mengajak Sahara duduk di ruang keluarga, Ibu bertanya perihal sikapnya yang sewot hari ini.
"Masa’ Nita mengadukan aku pada pak guru kalau aku menyontek pekerjaannya dalam ulangan matematika. Aku kan malu disoraki semua teman di kelas" cerita Sahara pada Ibu.
"Tapi kamu benar-benar nggak menyontek kan!" Ibu meminta penjelasan.
Sahara diam, kembali diputarnya rekaman kejadian di memorinya. Siang hari yang terik, jam terakhir pelajaran, ulangan harian matematika. Dalam peristiwa itu, Sahara meminta jawaban soal ulangan pada Nita, teman sebangkunya. Tetapi Nita mendiamkan saja. Karena terus menerus didesak, akhirnya Nita jengkel, ia melapor pada pak guru bahwa Sahara mau menyontek pekerjaannya. Pak guru memperingatkan Sahara untuk tidak mencontek, tapi mengerjakan sendiri. Sementara kelasnya ramai dengan ulah teman-teman yang mengejeknya. Termasuk Anton.
"Eeh nenek sihir, lebih baik lekas keluarkan sapu ajaibmu dan terbang sejauh mungkin. Apa nggak malu ketahuan mencontek!"
Sadar dari lamunannya ketika pintu rumah diketuk, suara Nita mengucapkan salam. Nita memang bermaksud meminta maaf atas tindakannya mengadukan Sahara pada pak guru.
"Assalamu’alaikum..!"
"Waalaikum salam.." Ibu menimpali. Sementara Sahara ngeloyor masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putri bungsunya. Bergegas Ibu membukakan pintu dan menemui Nita.
"Ee.. Nita, ayo masuk" Ibu mempersilakan.
"Maaf tante, Saharanya ada?" Nita mengajukan pertanyaan.
"Ada. Ayo masuk dulu, ngobrolnya di dalam saja" Ibu kembali mempersilakan Nita masuk.
Nita masuk, duduk di kursi tamu. Sementara ibu menemui Sahara di depan pintu kamarnya.
"Sahara, ayo temui Nita, selesaikanlah masalahmu baik-baik. Jangan ngambek terus seperti ini" Ibu membujuk.
Sahara keluar dari kamarnya dengan wajah muram. Ditemuinya Nita yang telah menunggunya.
"Maafkan aku Sa.." Nita membuka pembicaraan. Tapi Sahara tetap diam.
Akhirnya Nita berpamitan pulang.
Malam itu, Sahara merenung sendiri atas tindakannya sepanjang hari ini. Akhirnya, terbersit juga penyesalan dalam dirinya. Mengapa juga ia harus marah pada Nita. Bukankah semua ini salahnya sendiri. Meminta jawaban ulangan kepada Nita kan itu berarti menyontek, padahal menyontek itu perbuatan salah. Sahara menyadari kesalahannya karena telah menyakiti Nita, sahabatnya sendiri.
Keesokan harinya di sekolah, Sahara tak sabar menunggu kehadiran Nita. Setelah lama menunggu, Nita baru terlihat saat bel tanda masuk dibunyikan. Sepertinya Nita sengaja masuk kelas menunggu bel berbunyi, ia takut menemui Sahara yang dikiranya masih marah kepadanya.
"Maafkan aku Nit!" Sahara membuka perbincangan.
"Kamu nggak marah sama aku?" Nita heran, padahal kemarin sore Sahara dilihatnya masih jengkel ketika dimintai maaf. Tapi hari ini, dari mulut Sahara sendiri meluncur permintaan maaf itu.
"Ya, nggak lah. Aku sendiri yang salah. Kamu mau memaafkan aku kan?" Sahara merajuk.
"Ya, aku juga minta maaf Sa" Nita menjawab dengan mata basah.
Akhirnya kedua sahabat itu berangkulan haru. Hampir saja persahabatan mereka retak karena masalah sepele. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan, barang siapa yang meminta maaf dan segera menyadari kesalahannya, di dunia ini tak ada lagi permusuhan.
"Eeh… nenek sihir dan gajah bongsor berpelukan, ikutan dong!" Anton mencoba nyerobot hendak merangkul kedua sahabat yang berpelukan itu. Tapi secepat kilat dihempaskannya tubuh Anton ke lantai. Anton terjatuh, tapi ia segera bangun karena pak guru telah masuk kelas untuk memulai pelajaran.
