<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110</id><updated>2011-07-08T08:24:12.783-07:00</updated><category term='Artikel Cinta'/><category term='Pendidikan'/><category term='kekerasan'/><category term='Artikel Pendidikan'/><category term='Cerpen'/><category term='Tulisan Lepas'/><category term='Pakem'/><category term='Kbm'/><category term='sastra'/><title type='text'>dedeawan</title><subtitle type='html'>hanya orang biasa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-9027815742716054738</id><published>2009-06-19T02:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T02:13:27.828-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Lepas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Cinta'/><title type='text'>Malam Pertama</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Malam Pertama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari yang berbahagia bagiku dimana saat itu telah kuucapkan ikrar pernikahan di depan penghulu. Runtuh sudah segala pertanyaanku tentang siapa wanita yang mendampingiku. Hilang sudah keraguanku akan ketidakmampuanku memikat dan mengikat wanita, meski untuk itu, kutaruh segala keangkuhanku dan egoismeku demi menyatukan dua hati yang benar-benar berbeda menjadi satu, untuk hari ini, esok, hingga ajal memisahkan kita.&lt;br /&gt;Dan di sini, di kamar pengantin ini, hanya kita berdua, melewati surga dunia yang mungkin kita merasa, inilah saatnya kita memasrahkan diri kita sepenuhnya dan seutuhnya untuk orang yang kita cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tanpa kata romantis yang terucap, meski tanpa bujuk rayu pujangga yang bergelora, tetapi karena niat kita, niatku dan niatmu yang satu, mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga demi menyempurnakan separuh iman kita, karena kita merasa bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan untuk sama-sama meniti jalan yang diridhoi dan merupakan sarana bagi mereka yang takut akan terjerumus dosa karena memperturutkan nafsu birahi.&lt;br /&gt;Kutatap matamu yang sendu, kaupun menunduk malu. Kusibak lembut rambutmu, kau makin tersipu. Ketika bibir ini melekat di bibirmu, kurasakan getaran dahsyat di sekujur tubuhku. Dan secepat itu kaupun meronta melepaskan pelukanku serta mendorong tubuhku.  Entah kenapa, aku heran sekali melihat butiran keringat di keningmu, aku bertanya dalam hatiku, salahkah aku?, kurasa tidak!, kau sudah halal bagiku. Aku lalu bertanya dalam benakku, terlalu bernafsukah aku. Ya, aku menemukan jawabannya. Sungguh merasa bersalah aku karena memperturutkan keinginanku yang mungkin kau belum siap untuk itu. Untuk melewati malam ini dengan syahdu, dengan disaksikan berjuta bintang di langit dan beribu kesenyapan yang menelisik malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam kedua, kembali aku menerka suasana hatimu. Apakah gerangan yang ada dalam pikiranmu. Mengapa setiap kita berdua, kau belum bisa menerima kehadiranku di sisimu. Apa aku tak pantas bagimu, apa aku kurang romantis, tak bisa berkata-kata bujuk rayu yang menyunggingkan senyum di bibirmu, merekahkan kebahagiaan di sudut kalbumu.&lt;br /&gt;Ya Allah. Bila dia belum bisa menerimaku sepenuhnya, maka aku memohon agar dibukakan seluasnya sarana meluluhkan hatinya. Jika aku tak pandai berbujuk rayu, maka jadikan aku pujanga yang melantunkan bait-bait cinta untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku himpun keberanianku untuk bertanya.&lt;br /&gt;“Dik…”&lt;br /&gt;Kutatap pula wajahmu, kau malah makin menundukkan kepalamu.&lt;br /&gt;“Dik...”&lt;br /&gt;Belum selesai aku meneruskan pertanyaanku, kau malah terisak dengan menahan tangismu.&lt;br /&gt;“Mas..” ucapmu kemudian, dilanjutkan dengan isaknya lagi.&lt;br /&gt;“Maafkan aku.&lt;br /&gt;Aku belum bisa menerimamu sepenuhnya di hatiku.&lt;br /&gt;Aku merasa belum mengenalmu, bahkan sebelumnya saja tak pernah kita berbicara bedua dari hati ke hati.&lt;br /&gt;Kau tak pernah tahu perasaanku.&lt;br /&gt;Kau terlalu berani memintaku dari orang tuaku.&lt;br /&gt;Kau tentu tahu, tak mungkin aku bertentangan dengan ibu dan bapakku” begitu katanya, kemudian dia diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak karuan perasaanku, beginikah zaman telah merubah dunia, dimana dia merasa perlunya saling mengenal (lebih jauh) dahulu sebelum mereka siap untuk disandingkan dengan seorang pria. Aku terdiam membisu. Kuayunkan langkah kakiku untuk menghirup udara segar sebentar, kemudian setelah beberapa jenak, aku kembali, tidur.&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya kulalui seperti layaknya suami istri. Kupimpin salat berjamaah dimana istriku sebagai makmumnya. Diciumnya tanganku setelah kami selesai bersembahyang itu, kemudian kami larut dalam doa kami masing-masing. Doaku tentu saja agar tumbuh rasa cinta dihatinya, untuk menerimaku sebagai suaminya, orang yang paling bertanggung jawab atas dirinya, dan yang paling berhak atas segala apapun yang ia punya.&lt;br /&gt;Beberapa malam berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas..” bisikmu kemudian di telingaku.&lt;br /&gt;“ Ada apa dik” tanyaku.&lt;br /&gt;“Aku……….”&lt;br /&gt;Kau tersipu, senyum-senyum malu.&lt;br /&gt;“Apa!” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai keherananku, bibirmu mengatup menutup bibirku. Matamu terpejam dan setelah itu aku berbalik menguasaimu. Ada kekuatan diriku untuk meneruskan apa yang baru kau mulai. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, telah Engkau bukakan hatinya untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dede Awan Aprianto&lt;br /&gt;Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-9027815742716054738?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/9027815742716054738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=9027815742716054738' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/9027815742716054738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/9027815742716054738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2009/06/malam-pertama.html' title='Malam Pertama'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-2133766398291717299</id><published>2009-06-19T02:08:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T02:10:49.976-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Lepas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Antara Karma dan Sariawan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Antara Karma dan Sariawan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Percayakah anda dengan karma? Jika anda bukan termasuk orang yang percaya dengan karma, maka mulai sekarang, saatnyalah anda untuk percaya karma itu.&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu saya menggertak anak didik saya dengan kata- kata yang pedas dan saya bisa pastikan: menyakitkan. Kenapa saya bisa bilang begitu, bacalah tulisan ini sampai selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karma bukanlah kurma, makanan khas yang tumbuh di daerah padang pasir itu, kondang sebagai oleh-oleh haji. Meski belinya tidak dari arab langsung, tapi setiap yang menyajikan orang yang pulang dari haji, maka setiap yang bertandang pasti ingin menyantap kurma dan air zam-zam itu (bisa dipastikan air zam-zamnya juga tidak semuanya zam-zam, maklum setiap jemaah haji pasti dibatasi berapa dirigen dia boleh membawa. Sementara ketika tiba di tanah air, berapa banyak warga yang ingin meraskan air zam-zam itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan ke sana arah pembicaraan kita. Tapi yang namanya manusia. Suka bicara ngalor ngidul, yang kurang ditambah-tambahi, yang pedas jadi semakin pedas. Kembali ke laptop kata tukul, ya karma, kata yang tersusun dari lima huruf itu yang akan kita bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu ketika saya mengajar di depan murid-murid saya, ketika saya menerangkan, mereka mengobrol sendiri. Sontak saya pun marah, merasa tidak diperhatikan, merasa sia-sia diri ini dengan lantangnya menjelaskan materi pelajaran, sementara untuk ngomong saja mulut ini menahan kelu karena sariawan di bibir yang makin menjadi, asem kecut lah bisa dibilang mulut ini. Sariawan, benar benar menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimanakah karma itu? Sabar saudara- saudara, orang sabar disayang Tuhan.&lt;br /&gt;Ketika saya mengikuti kuliah, (maklum kata pak guru saya yang sudah tua, guru muda harus sekolah, biar nanti bisa untuk surtifikasi katanya). Entah kenapa mungkin karena kebiasaan mengutak-atik handphone, pada waktu itu saya ketahuan sedang bermain hp. Maka sontaklah sang dosen pun menegur, lebih tepatnya marah, karena merasa beliau sedang berbicara (mungkin sambil menahan sariawan di bibir juga) tapi mahasiswanya tak mendengarkan beliau, mengacuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau selesai melampiaskan kemarahannya, saya pun diam beribu bahasa. Teman-teman saya pun bilang, sudah jangan terlalu dipikirkan. Mungkin mereka kasihan melihat saya yang seketika merasa bersalah. Tampang saya waktu itu memang bisa dibilang, layak untuk dikasihani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebenarnya bukan karena beliau marah itu saya diam. Tapi saya memikirkan perasaan anak didik saya yang beberapa hari yang lalu saya marahi justru bukan karena kesalahan mereka, tapi karena sariawan. Tapi kalau beliau yang barusan marah, ya saya terima. Karena itu memang kesalahan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  beberapa hikmah yang saya petik dari kejadian itu. Pertama, karma itu berlaku. Tidak menunggu bulan atau tahun, hanya keletan (basa jawa) beberapa hari saja, langsung berbalik. Kedua, dimarahi memang menyakitkan. Ketiga, orang marah itu sebenarnya seperti mengeluarkan sifatnya yang sebenarnya, berkuranglah wibawanya. Keempat, kalau pikiran sedang sariawan, janganlah sariawan ini dibawa-bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dede Awan Aprianto&lt;br /&gt;Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-2133766398291717299?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/2133766398291717299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=2133766398291717299' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/2133766398291717299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/2133766398291717299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2009/06/antara-karma-dan-sariawan.html' title='Antara Karma dan Sariawan'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-6217011158672853187</id><published>2009-04-19T00:27:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T00:29:27.658-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kekerasan'/><title type='text'>Kekerasan Pelajar Putri, Potret Buram Pendidikan Keluarga</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kekerasan Pelajar Putri, Potret Buram Pendidikan Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini marak terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sesama pelajar. Parahnya, tindak kekerasan ini banyak yang diabadikan dalam rekaman video handphone, tekhnologi yang bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, termasuk pelajar. Lebih parahnya lagi, kekerasan pelajar tersebut tidak hanya terjadi pada pelajar putra saja, tetapi juga pelajar putri.&lt;br /&gt;Masyarakat kita sepertinya sudah biasa disuguhi adegan-adegan yang direkam dengan video handphone. Mulai dari video mesum yang dilakukan oleh publik figur, video adegan panas  yang dilakukan oleh pelajar, video kekerasan yang dilakukan guru terhadap murid, video perpeloncoan senior terhadap yuniornya, dan video-video yang lain dengan judul dan berita yang lebih memukau. Rekaman video tersebut dengan mudahnya tersebar lewat kecanggihan tekhnologi informasi dan komunikasi saat ini.&lt;br /&gt;Tapi yang membuat saya tidak habis pikir adalah kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri yang dalam tayangan videonya tampak dilihat oleh banyak orang, ditonton, atau lebih tepatnya disemangati oleh yang menonton ibarat menyaksikan pertandingan tinju saja. Perempuan sosok yang anggun itu, tampaknya telah berubah paradigmanya menjadi perempuan petarung yang handal. Sungguh sebuah ironi.&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan, dimana sebenarnya kontrol pihak sekolah dalam memantau siswanya?, mengingat kejadian itu dilakukan oleh pelajar, masih berseragam pula. Ada yang bertanya, dimana peran keluarga dalam memberikan pendidikan kepada putra-putrinya?. Menurut saya, kekerasan pelajar sebenarnya merupakan hal yang sering terjadi di kalangan pelajar. Kita mengenal istilah bullying. Hanya saja mungkin dulu tidak direkam dalam handphone, sehingga tidak semua orang bisa menyaksikan hal itu.&lt;br /&gt;Kegagalan Pendidikan dalam Keluarga&lt;br /&gt;Kekerasan atau perkelahian yang dilakukan oleh pelajar putri sebenarnya merupakan sebuah indikasi yang menandakan bahwa telah rusaknya tatanan dalam masyarakat, runtuhnya budaya malu, hilangnya tenggang rasa dan kekeluargaan, musnahnya kesabaran yang dilandasi kasih sayang, dan kegagalan pendidikan dalam keluarga.&lt;br /&gt;Pendidikan keluarga adalah proses transformasi perilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat, sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama  dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.&lt;br /&gt;Secara tersirat dipahami bahwa bahwa tujan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Memperhatikan tujuan tersebut maka pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya. Adapun isi pendidikan dalam keluarga biasanya, meliputi nilai agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan (Dinn Wahyudin, 2008).&lt;br /&gt;Tidak ada kontrol dari keluarga, khususnya para orang tua yang tidak sempat lagi memberikan pendidikan dalam keluarga karena lebih sibuk dengan memenuhi ekonomi keluarga, telah membuat pelajar kita tidak memiliki kontrol diri dalam pergaulannya. Sehingga perkelahian pun marak terjadi karena mereka tidak memiliki sikap sabar dan sikap saling menghargai. Tayangan televisi bisa dikatakan menjadi penyebab merosotnya moral pelajar kita. Misalkan ada sebuah tayangan sinetron mengisahkan pelajar remaja yang berseteru hingga berusaha untuk melukainya. Peristiwa semacam ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kepribadian anak.&lt;br /&gt;Pembentukan Kepribadian Anak&lt;br /&gt;Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan oleh orang tua yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, sopan santun, etika, agar anak menjadi lebih siap untuk berperilaku baik dalam kehidupan masyarakat dan menghormati orang lain. Jika setiap keluarga menanamkan nilai-nilai etika yang benar maka semua manusia akan hidup berdampingan dan damai.&lt;br /&gt;Sebagai orang tua, marilah kita pantau anak-anak kita agar terhindar dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh temannya atau melakukan kekerasan terhadap temannya. Walau bagaimanapun, anak tetaplah sosok yang mudah kita nasehati apabila kitapun memberikan contoh yang baik buat mereka. Pendidikan dalam keluarga sangatlah penting dan utama dalam keseluruhan proses pendidikan anak. Bila memiliki anak perempuan, didiklah mereka agar sadar akan posisi keperempuanannya. Tidak baik jika sampai dilihat orang kalau ada anak perempuan yang berkelahi.&lt;br /&gt;Dede Awan Aprianto, A.Ma.