Sahara
Oleh: Dede Awan Aprianto
Masih dengan sepatu di kakinya, Sahara melenggang masuk rumah dan sengaja menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tas sekolah dilemparkannya ke meja. Sejenak ia ingin melupakan keruwetan pikirannya dengan memejamkan mata dalam-dalam diselingi desahan nafas yang coba teratur. Tatapi sesak itu masih tetap ada. Kembali bayangan sahabatnya, Nita yang hari ini telah membuatnya jengkel bukan main.
"Eeeh…. Anak ibu ternyata sudah pulang? Tumben pulang-pulang kok mukanya cemberut. Habis dikerjain temanmu ya!" Ibu menghampiri Sahara dengan penuh tanda tanya. Jarang sekali anak perempuan satu-satunya ini cemberut jika tidak karena dikerjain teman sepermainannya yang nakal, Anton, tetangga sebelah rumah itu.
"Iya ma, Sahara lagi sebel, sebbell…!" Sahara makin memanyunkan bibirnya lebih maju.
"Memangnya Anton mengejekmu lagi, dengan sebutan nenek sihir itu" Ibu mencoba menerka suasana hati Sahara yang biasanya diganggu Anton dengan sebutan itu. Maklum saja, rambut sahara memang berwarna kemerahan, sehingga sebutan nenek sihir melekat pada gadis cilik berlesung pipit itu.
"Bukan Anton ma, tapi Nita, yang bertubuh gajah itu.." Sahara melepas ejekannya pada Nita yang memiliki tubuh subur alias gendut.
"Lho..lho..lho.. bukannya Nita itu sahabat baik kamu, teman sebangku kamu. Tidak baik berkata seperti itu. Ingat anak mama yang cantik ini bukan hanya cantik parasnya, tatapi harus cantik pula tutur katanya".
Sahara terdiam.
"Ayo lekas ganti baju, cuci tangan terus makan dulu. Ibu sudah siapkan ayam goreng kesukaanmu" Ibu berkata dengan penuh perhatian.
Ibu menyiapkan piring dan mengambilkan nasi hangat beserta lauknya. Pada saat seperti ini, Sahara memang harus diberi perhatian ekstra, maklum anak bungsu. Kalau tidak dilunakkan, bisa makin sewot dia.
Selesai makan, Ibu mengajak Sahara duduk di ruang keluarga, Ibu bertanya perihal sikapnya yang sewot hari ini.
"Masa’ Nita mengadukan aku pada pak guru kalau aku menyontek pekerjaannya dalam ulangan matematika. Aku kan malu disoraki semua teman di kelas" cerita Sahara pada Ibu.
"Tapi kamu benar-benar nggak menyontek kan!" Ibu meminta penjelasan.
Sahara diam, kembali diputarnya rekaman kejadian di memorinya. Siang hari yang terik, jam terakhir pelajaran, ulangan harian matematika. Dalam peristiwa itu, Sahara meminta jawaban soal ulangan pada Nita, teman sebangkunya. Tetapi Nita mendiamkan saja. Karena terus menerus didesak, akhirnya Nita jengkel, ia melapor pada pak guru bahwa Sahara mau menyontek pekerjaannya. Pak guru memperingatkan Sahara untuk tidak mencontek, tapi mengerjakan sendiri. Sementara kelasnya ramai dengan ulah teman-teman yang mengejeknya. Termasuk Anton.
"Eeh nenek sihir, lebih baik lekas keluarkan sapu ajaibmu dan terbang sejauh mungkin. Apa nggak malu ketahuan mencontek!"
Sadar dari lamunannya ketika pintu rumah diketuk, suara Nita mengucapkan salam. Nita memang bermaksud meminta maaf atas tindakannya mengadukan Sahara pada pak guru.
"Assalamu’alaikum..!"
"Waalaikum salam.." Ibu menimpali. Sementara Sahara ngeloyor masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putri bungsunya. Bergegas Ibu membukakan pintu dan menemui Nita.
"Ee.. Nita, ayo masuk" Ibu mempersilakan.
"Maaf tante, Saharanya ada?" Nita mengajukan pertanyaan.
"Ada. Ayo masuk dulu, ngobrolnya di dalam saja" Ibu kembali mempersilakan Nita masuk.
Nita masuk, duduk di kursi tamu. Sementara ibu menemui Sahara di depan pintu kamarnya.