&lt;br /&gt;Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-6217011158672853187?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/6217011158672853187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=6217011158672853187' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/6217011158672853187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/6217011158672853187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2009/04/kekerasan-pelajar-putri-potret-buram.html' title='Kekerasan Pelajar Putri, Potret Buram Pendidikan Keluarga'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-7588005952258861021</id><published>2009-04-19T00:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-19T00:20:58.557-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Harapan Itu Masihkah Ada?</title><content type='html'>FIKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Harapan Itu Masihkah Ada?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Dede Awan Aprianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahku tergesa-gesa kemudian ikut berjejalan dengan orang-orang yang bergerombol melihat daftar pengumuman yang lolos seleksi CPNS. Beragam raut muka mereka. Dari yang datar-datar saja, bersujud syukur menekuri hamparan tanah, tertawa menertawakan nasib, atau diam tanpa ekspresi dan susah ditebak, seakan menyimpan beban yang tak tertanggungkan. Dan ekpresiku datar-datar saja. Bagiku ini bukan yang pertama kali ini saja, sudah yang kesekian kalinya, dan kesekian kali ini pula sama saja, nihil, tak ada hasil. Bergemuruh harapan yang sedari rumah bergema, luntur seketika. Kali ini pun aku pulang dengan perasaan hampa.&lt;br /&gt;Setibanya di rumah, kutatap istriku tercinta yang baru saja menyajikan segelas air putih ke hadapanku. Kuminum berteguk dengan takzim, berucap syukur karena dahaga terpuaskan. Segelas air telah mampu menyiramkan kesegaran setelah hari yang melelahkan. Apalagi air itu disuguhkan oleh istri tercinta dengan kesetiaannya serta kepatuhannya berbakti pada suami. Sebuah anugerah yang tak terperikan.&lt;br /&gt;“Bu..!” aku menyapa istriku yang masih sibuk menyusui anak kedua kami yang baru beberapa bulan itu.&lt;br /&gt;Istriku menoleh, menghampiriku “Ada apa pak!”&lt;br /&gt;“Namaku tidak ada dalam daftar pengumuman itu” sahutku.&lt;br /&gt;“Lalu!..” tanggapannya datar.&lt;br /&gt;“Ya itu artinya aku tidak diterima dalam seleksi itu!” jawabku.&lt;br /&gt;“Sudahlah Pak! Yang sabar saja. Mungkin itu belum rezeki kita” nasihat istriku menyejukkanku.&lt;br /&gt;Sungguh Tuhan masih memberikanku keberuntungan yang lain. Seorang istri yang setia dan selalu menemani dalam suka, apalagi dukanya, lebih banyak. Masih terucap pujian syukur dimulutku yang kelu dan dalam hati kuucapkan doa mudah-mudahan disediakannya kelak kebahagiaan bagi istri yang setia seperti istriku.&lt;br /&gt;“Bu..!” sapaku.&lt;br /&gt;“Ya Pak”&lt;br /&gt;“Masih cukupkah persediaan beras kita sampai akhir bulan ini?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Maaf pak, sudah habis!” istriku menundukkan kepalanya, tak tega melihat raut wajahku yang berpikir.&lt;br /&gt;Aku beranjak dari tempatku duduk, menuju tempat berwudhu untuk memberikan kesejukan pada hatiku. Kemudian kugelar sajadah memanjatkan doa memohon kepada Yang Maha Kuasa dan berserah diri pada-Nya.&lt;br /&gt;“Mbok Yem berkeberatan jika kita mengutang di warungnya lagi” lapor istriku.&lt;br /&gt;“Pak, si sulung tadi merengek minta dibelikan sepatu baru!” kata istriku lagi.&lt;br /&gt;Kasihan istriku dan anak-anakku. Mereka harus menjalani kehidupanku yang serba berkekurangan ini dari pekerjaanku sebagai guru wiyata bakti, guru honor, yang selalu tabah dengan diselimuti harapan.&lt;br /&gt;Nasib manusia memang tak ada yang menduga. Aku terkadang iri pada temanku yang masih muda itu. Baru saja dia lulus tahun ini, beberapa bulan yang lalu, tetapi sekarang dia sudah menjadi guru CPNS melalui tes jalur umumnya. Sedangkan aku, sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu lulus SPG, masih saja belum berubah statusnya, guru honor. Berkali-kali kuikuti tes seleksi masuk CPNS, belum ada yang lolos, belum, ya belum, mungkin tidak sama sekali, entahlah.&lt;br /&gt;Matahari pagi masih sama sinarnya seperti pagi-pagi sebelumnya. Bagiku kehangatannya belum mampu menghangatkan jiwaku yang sedang gundah. Dengan pertanyaan yang selalu berkelebat dalam pikiranku, apakah harapan itu masih tetap ada?&lt;br /&gt;Dengan langkah gontai aku menuju sekolah tempatku mengajar. Kupasang senyum ramah menyambut anak didikku yang berbaris rapi menyalamiku. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku karena merasa dirindu, dinanti, dan dibutuhkan.&lt;br /&gt;Setahun kemudian…..&lt;br /&gt;Kembali aku bergegas mengerumuni papan pengumuman itu. Harapan itu sepertinya masih tetap ada. Kali ini pun aku berharap tidak terlalu muluk. Tapi andaikata pun tidak ada lagi, istriku pasti hanya akan berkata, “Sudahlah Pak! Yang sabar saja. Mungkin itu belum rezeki kita”.&lt;br /&gt;Kucari namaku diurutan nama yang berabjad D. Melansir satu persatu dari deretan nama-nama itu. Tapi sampai hampir habis urutan nama berawalan D, namaku belum juga muncul. Jantungku berpacu kencang dengan detakannya. Lemas lunglai sudah badanku. Harapan yang kubangun selama setahun ini kembali berujung pada sebuah pertanyaan “Harapan Itu Masihkah Ada?”.&lt;br /&gt;Kali ini pun, seperti setahun yang lalu, aku pulang dengan hati remuk redam. Ingin rasanya segera sampai rumah dan menemui keramahan istriku yang cantik nan setia itu berucap menghiburku. Sungguh hanya itulah yang membuatku mampu yakin berdiri kembali dengan tegap dan berkata “Ya, harapan itu masih ada!”.&lt;br /&gt;Sesampai di rumah….&lt;br /&gt;“Bagaimana pak?” istriku bertanya tapi pertanyaan itu sungguh mengagetkanku karena tidak seperti biasanya istriku yang terlebih dahulu bertanya, bertanyanya langsung seperti itu lagi. Harapan membuncah yang telah kubangun bahwa nanti istriku mampu menyejukkanku, sirna sudah.&lt;br /&gt;“Bagaimana sih pak, masa dari dulu nggak lolos-lolos!”&lt;br /&gt;Bagai disambar petir di siang bolong perasaanku. Hancur berkeping-keping. Keputus asaan tertinggi telah menyergapku, dan kembali pertanyaan itu bergema “apakah harapan itu masih tetap ada?” dan aku langsung dengan tegar dan tegas menjawab “Sepertinya harapan itu sudah tidak ada”.&lt;br /&gt;Purworejo, 14 Januari 2009&lt;br /&gt;Dede Awan Aprianto&lt;br /&gt;Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-7588005952258861021?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/7588005952258861021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=7588005952258861021' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/7588005952258861021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/7588005952258861021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2009/04/harapan-itu-masihkah-ada.html' title='Harapan Itu Masihkah Ada?'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-8941283361766695400</id><published>2008-09-24T02:04:00.000-07:00</published><updated>2008-09-24T02:06:19.706-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kisah Guru dalam Novel Indonesia</title><content type='html'>Novel adalah cerita yang melukiskan sebagian hidup pelaku yang penting saja. Bahasanya sederhana atau bahasa sehari-hari dan bersifat realisme (nyata) atau naturalisme (alami). Penulis menemukan beberapa kisah guru dalamnovel atau novel yang bertema pendidikan yang menyangkut kisah tentang kehidupan guru. Setidaknya cuplikan novel ini menggambarkan keberadaan guru pada masanya, dan menjadi renungan untuk perjuangan guru dalam memajukan pendidikan.