"Sahara, ayo temui Nita, selesaikanlah masalahmu baik-baik. Jangan ngambek terus seperti ini" Ibu membujuk.
Sahara keluar dari kamarnya dengan wajah muram. Ditemuinya Nita yang telah menunggunya.
"Maafkan aku Sa.." Nita membuka pembicaraan. Tapi Sahara tetap diam.
Akhirnya Nita berpamitan pulang.
Malam itu, Sahara merenung sendiri atas tindakannya sepanjang hari ini. Akhirnya, terbersit juga penyesalan dalam dirinya. Mengapa juga ia harus marah pada Nita. Bukankah semua ini salahnya sendiri. Meminta jawaban ulangan kepada Nita kan itu berarti menyontek, padahal menyontek itu perbuatan salah. Sahara menyadari kesalahannya karena telah menyakiti Nita, sahabatnya sendiri.
Keesokan harinya di sekolah, Sahara tak sabar menunggu kehadiran Nita. Setelah lama menunggu, Nita baru terlihat saat bel tanda masuk dibunyikan. Sepertinya Nita sengaja masuk kelas menunggu bel berbunyi, ia takut menemui Sahara yang dikiranya masih marah kepadanya.
"Maafkan aku Nit!" Sahara membuka perbincangan.
"Kamu nggak marah sama aku?" Nita heran, padahal kemarin sore Sahara dilihatnya masih jengkel ketika dimintai maaf. Tapi hari ini, dari mulut Sahara sendiri meluncur permintaan maaf itu.
"Ya, nggak lah. Aku sendiri yang salah. Kamu mau memaafkan aku kan?" Sahara merajuk.
"Ya, aku juga minta maaf Sa" Nita menjawab dengan mata basah.
Akhirnya kedua sahabat itu berangkulan haru. Hampir saja persahabatan mereka retak karena masalah sepele. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan, barang siapa yang meminta maaf dan segera menyadari kesalahannya, di dunia ini tak ada lagi permusuhan.
"Eeh… nenek sihir dan gajah bongsor berpelukan, ikutan dong!" Anton mencoba nyerobot hendak merangkul kedua sahabat yang berpelukan itu. Tapi secepat kilat dihempaskannya tubuh Anton ke lantai. Anton terjatuh, tapi ia segera bangun karena pak guru telah masuk kelas untuk memulai pelajaran.
Rabu, 2008 September 24
Kisah Guru dalam Novel Indonesia
Novel adalah cerita yang melukiskan sebagian hidup pelaku yang penting saja. Bahasanya sederhana atau bahasa sehari-hari dan bersifat realisme (nyata) atau naturalisme (alami). Penulis menemukan beberapa kisah guru dalamnovel atau novel yang bertema pendidikan yang menyangkut kisah tentang kehidupan guru. Setidaknya cuplikan novel ini menggambarkan keberadaan guru pada masanya, dan menjadi renungan untuk perjuangan guru dalam memajukan pendidikan.
Novel Kasih Ibu (1932) karya Paulus Supit terbitan Balai Pustaka mengisahkan Corrie yang berhasil menjadi guru yang diikuti pula oleh adik bubgsunya Rudolf. Melalui perjuangan dan kasih saying seorang ibu yang ingin anak-anaknya bersekolah dan sampai pada cita-cita yang diinginkannya. Mochtar Lubis dengan novel Jalan Tak Ada Ujung (1952) terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Isa, seorang guru sekolah rakyat di Tanah abang yang terlibat dalam pergolakan revolusi yang sedang terjadi.
Orang Buangan (1971) novel Harijadi S. Hartowardjojo terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Tantri, guru sekolah dasar di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyalit dan banyak yang meninggal. SangGuru (1973) masih terbitan Pustaka Jaya, novel karya GersonPoyk ini mengisahkan kehidupan guru di pulau Ternate pada masa pemberontakan Permesta.
Pustaka Jaya menerbitkan Pergolakan (1974) karya Wildan Yatim mengisahkan guru Abdul Salam yang juga mubaligh, seorang guru yang ditempattugaskan di sebuah desa yang dianggap menyimpang dalam menerapkan ajaran Islam. Novel ini juga menceritakan kegelisahan penduduk desa di pinggiran hutan sumatera akibat pemberontakan PRRI/Permesta dan juga terror dan intrik PKI.
Pertemuan Dua Hati (1986) karya Nh. Dini terbitan Gramedia mengisahkan Ibu Guru Suci, guru SD di Semarang dalam menghadapi Waskito, muridnya yang bandel, sementara di satu sisi anak kandungnya sendiri mengidap penyakit ayan yang memerlikan perawatan intensif. Novel ini juga memberikan gambaran bahwa murid yang nakal bila ditangani dengan pendekatan dan cara yang tepat akan kembali menjadi murid yang wajar tentunya dengan ekstra kesabaran seorang guru.
Lascar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata terbitan Bentang Pustaka mengisahkan Bapak Harfan dan Ibu Muslimah dalam mendidik anak SD Muhammadiyah di ppppPilau Belitong. Novel Best-seller ini juga menceritakan Ikal (Andrea Hirata, penulis novelnya) dalam menempuh pendidikan bersama teman-temannya.
Rumah Pelangi (2008) terbitan Arti Bumi Intaran karya Samsikin Abu Daldiri mengisahkan Bu Samsikin, seorang guru perempuan jawa di era 60-an.
Demikianlah beberapa kisah guru dalam novel Indonesia. Masih banyak lagi novel-novel tentang kisah guru yang penulis tidak ketahui. Tapi setidaknya dapat memberikan gambaran tentang perjuangan guru dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Novel Kasih Ibu (1932) karya Paulus Supit terbitan Balai Pustaka mengisahkan Corrie yang berhasil menjadi guru yang diikuti pula oleh adik bubgsunya Rudolf. Melalui perjuangan dan kasih saying seorang ibu yang ingin anak-anaknya bersekolah dan sampai pada cita-cita yang diinginkannya. Mochtar Lubis dengan novel Jalan Tak Ada Ujung (1952) terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Isa, seorang guru sekolah rakyat di Tanah abang yang terlibat dalam pergolakan revolusi yang sedang terjadi.
Orang Buangan (1971) novel Harijadi S. Hartowardjojo terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Tantri, guru sekolah dasar di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyalit dan banyak yang meninggal. SangGuru (1973) masih terbitan Pustaka Jaya, novel karya GersonPoyk ini mengisahkan kehidupan guru di pulau Ternate pada masa pemberontakan Permesta.
Pustaka Jaya menerbitkan Pergolakan (1974) karya Wildan Yatim mengisahkan guru Abdul Salam yang juga mubaligh, seorang guru yang ditempattugaskan di sebuah desa yang dianggap menyimpang dalam menerapkan ajaran Islam. Novel ini juga menceritakan kegelisahan penduduk desa di pinggiran hutan sumatera akibat pemberontakan PRRI/Permesta dan juga terror dan intrik PKI.
Pertemuan Dua Hati (1986) karya Nh. Dini terbitan Gramedia mengisahkan Ibu Guru Suci, guru SD di Semarang dalam menghadapi Waskito, muridnya yang bandel, sementara di satu sisi anak kandungnya sendiri mengidap penyakit ayan yang memerlikan perawatan intensif. Novel ini juga memberikan gambaran bahwa murid yang nakal bila ditangani dengan pendekatan dan cara yang tepat akan kembali menjadi murid yang wajar tentunya dengan ekstra kesabaran seorang guru.
Lascar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata terbitan Bentang Pustaka mengisahkan Bapak Harfan dan Ibu Muslimah dalam mendidik anak SD Muhammadiyah di ppppPilau Belitong. Novel Best-seller ini juga menceritakan Ikal (Andrea Hirata, penulis novelnya) dalam menempuh pendidikan bersama teman-temannya.
Rumah Pelangi (2008) terbitan Arti Bumi Intaran karya Samsikin Abu Daldiri mengisahkan Bu Samsikin, seorang guru perempuan jawa di era 60-an.
Demikianlah beberapa kisah guru dalam novel Indonesia. Masih banyak lagi novel-novel tentang kisah guru yang penulis tidak ketahui. Tapi setidaknya dapat memberikan gambaran tentang perjuangan guru dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Kamis, 2008 September 04
Hentikan Kekerasan Pada Anak Didik!
Guru adalah orang tua di sekolah. Pendapat ini sering disalahartikan oleh para orang tua siswa bahwa segala hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan anak-anaknya adalah tanggung jawab guru. Padahal guru hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Orang tua di rumah menghadapi tingkah satu anak saja sudah dibuat repot. Apalagi kalau ada puluhan anak di kelas dengan segala tingkahnya, apa tidak semakin repot?.