&lt;br /&gt;Novel Kasih Ibu (1932) karya Paulus Supit terbitan Balai Pustaka mengisahkan Corrie yang berhasil menjadi guru yang diikuti pula oleh adik bubgsunya Rudolf. Melalui perjuangan dan kasih saying seorang ibu yang ingin anak-anaknya bersekolah dan sampai pada cita-cita yang diinginkannya. Mochtar Lubis dengan novel Jalan Tak Ada Ujung (1952) terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Isa, seorang guru sekolah rakyat di Tanah abang yang terlibat dalam pergolakan revolusi yang sedang terjadi.&lt;br /&gt;Orang Buangan (1971) novel Harijadi S. Hartowardjojo terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Tantri, guru sekolah dasar di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyalit dan banyak yang meninggal. SangGuru (1973) masih terbitan Pustaka Jaya, novel karya GersonPoyk ini mengisahkan kehidupan guru di pulau Ternate pada masa pemberontakan Permesta.&lt;br /&gt;Pustaka Jaya menerbitkan Pergolakan (1974) karya Wildan Yatim mengisahkan guru Abdul Salam yang juga mubaligh, seorang guru yang ditempattugaskan di sebuah desa yang dianggap menyimpang dalam menerapkan ajaran Islam. Novel ini juga menceritakan kegelisahan penduduk desa di pinggiran hutan sumatera akibat pemberontakan PRRI/Permesta dan juga terror dan intrik PKI.&lt;br /&gt;Pertemuan Dua Hati (1986) karya Nh. Dini terbitan Gramedia mengisahkan Ibu Guru Suci, guru SD di Semarang dalam menghadapi Waskito, muridnya yang bandel, sementara di satu sisi anak kandungnya sendiri mengidap penyakit ayan yang memerlikan perawatan intensif. Novel ini juga memberikan gambaran bahwa murid yang nakal bila ditangani dengan pendekatan dan cara yang tepat akan kembali menjadi murid yang wajar tentunya dengan ekstra kesabaran seorang guru.&lt;br /&gt;Lascar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata terbitan Bentang Pustaka mengisahkan Bapak Harfan dan Ibu Muslimah dalam mendidik anak SD Muhammadiyah di ppppPilau Belitong. Novel Best-seller ini juga menceritakan Ikal (Andrea Hirata, penulis novelnya) dalam menempuh pendidikan bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;Rumah Pelangi (2008) terbitan Arti Bumi Intaran karya Samsikin Abu Daldiri mengisahkan Bu Samsikin, seorang guru perempuan jawa di era 60-an.&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa kisah guru dalam novel Indonesia. Masih banyak lagi novel-novel tentang kisah guru yang penulis tidak ketahui. Tapi setidaknya dapat memberikan gambaran tentang perjuangan guru dalam dunia pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;Dede Awan Aprianto&lt;br /&gt;Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-8941283361766695400?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/8941283361766695400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=8941283361766695400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/8941283361766695400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/8941283361766695400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/09/kisah-guru-dalam-novel-indonesia.html' title='Kisah Guru dalam Novel Indonesia'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-210333761745066735</id><published>2008-09-04T23:57:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T23:59:36.648-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Hentikan Kekerasan Pada Anak Didik!</title><content type='html'>Guru adalah orang tua di sekolah. Pendapat ini sering disalahartikan oleh para orang tua siswa bahwa segala hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan anak-anaknya adalah tanggung jawab guru. Padahal guru hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Orang tua di rumah menghadapi tingkah satu anak saja sudah dibuat repot. Apalagi kalau ada puluhan anak di kelas dengan segala tingkahnya, apa tidak semakin repot?.&lt;br /&gt;Peringatan dan hukuman sering dilakukan kepada anak didik yang dianggap nakal dengan tujuan untuk memberikan efek jera kepada anak didik agar perbuatan itu tidak akan dilakukan lagi. Peringatan bias dilakukan dengan ucapan (bahkan bentakan) sedangkan hukuman misalnya menyuruh anak berdiri di depan kelas, lari keliling lapangan, dikeluarkan dari dalam kelas, atau mungkin dengan jeweran di telinga.&lt;br /&gt;Tapi hati-hati, hukuman yang kita lakukan yang awal mulanya bertujuan baik, bias kebablasan dan berakibat fatal sehingga menjadi bahan konsumsi media seperti berikut:&lt;br /&gt;Dua siswa sekolah dianiaya guru, korban mengalami luka memar di bagian punggung akibat dipukul sang guru menggunakan kayu (okezone.com 22/04/2008). 41 siswa dianiaya guru, seluruh siswa dibariskan di depan kelas, dan dengan dengan sekuat tenaga memukuli siswa yang sebagian besarnya wanita dengan menggunakan ikat pinggang (sijomandiri.net 07/06/2008). Karena salah menghitung saat melemparkan bola basket kepada temannya, seorang siswa harus rela menerima pukulan dan tendangan dari gurunya (liputan6.com 09/05/2007). Seorang siswa dianiaya di ruang kelas saat istirahat karena siswa lain dibuatnya menangis dan tanpa permisi sang guru langsung melayangkan lengan kanannya ke pipi siswa dengan cara menahan pipi kirinya dengan tangan kiri (rakyatmerdeka.co.id 30/01/2007). Siswa tidak kerjakan PR dianiaya guru (antara.co.id 02/05/2007). Siswa geger otak karena dianiaya guru (detiknews.com 07/06/2008).&lt;br /&gt;Menurut Blask (1951), kekerasan adalah pemakaian kekuatan yang tidak adil dan tidak dapat dibenarkan yang disertai dengan emosi yang hebat, atau kemarahan yang tak terkendali, tiba-tiba, bertenaga, kasar dan menghina.&lt;br /&gt;Menurut KUHP pasal 29, melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil atau sekuat mungkin, secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dan sebagainya sehingga orang yang terkena tindakan itu merasa sakit yang sangat.&lt;br /&gt;Hukuman fisik biasanya dijalankan oleh guru dibawah kondisi tekanan emosional yang dipicu oleh perilaku murid. Untuk menghindari kekerasan pada anak didik, guru harus memahami psikologi anak yang menyangkut perkembangan anak serta dinamika kejiwaan secara umum. Dengan pendekatan psikologi, diharapkan guru dapat menemukan cara yang lebih efektif dan sehat untuk menghadapi anak didik.&lt;br /&gt;Undang-undang no 23/2002 tentang perlindungan anak, juga menegaskan partisipasi anak yang berbunyi "Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatuhan".&lt;br /&gt;Anak di kelas diberi cap nakal, betulkah ia seorang yang nakal? Apa yang kita lihat nakal? Mungkin dibalik itu ada sesuatu yang kita tidak pahami. Oleh karena itu, sangat arif jika seorang guru lebih dahulu memahami mengapa seorang siswa berperilaku seperti itu.&lt;br /&gt;Penelitian UNICEF 2006 di tiga daerah yaitu Jateng, Sumsel, dan Sumut, tercatat sekitar 80% tindak kekerasan yang dilakukan sejumlah guru terhadap anak didik mereka di sekolah.&lt;br /&gt;Menurut Abd Assegaf (2004), factor kekerasan internal di lingkungan pendidikan sekolah sangat memeberikan pengaruh langsung pada perilaku siswa.&lt;br /&gt;Guru sebagai sebuah profesi harus dapat mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Guru harus tampil sebagai sosok yang disegani, bukan ditakuti. Membimbing anak didik dengan sabar karena kemampuan dan pertumbuhan intelektual setiap anak berbeda-beda. Menurut Fathor Rahman MD (2008), kemampuan mendidik dengan cara yang halus dan edukatif juga merupakan profesionalitas yang jauh lebih berharga daripada kemapanan sisis intelektualnya. Oleh karena itu, penting ditanamkan sebuah pemahaman bahwa tugas guru sejatinya tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik.&lt;br /&gt;Guru jangan pernah berhenti memberikan pengabdian yang terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, agar tercipta generasi muda Indonesia yang unggul dalam prestasi dan berbudi pekerti terpuji.