Peringatan dan hukuman sering dilakukan kepada anak didik yang dianggap nakal dengan tujuan untuk memberikan efek jera kepada anak didik agar perbuatan itu tidak akan dilakukan lagi. Peringatan bias dilakukan dengan ucapan (bahkan bentakan) sedangkan hukuman misalnya menyuruh anak berdiri di depan kelas, lari keliling lapangan, dikeluarkan dari dalam kelas, atau mungkin dengan jeweran di telinga.
Tapi hati-hati, hukuman yang kita lakukan yang awal mulanya bertujuan baik, bias kebablasan dan berakibat fatal sehingga menjadi bahan konsumsi media seperti berikut:
Dua siswa sekolah dianiaya guru, korban mengalami luka memar di bagian punggung akibat dipukul sang guru menggunakan kayu (okezone.com 22/04/2008). 41 siswa dianiaya guru, seluruh siswa dibariskan di depan kelas, dan dengan dengan sekuat tenaga memukuli siswa yang sebagian besarnya wanita dengan menggunakan ikat pinggang (sijomandiri.net 07/06/2008). Karena salah menghitung saat melemparkan bola basket kepada temannya, seorang siswa harus rela menerima pukulan dan tendangan dari gurunya (liputan6.com 09/05/2007). Seorang siswa dianiaya di ruang kelas saat istirahat karena siswa lain dibuatnya menangis dan tanpa permisi sang guru langsung melayangkan lengan kanannya ke pipi siswa dengan cara menahan pipi kirinya dengan tangan kiri (rakyatmerdeka.co.id 30/01/2007). Siswa tidak kerjakan PR dianiaya guru (antara.co.id 02/05/2007). Siswa geger otak karena dianiaya guru (detiknews.com 07/06/2008).
Menurut Blask (1951), kekerasan adalah pemakaian kekuatan yang tidak adil dan tidak dapat dibenarkan yang disertai dengan emosi yang hebat, atau kemarahan yang tak terkendali, tiba-tiba, bertenaga, kasar dan menghina.
Menurut KUHP pasal 29, melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil atau sekuat mungkin, secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dan sebagainya sehingga orang yang terkena tindakan itu merasa sakit yang sangat.
Hukuman fisik biasanya dijalankan oleh guru dibawah kondisi tekanan emosional yang dipicu oleh perilaku murid. Untuk menghindari kekerasan pada anak didik, guru harus memahami psikologi anak yang menyangkut perkembangan anak serta dinamika kejiwaan secara umum. Dengan pendekatan psikologi, diharapkan guru dapat menemukan cara yang lebih efektif dan sehat untuk menghadapi anak didik.
Undang-undang no 23/2002 tentang perlindungan anak, juga menegaskan partisipasi anak yang berbunyi "Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatuhan".
Anak di kelas diberi cap nakal, betulkah ia seorang yang nakal? Apa yang kita lihat nakal? Mungkin dibalik itu ada sesuatu yang kita tidak pahami. Oleh karena itu, sangat arif jika seorang guru lebih dahulu memahami mengapa seorang siswa berperilaku seperti itu.
Penelitian UNICEF 2006 di tiga daerah yaitu Jateng, Sumsel, dan Sumut, tercatat sekitar 80% tindak kekerasan yang dilakukan sejumlah guru terhadap anak didik mereka di sekolah.
Menurut Abd Assegaf (2004), factor kekerasan internal di lingkungan pendidikan sekolah sangat memeberikan pengaruh langsung pada perilaku siswa.
Guru sebagai sebuah profesi harus dapat mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Guru harus tampil sebagai sosok yang disegani, bukan ditakuti. Membimbing anak didik dengan sabar karena kemampuan dan pertumbuhan intelektual setiap anak berbeda-beda. Menurut Fathor Rahman MD (2008), kemampuan mendidik dengan cara yang halus dan edukatif juga merupakan profesionalitas yang jauh lebih berharga daripada kemapanan sisis intelektualnya. Oleh karena itu, penting ditanamkan sebuah pemahaman bahwa tugas guru sejatinya tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik.
Guru jangan pernah berhenti memberikan pengabdian yang terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, agar tercipta generasi muda Indonesia yang unggul dalam prestasi dan berbudi pekerti terpuji.