&lt;br /&gt;PENULIS:&lt;br /&gt;Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.&lt;br /&gt;Alamat rumah: Dadirejo 01/04, Bagelen, Purworejo 54174 (Hp.081328835359)&lt;br /&gt;Email:dedeawanap@yahoo.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-210333761745066735?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/210333761745066735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=210333761745066735' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/210333761745066735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/210333761745066735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/09/hentikan-kekerasan-pada-anak-didik.html' title='Hentikan Kekerasan Pada Anak Didik!'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-1541362535689490702</id><published>2008-06-16T00:44:00.001-07:00</published><updated>2008-06-16T00:47:53.443-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kbm'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pakem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Permainan Lomba Cerdas Cermat, Pembelajaran Menyenangkan</title><content type='html'>Oleh Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu di TVRI pernah ditayangkan Lomba Cerdas Cermat baik itu untuk tingkat SD ataupun SMP. Saya pun membayangkan seandainya saya mengikuti lomba tersebut dan memenangkannya, alangkah bahagianya. Saying, harapan itu tidak pernah kesampain meskipun pernah diberi kesempatan, namun gagal di babak seleksi.&lt;br /&gt;Sekarang ini sudah jarang dijumpai acara televise yang bertemakan pendidikan seperti Lomba Cerdas Cermat karena acara televise saat ini lebih bersifat komersil dan bersifat hiburan semata serta mengenyampingkan acara yang bernilai.&lt;br /&gt;Sebagai serang guru, kita pernah mendapaykan materi pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) atau saya lebih senang menyebutnya PAIKEM Gembrot (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Genbira dan Berbobot). Saya kira semua guru sudah paham apa itu pembelajaran PAKEM. Tapi yang tinbul dalam benak saya adalah sudahkah kita sebagai guru melaksanakan PAKEM tersebut?.&lt;br /&gt;Saya mempunyai sedikit pengalaman sederhana tentang bagaimana pembelajaran yang efektif, karena menurut M.Sobri Sutikno (2007), pembelajaran efektif bukan membuat anda pusing, tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Pada minggu-minggu terakhir dalam satu semester atau sebelum UAS dilaksanakan, biasanya materi pelajaran yang harus diajarkan untuk satu semester, sudah selesai. Untuk mengingatkan kembali siswa dengan pelajaran yang telah didapatnya, saya mengajak kepada bapak dan ibu guru untuk melakukan permainan Lomba Cerdas Cermat. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Ajaklah siswa untuk bermain. Saya lebih senang menggunakan kata bermain, tatapi intinya adalah bermain sambil belajar.&lt;br /&gt;Bentuklah siswa menjadi dua sampai lima regu, dan setiap regu terdiri darai tiga anak.&lt;br /&gt;Kondisikan siswa untuk larut dalam sebuah Lomba, dimana ada peserta, penonton, pembawa acara, pencatat skor/ nilai, dan bila memungkinkan adanya hadiah untuk pemenang lomba.&lt;br /&gt;Guru menjadi pembawa acara, pembaca soal pertanyaan, dan berperan penuh terhadap jalannya permainan, termasuk memberi semangat kepada peserta, dan mengajak penonton memberikqan tepuk tamngan dan dukungan kepada peserta.&lt;br /&gt;Guru telah menyiapkan soal pertanyaan yang dilombakan. Soal diambil dari materi satu pelajaran atau beberapa pelajaran.&lt;br /&gt;Lomba terdiri dari 2 babak&lt;br /&gt;Babak I, regu A mengambil soal pilihan untuk dipilih. Soal pilihan sebanyak regu yang bermain saat itu. Soal pilihan bias terdiri dari 5-10 soal. Bila regu A tidak bias menjawab atau menjawab salah, soal bias dilempar untuk dijawab regu berikutnya, begitupun seterusnya.&lt;br /&gt;Babak II adalah menjawab soal rebutan yang dibacakan dengan aturan menjawab terlebih dahulu tunjuk jari bagi peserta.&lt;br /&gt;Babak I untuk soal yang dijawab betul skor 100, dan jika salah tidak ada pengurangan.&lt;br /&gt;Babak II untuk soal yang dijawab betul skor 100, dan jika salah dikurangi 50       (-50)&lt;br /&gt;Tata cara permainan ini bias disesuaikan dengan kondisi yang ada, ataupun dengan kreatifitas yang lebih efektif dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Dari kegiatan Permainan Lomba Cerdas Cermat ini, dapat saya tarik kesimpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Mengingatkan kembali siswa dengan pelajaran yang pernah disampaikan, karena soal pertanyaan terdiri dari rangkuman pokok pelajaran.&lt;br /&gt;Meningkatkan motivasi siswa, karena meningkatkan motivasi adalah dengan memberikan tujuan (memenangkan lomba), memberikan pujian, memberikan penghargaan (hadiah), memberikan hukuman (pengurangan skor), dan memberikan persaingan (kompetisi).&lt;br /&gt;Mempraktekan cara berpikir cepat dan tepat.&lt;br /&gt;Siswa belajar bekerjasama dengan teman satu regu.&lt;br /&gt;Pembentukan karakter siswa untuk berani, menghilangkan rasa tidak percaya diri, dan tegas dalam mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya.&lt;br /&gt;Memberikan pengalaman baru bagi siswa.&lt;br /&gt;Memberikan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan menghibur.&lt;br /&gt;Kiranya, pengalaman sederhana ini bermanfaat dan memberikan inspirasi kepada guru untuk mempraktekan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Karena, mengutip perkataan Mantan Mendikbud Fuad Hassan “Jangan terlalu rebut dengan kurikulum dan sistemnya, itu semua bukan apa-apa. Justru pelaku-pelakunya itulah yang lebih penting diperhatikan”.&lt;br /&gt;PENULIS:&lt;br /&gt;Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.&lt;br /&gt;Alamat rumah: Dadirejo 01/04, Bagelen, Purworejo 54174 (Hp.081328835359)Email:dedeawanap@yahoo.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-1541362535689490702?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/1541362535689490702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=1541362535689490702' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/1541362535689490702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/1541362535689490702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/06/permainan-lomba-cerdas-cermat.html' title='Permainan Lomba Cerdas Cermat, Pembelajaran Menyenangkan'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-8482209619268213614</id><published>2008-06-16T00:39:00.000-07:00</published><updated>2008-06-16T00:44:03.627-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen HARI TERAKHIR KE SEKOLAH bagian 2</title><content type='html'>Oleh Dedeawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu langit cerah. Sinar mentari pagi menghangatkan bumi yang pagi itu basah. Sisa hujan kemarin perlahan kini tak membekas. Tanah merah kini mulai mengering. Hanya tumbuh-tumbuhan saja yang basah karena embun pagi. Suasana di rumah Dinda, anak perempuan yang baru beranjak remaja yang akan melangsungkan pernikahan itu mulai sibuk, meskipun mentari baru akan meninggi.&lt;br /&gt;Kesibukan terlihat di sana-sini, di halaman rumah, ruang tengah rumah, dapur, juga kamar tempat merias pengantin.  Dengan perasaan yang tak menentu, anak perempuan yang baru menginjak remaja itu, dipoles sedemikian rupa sehingga kini tampak seperti gadis dewasa yang siap untuk diperistri. Sang ibu bercampur perasaan antara haru dan bahagia. Kini, anak terakhir yang rasanya belum lama ia lahirkan itu akan segera memulai hidup baru bersama pendamping hidupnya. Pria dewasa yang tegolong masih tetangganya itu, atau mungkin jika ditilik lebih jauh itu mungkin masih saudaranya. Tak henti-hentinya sang ibu membelai rambut indah putri kesayangannya itu. Anak perempuan itu masih dengan gaya lugu dan polosnya hanya bisa tersenyum manja menanggapi godaan-godaan saudara-saudara perempuannya yang tak henti-hentinya menyanjung keayuan wajah putihnya, mata lentiknya, bibir mungilnya, dan segala keindahan gadis yang baru menginjak remaja itu. Sesekali senyumannya terbuka lebar menampakkan deretan rapi gigi indahnya yang membuat penampilannya sempurna itu.&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah senja hampir tiba, selesailah semua prosesi pernikahan itu. Segala tradisi yang biasa di desa itu lakukan sudah dilaksanakan, sudah pasti juga dengan ijab kobul yang membuat syahnya pernikahan. Pernikahan di desa yang terbilang sederhana itu, bukan berarti memakan dana yang sedikit. Segenap keluarga mempelai mengusahakan biaya pernikahan itu dengan segala cara dan sekuat tenaga. Meski harus menjual warisan keluarga, hewan ternak, ataupun menguras penghasilan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Dan malam itu lngit kembali mengguyur bumi dengan nyanyian rintik hujan gerimis.&lt;br /&gt;Pagi itu, anak perempuan yang baru menginjak remaja itu sudah rapi setelah membersihkan badannya. Sang suami masih belum juga terlihat batang hidungnya. Semenjak dini hari tadi, sebelum adzan subuh berkumandang, sebelum dia tersadar sepenuhnya dari tidurnya, sang suami sudah tak menemaninya lagi. Bergegas dihampirinya ibunda tercinta yang masih sibuk berbenah di halaman belakang rumah. Menurut penuturan ibunya, suaminya ada di rumah orang tuanya yang hanya beberapa langkah itu, hanya melewati beberapa rumah saja. Mendengar penjelasan ibunya, segera ia masuk ke rumah dan menuju kamar kembali memeluk bantal guling kesayangannya. Sang pengantin baru itupun tak ambil pusing lagi tentang keberadaan suaminya. Karena memang masih mengantuk, seketika itu saja ia sudah terlelap kembali.&lt;br /&gt;Merasa ada yang membelai-belai rambut panjangnya, dengan berat hati mencoba membuka kelopak matanya yang sayu.&lt;br /&gt;“Mas Aryo, dari mana saja mas?” ucapnya sembari merapikan rambut dan pakaian yang dikenakannya.&lt;br /&gt;“Maaf kalau aku mengganggu tidurmu. Tapi ada hal mendesak yang harus kubicarakan denganmu” jawabnya dengan mimik muka serius. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 10 kurang 15 menit.&lt;br /&gt;“Ada apa mas, sepertinya penting banget ya!” ujarnya polos. Mas Aryo hanya tersenyum sambil memegang hidungnya yang mungil itu.&lt;br /&gt;“Auw…, sakit tahu! Mas Aryo nakal ah, aku bilangin ke ibu lho nanti.” Gertak dinda dengan roman muka marah manja.&lt;br /&gt;“Kamu memang lucu kalau sedang marah” kata mas Aryo sambil kali ini tangannya mengelitik perutnya.&lt;br /&gt;“Aaakh…, mas Aryo nakal. Akh..jangan!” teriak dinda dengan manja.&lt;br /&gt;“Ada apa to kok ribut-ribut. Dinda, ayo cepat bangun bersihkan badanmu. Anak perempuan sudah siang begini kok masih di tempat tidur. Oh ya mas Aryo kopinya sudah ibu buatkan tuh. Diminum dulu gih, nanti keburu dingin lho” kata ibu. Sedikit berteriak dari luar kamar.&lt;br /&gt;Siang itu di ruang tamu, Dinda, mas Aryo, ibu, dan ayah berkumpul. Sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan antara mereka. Dinda masih dengan raut kening mengkerut, kebingungan dan keheranan dengan tingkah laku suami dan ayah ibunya ini. Suasana hening sejenak. Ayah mencoba memulai pembicaraan setelah ‘lintingan mbako’ ditangannya disulut api dan dihirupnya mantap.&lt;br /&gt;“Nduk” ayah berujar sembari tangannya meraih asbak disudut meja itu.&lt;br /&gt;“Mas Aryo ini harus segera kembali ke Jakarta lagi untuk bekerja”. Dinda masih tertunduk menunggu lanjutan penuturan ayahnya dengan penuh tanda tanya.&lt;br /&gt;“Kamu mau ikut dengan suamimu, atau tetap disini bersama ayah ibumu?” kali ini ayahnya memberikan pertanyaan. Dinda tak kuasa menahan tangisnya. Segere ia berlari ke kamar sambil menangis tertahan. Dihempaskannya tubuhnya ke ranjang. Air mmatanya meleleh membanjiri bantal. Ibunya kini sudah berada di sisi tempat tidur itu. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, diberikannya pengertian terhadap puteri kesayangannya ini. Berat hati dinda untuk memutuskan. Apakah ia akan mengikuti suaminya ke Jakarta, yang berarti berpisah dengan ibu dan ayahnya, atau tetap berada di rumah dan terpisah dengan mas Aryo.&lt;br /&gt;Akhirnya, sore itu, dinda, anak perempuan yang baru menginjak remaja dan kini sudah bersuami itu, memutuskan untuk tetap tinggal di rumah menemani ibu dan ayahnya. Dengan haru dilepaslah kepergian mas Aryo, sang suami tercinta untuk kembali ke Jakarta. Semuanya berlalu begitu cepat. Ketika pagi, dua hari yang lalu, ia masih beseragam putih merah berangkat ke sekolah. Kemarin, acara pernikahan berlangsung dengan bahagia. Dan malam ini, ia melamun sendirian mengingat kejadian kemarin malam. Dan akhirnya tidur terlelap sendirian tanpa ditemani sang suami yang baru sekali menjamah dirinya. Baru sekali ini pula ia mengenal apa yang namanya cinta dan kerinduan.&lt;br /&gt;Keesokan paginya seluruh desa dihebohkan oleh sebuah berita yang tersiar dari mulut ke mulut. Sebuah berita yang sangat mengguncang hati dinda dan keluarganya. Sebuah bis menuju Jakarta yang berangkat sore kemarin mengalami kecelakaan dan mengakibatkan ada yang meninggal dan sebagiannya lagi luka parah. Dinda dan keluarganya mengalami kepanikan yang luar biasa. Bagaimana tidak, kemarin sore itu kan Aryo berangkat ke Jakarta naik bus. Apakah yang mengalami kecelakaan itu adalah bis yang ditumpangi Aryo atau bukan. Jika memang iya, terus bagaimana keadaan Aryo saat ini. Pak lurah yang mendengar tentang kemungkinan warganya ada yang menjadi korban kecelakaan itu langsung mencari informasi. Dinda dan keluarganya menunggu kabar terakhir dari Pak lurah dengan penuh kecemasan. Bahkan Ibunya Aryo pun masih dalam keadaan panik dan terkadang menangis histeris, mencoba ditenangkan oleh keluargadan para tetangga yang bersimpati mendengar kabar tersebut.&lt;br /&gt;Menjelang siang hari, dengan tergesa-gesa dan keringat yang masih mengalir, pak lurah memasuki rumah orang tua Aryo. Tumpah ruah sudah seluruh air mata dan kesedihan di rumah yang sempit itu. Kabar yang tidak diinginkan itupun harus terjadi. Aryo menjadi salah satu korban yang meninggal dari tragedy kecelakaan tersebut. Lalu bagaiman dengan Dinda, dimana ia berada? Rupanya ia berada di sudut dapur rumah itu sambil mencoba tegar meskipun isak tangis seperti hamper habis hingga nafasnya sulit untuk bernafas. Seketika itu pula badannya langsung lemas dan untunglah ada yang sigap menopang tubuh yang lemas tak berdaya itu. Di siang yang terik itu, kesedihan benar-benar memilukan dan menyayat hati. Seluruh warga bersimpati dengan Dinda, janda yang teramat muda di desa tersebut. Mereka semua menyayangkan nasib gadis manis yang baru berusia belasan tahun itu. Mereka terkadang menyalahkan orang tuanya yang tergesa-gesa menikahakan anak yang belum mengerti tentang kaeadaan dirinya saat ini. Sore itu benar-benar kelabu dan menyedihkan sampai datangnya jasad dan proses pemakaman itu pun segera dilakukan.&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, hati dinda benar-benar tidak menentu. Air mata pun terasa telah mengering. Sia-sia saja ia meratapi nasib yang sudah terjadi itu. Kali ini ia berfikir, mampukah ia menjalani hari-harinya yang akan masih terus berlanjut dengan statusnya sebagai janda.