PENULIS:
Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Alamat rumah: Dadirejo 01/04, Bagelen, Purworejo 54174 (Hp.081328835359)
Email:dedeawanap@yahoo.co.id
Peringatan dan hukuman sering dilakukan kepada anak didik yang dianggap nakal dengan tujuan untuk memberikan efek jera kepada anak didik agar perbuatan itu tidak akan dilakukan lagi. Peringatan bias dilakukan dengan ucapan (bahkan bentakan) sedangkan hukuman misalnya menyuruh anak berdiri di depan kelas, lari keliling lapangan, dikeluarkan dari dalam kelas, atau mungkin dengan jeweran di telinga.
Tapi hati-hati, hukuman yang kita lakukan yang awal mulanya bertujuan baik, bias kebablasan dan berakibat fatal sehingga menjadi bahan konsumsi media seperti berikut:
Dua siswa sekolah dianiaya guru, korban mengalami luka memar di bagian punggung akibat dipukul sang guru menggunakan kayu (okezone.com 22/04/2008). 41 siswa dianiaya guru, seluruh siswa dibariskan di depan kelas, dan dengan dengan sekuat tenaga memukuli siswa yang sebagian besarnya wanita dengan menggunakan ikat pinggang (sijomandiri.net 07/06/2008). Karena salah menghitung saat melemparkan bola basket kepada temannya, seorang siswa harus rela menerima pukulan dan tendangan dari gurunya (liputan6.com 09/05/2007). Seorang siswa dianiaya di ruang kelas saat istirahat karena siswa lain dibuatnya menangis dan tanpa permisi sang guru langsung melayangkan lengan kanannya ke pipi siswa dengan cara menahan pipi kirinya dengan tangan kiri (rakyatmerdeka.co.id 30/01/2007). Siswa tidak kerjakan PR dianiaya guru (antara.co.id 02/05/2007). Siswa geger otak karena dianiaya guru (detiknews.com 07/06/2008).
Menurut Blask (1951), kekerasan adalah pemakaian kekuatan yang tidak adil dan tidak dapat dibenarkan yang disertai dengan emosi yang hebat, atau kemarahan yang tak terkendali, tiba-tiba, bertenaga, kasar dan menghina.
Menurut KUHP pasal 29, melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil atau sekuat mungkin, secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dan sebagainya sehingga orang yang terkena tindakan itu merasa sakit yang sangat.
Hukuman fisik biasanya dijalankan oleh guru dibawah kondisi tekanan emosional yang dipicu oleh perilaku murid. Untuk menghindari kekerasan pada anak didik, guru harus memahami psikologi anak yang menyangkut perkembangan anak serta dinamika kejiwaan secara umum. Dengan pendekatan psikologi, diharapkan guru dapat menemukan cara yang lebih efektif dan sehat untuk menghadapi anak didik.
Undang-undang no 23/2002 tentang perlindungan anak, juga menegaskan partisipasi anak yang berbunyi "Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatuhan".
Anak di kelas diberi cap nakal, betulkah ia seorang yang nakal? Apa yang kita lihat nakal? Mungkin dibalik itu ada sesuatu yang kita tidak pahami. Oleh karena itu, sangat arif jika seorang guru lebih dahulu memahami mengapa seorang siswa berperilaku seperti itu.
Penelitian UNICEF 2006 di tiga daerah yaitu Jateng, Sumsel, dan Sumut, tercatat sekitar 80% tindak kekerasan yang dilakukan sejumlah guru terhadap anak didik mereka di sekolah.
Menurut Abd Assegaf (2004), factor kekerasan internal di lingkungan pendidikan sekolah sangat memeberikan pengaruh langsung pada perilaku siswa.
Guru sebagai sebuah profesi harus dapat mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Guru harus tampil sebagai sosok yang disegani, bukan ditakuti. Membimbing anak didik dengan sabar karena kemampuan dan pertumbuhan intelektual setiap anak berbeda-beda. Menurut Fathor Rahman MD (2008), kemampuan mendidik dengan cara yang halus dan edukatif juga merupakan profesionalitas yang jauh lebih berharga daripada kemapanan sisis intelektualnya. Oleh karena itu, penting ditanamkan sebuah pemahaman bahwa tugas guru sejatinya tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik.
Guru jangan pernah berhenti memberikan pengabdian yang terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, agar tercipta generasi muda Indonesia yang unggul dalam prestasi dan berbudi pekerti terpuji.
PENULIS:
Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Alamat rumah: Dadirejo 01/04, Bagelen, Purworejo 54174 (Hp.081328835359)
Email:dedeawanap@yahoo.co.id
Langgan:
Entri (Atom)