&lt;br /&gt;Kehidupan terus berjalan pasti. Tanpa kita sadari, kita terus dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang merupakan ketetapan Illahi. Manusia hanya bisa berencana, namun pada akhirnya harus pasrah berserah diri dan tetap memohon pertolongan dan mengharapkan ridho-Nya. Berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah hal yang baik. Selama kita berjalan di jalan-Nya, jalan keluar pastilah akan ada tanpa kita duga sebelumnya.&lt;br /&gt;Dinda kini hanya bisa pasrah akan nasibnya. Dalam kekalutannya, ia tetap bertekad untuk tidak memberi ruang kesedihan di relung hatinya. Dan pagi itu, ia sudah bisa tersenyum dan menyapa sahabat-sahabatnya yang hendak bersekolah seperti biasanya. Sikap ramahnya tetap mengembang kepada siapapun yang ia jumpa. Terlebih kepada sahabatnya yang satu ini.&lt;br /&gt;“Tumben kamu Nis, pagi-pagi begini kok sudah mau berangkat sekolah! Wah sepatumu baru ya?” sapa Dinda pada Nisa, sahabat sebangkunya ketika sekolah itu.&lt;br /&gt;“Nyindir nih..!.... mentang-mentang aku biasanya tak pakai sepatu” jawab Nisa dengan wajah yang tak mau diguyoni.&lt;br /&gt;“Maaf deh, kalau aku kamu anggap nyindir, aku tak bermaksud seperti itu kok. Aku hanya mau memastikan, kalau sepatumu bener-benar baru kan!” ucap dinda hingga membuat sahabatnya ini benar-benar terpojok.&lt;br /&gt;“Sudah lah, tidak usah dibahas!..., eh… kamu tidak sekolah” Tanya Nisa mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;“Males akh!... buruan sana kalau mau berangkat” jawab Dinda sambil melanjutkan kegiatan menyapu halaman yang tadi sempat terhenti.&lt;br /&gt;“Daaah….!” Nisa pun akhirnya berlari sambil melambaikan tangan, ia merasa salah dengan ucapannya.&lt;br /&gt;“Kenapa sih aku tadi Tanya seperti itu. Bodoh benar aku ini” sesal Nisa atas pertanyaan yang semestinya tidak diajukannya itu.&lt;br /&gt;Sepeninggal sahabatnya itu, Dinda sedih atas kenyataan bahwa dirinya tidak bisa bersekolah lagi. Padahal dalam benaknya, keinginannya bersekolah masih tetap ada.&lt;br /&gt;Matahari belum juga mampu mengusir rasa dingin. Hawa sejuk pegunungan masih merupakan teman keseharian para penduduk yang akan pergi berladang, dan anak-anak yang hendak bersekolah. Setelah selesai dari pekerjaannya, Dinda duduk termenung di atas bongkahan batu besar di depan rumahnya. Sinar matahari pagi membelai lembut wajah ayunya dengan penuh kehangatan.&lt;br /&gt;Selesai………………..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-8482209619268213614?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/8482209619268213614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=8482209619268213614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/8482209619268213614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/8482209619268213614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/06/cerpen-hari-terakhir-ke-sekolah-bagian.html' title='Cerpen HARI TERAKHIR KE SEKOLAH bagian 2'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-8947165622753510790</id><published>2008-04-11T01:31:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T01:34:14.398-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen HARI TERAKHIR KE SEKOLAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Oleh: Dedeawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak perempuan yang baru beranjak remaja terlihat bersemangat memakai seragam putih merah yang sudah sedikit pudar warnanya, mungkin karena terlalu sering dipakai. Dari bibirnya yang mungil itu bersenandung lagu yang sedang ngetren saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No no no no tunggu dulu …cinta jangan buru-buru …. karena kurasa.. terlalu cepat…. kutakut semua palsu….". Begitulah ia bernyanyi meskipun ia sendiri kurang mengerti dari band apa lagu yang ia nyanyikan. Yang ia tahu hanya syairnya yang begitu tak asing di telinganya semenjak menjadi soundtrack sinetron yang sering ia lihat. Meskipun tempat tinggalnya memang berada di sebuah desa yang sulit ditempuh, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati kemajuan teknologi seperti listrik, televisi, parabola, vcd dan sebagainya. Bahkan lagu-lagu dari musisi tanah air yang berkembang pesat saat ini sudah sangat akrab ditelinga mereka melebihi lagu padamu negeri, rasa sayange, suwe ora jamu, atau mungkin bahkan lagu Indonesia raya yang sering dikumandngkan saat upacara bendera masih terdengar fals dinyanyikan dan belum benar atau belum hafal sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sepatu yang nanti hendak ia kenakan sudah terbungkus plastik hitam, bergegas ia memakai sandal jepit biru tua dan segera menyusul teman-temannya yang sudah siap-siap menuju sekolah seperti biasanya. Langkahnya yang semakin lama semakin berat karena sandal yang ia kenakan bagian bawahnya dilapisi tanah merah hasil dari guyuran hujan semalam. Setibanya di sekolah, segera ia lepas sandal dan meletakkannya di genengan air dengan tujuan untuk melepas tanahnya. Sambutan riuh tawa dan sorak sorai teman-temannya disambutnya dengan senyuman ketusnya yang membuat kerutan dikeningnya. Godaan dan cibiran dari teman-temannya sama sekali tak ia hiraukan karena sudah biasa. Apalagi untuk saat-saat seperti sekarang ini, semakin sering ia menjadi buah bibir dikalangan teman-temannya. Tapi yang namanya anak-anak terlalu mudah untuk melupakan segala bentuk ketidaksenangan yang mengganggu pikirannya. Itu sebabnya anak-anak sekarang kurang memikirkan pelajaran yang tidak disenanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut kelas kursi paling belakang kembali ia termenung dan merenung memikirkan pembicaraan yang disampaikan calon suami, orang tua, dan saudara-saudaranya. Matanya yang bulat bersinar terlihat lembab karena air mata yang tidak jadi keluar. Kembali ia menghela nafas panjang memikirkan bahwa hari ini adalah hari terakhirnya ia pergi ke sekolah untuk belajar, bertemu dengan gurunya, teman-temannya, kelasnya, sekolahnya dan segala kenangan yang indah tentang sekolahnya. Sahabat sebangkunya baru datang dengan membawa payung dan tanpa bersepatu. Sapaan hangatnya sedikit membuyarkan lamunannya yang tadi menerawang jauh. Dipasangnya muka berseri yang semakin memperindah wajahnya yang mungil, putih bersih, serta deretan gigi rapinya yang indah. Obrolan ringan diantara keduanya terdengar akrab dan sesekali diselingi gelak tawa yang menghibur. Sama sekali sahabat sebangkunya itu tidak menanyakan rencana pernikahan yang hendak ditempuh sahabatnya ini. Mungkin karena ia sama sekali belum pantas untuk membicarakannya atau mungkin karena ada hal lain yang lebih seru untuk dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintik air hujan mulai kembali membasahi bumi seakan belum puas setelah guyurannya semalam. Langit mendung kembali membuat gelap ruangan kelas bangunan sekolah tersebut. Harapan anak-anak untuk mendapat ilmu dari bapak/ ibu gurunya seakan pupus mengingat hujan yang semakin memperberat laju kendaraan yang akan dilalui bapak/ ibu gurunya. Harapan untuk mendapat pelajaran kemungkinannya semakin kecil setelah rintik air hujan kini berubah menjadi guyuran yang semakin deras. Sorak-sorai dan teriakan anak-anak seakan terkalahkan oleh kerasnya suara seng atap bangunan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, ia masih belum beranjak juga dari tempat duduknya dari sudut kelas kursi paling belakang itu. Ia membuka-buka buku catatannya berisikan pe-er matematika tentang faktor bilangan. Ia hanya membuka-buka saja tetapi tidak segera mengerjakannya. Mungkin ia berfikir untuk apa mengerjakannnya, ini kan hari terakhir ia ke sekolah?. Ataukah ia memang sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Entahlah hanya ia sendiri yang tahu. Sementara sahabat sebangkunya sedari tadi hanya bermain-main di papan tulis dengan kapur tulis ditangannya yang diambilnya dari meja lemari guru yang memang tidak terkunci itu. Sahabat sebangkunya ini memang anak yang paling cerdas di kelasnya. Mendapat peringkat adalah hal biasa baginya. Tapi diantara semua pelajaran, bahasa Indonesia adalah pelajaran favoritnya. Bahkan menulis puisi adalah salah satu keahliannya. Ia kemudian membaca puisi puisi karya sahabat sebangkunya itu yang dituliskannya di papan tulis."Gemericik air hujan dan sorak-sorai menyatu pagi itu. Oh guruku sayang, mengapa kau tak datang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran penjaga sekolah yang rumahnya memang dekat sekolah itu memecah kehingar-bingaran kelas. Setelah hujan mulai mereda, beliau menyuruh anak-anak untuk pulang, disambut sorak-sorai kegirangan, satu persatu mereka mulai meninggalkan kelas, meninggalkan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mencari sandal jepit biru tua yang tadi diletakkannya di genangan air hujan. Rupanya sandal kesayangannya itu hanyut terbawa arus air hujan. Dengan sedikit kesal ia mengumpat. Akhirnya dengan menenteng sepatu dalam plastik hitam dan kini tanpa beralas kaki, ia melangkah meninggalkan sekolah menuju rumahnya sendirian, karena teman-temannya meninggalkannya sewaktu ia mencoba mencari sandal jepit biru tuanya. Kali ini air matanya tak kuasa menetes mengingat hari ini adalah hari terakhirnya ke sekolah. Kenangannya kembali menerawang jauh mengingat saat indahnya bersekolah. Gerimis air hujan seakan melengkapi kesedihannya. Kini, rambutnya yang terurai panjang sudah basah. Baju yang ia kenakan juga demikian halnya seakan menampakkan lekuk tubuh indahnya yang baru mulai tumbuh.&lt;br /&gt;Melewati sungai yang biasa ia lalui, dengan hati-hati ia hendak menyeberang. Di tengah-tengah arus aliran sungai, ia berhenti. Dihanyutkannya tas sekolah dan sepatu dalam plastik hitam itu. Ditatapnya dengan haru kepergian mereka dengan tatapan yang sendu. Wajahnya seakan menggambarkan seorang gadis yang ditinggal pergi kekasihnya. Wajah ayunya semakin terpancar dengan rambutnya yang basah meskipun usianya baru menginjak belasan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dinda.. hei..Dinda….ayo cepat pulang! Sedang apa kamu disitu!" Dari pematang sungai, kakaknya memanggil-mangil namanya. Segera ia menghampiri kakak tertuanya itu dan bersama-sama hendak pulang ke rumah. Ia menceritakan sewaktu menyeberang sungai ia terpeleset dan menyebabkan tas dan sepatu serta sandal jepitnya hanyut terbawa arus sungai. Kakaknya mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memerlukannya lagi. Karena mulai besok ia hanya memerlukan suaminya, mengurusinya, menjaganya, bahkan membelikan sepatu dan tas sekolah lagi untuknya jika memang perlu. Setibanya di rumah, sudah banyak tetangga-tetangganya, keluarganya, berkumpul di rumahnya yang sempit itu. Setelah membersihkan diri, segera ia menyambut para tamu yang ingin bertemu dengan calon pengantin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung............&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-8947165622753510790?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/8947165622753510790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=8947165622753510790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/8947165622753510790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/8947165622753510790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/04/cerpen-hari-terakhir-ke-sekolah.html' title='Cerpen HARI TERAKHIR KE SEKOLAH'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-7765764412783905338</id><published>2008-04-11T01:22:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T01:24:58.734-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>SEMANGAT PENDIDIKAN ANDREA HIRATA DALAM TETRALOGI LASKAR PELANGI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Oleh: Dedeawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya bukanlah hal yang baru bagi mereka yang mengikuti perkembangan novel Indonesia yang sedang semarak dengan hadirnya penulis-penulis novel yang memberikan kisah-kisah yang berbeda dan menggugah jiwa pembacanya, seperti Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang karya-karyanya best seller dan digandrungi karena ceritanya yang mengandung nilai Islami dan tidak terkesan menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata, anak muda Melayu Belitong lulusan Sorbonne, Perancis, novelis muda berbakat yang menghadirkan kisah masa kecilnya dalam sebuah novel yang unik dengan mengangkat tema pendidikan dalam ceritanya yaitu Tetralogi Laskar Pelangi. Dalam Tetralogi Laskar Pelangi terdiri dari empat novel yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.&lt;br /&gt;Dalam Laskar Pelangi, mengisahkan sepuluh orang anak yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Cerita berawal dari keresahan Pak Harfan dan Bu Muslimah, yang mengabdikan diri di sekolah tersebut, yang panik karena baru ada sembilan anak baru kelas satu yang mendaftar yaitu Ikal (penulis sendiri, Andrea Hirata), Lintang, Mahar, Trapani, Kucai, Syahdan, Samson, A Kiong, dan satu-satunya perempuan bernama Sahara. Padahal menurut pengawas dari Diknas Belitong menegaskan bahwa sekolah yang muridnya kurang dari sepuluh maka sekolah tersebut harus tutup. Disaat-saat terakhir munculah Harun, anak lima belas tahun dengan keterbalakangan mental yang menyelamatkan sekolah itu dari penutupan.&lt;br /&gt;Keberadaan SD sekaligus SMP Muhammadiyah tersebut sangat berbeda dengan kedaan sekolah-sekolah PN Timah, ibarat bumi dengan langit. Sekolah PN Timah adalah sekolah yang didirikan oleh PN Timah, perusahaan negara yang menguasai produksi hasil tambang di pulau Belitong. Sekolah PN dikhususkan untuk anak-anak pejabat atau staf yang bekerja di perusahaan yang pada masa itu tebesar se-kawasan Asia. Sedangkan penduduk belitong adalah pekerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dikisahkan kesepuluh anak Laskar Pelangi tersebut bersekolah di sekolah yang mirip gudang kopra, semangat mereka tetap membara, begitupun Bu Muslimah guru mereka, dan Pak Harfan kepala sekolah. Bu Muslimah digambarkan sebagai sosok guru yang bersahaja dari pandangan anak didiknya yang memanggilnya ibunda guru. Kehidupan ekonominya dari pekerjaan lain sebagai penjahit. Profesi gurunya murni semata demi syiar Islam dan memenuhi panggilan jiwa sebagai pendidik. Demikian halnya dengan Pak Harfan, pamannya Bu Mus, digambarkan sebagai guru yang berjenggot lebat, berkemeja koko warna hijau yang berubah menjadi putih karena terlalu sering dicuci, bercelana panjang kusut karena terlalu sering dipakai. Kehidupan ekonominya dari hasil berkebun. Sekolah mereka adalah potret buram sekolah miskin masyarakat Melayu Belitong yang hidup dan berkembang dengan semangat perjuangan dan pengorbanan serta sumbangan sukarela warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti alur cerita Laskar Pelangi membuat kita (pembaca) untuk menyelami masa kecil penulis (Andrea Hirata) dan juga teman-temannya yang penuh semangat dalam mengenyam pendidikan. Seperti Lintang yang harus mengayuh sepedanya sejauh 40 kilometer melewati jalan kecil penuh rawa dan buaya besar untuk sampai di sekolah. Lintang jualah yang disebut-sebut dalam novel ini sebagai anak jenius didikan alam, yang mengangkat harkat dan martabat sekolah miskin Muhammadiyah itu dalam lomba cerdas cermat tingkat kabupaten mengalahkan sekolah-sekolah PN yang penuh fasilitas. Namun sayang, anak jenius didikan alam tersebut harus mengubur kejeniusannya saat ayahnya meninggal dan Lintang harus menjadi tulang punggung keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi adalah Sang Pemimpi. Mengisahkan Ikal, Arai, dan Jimron dalam menjalani hari-hari mereka bersama mimpi-mimpinya saat bersekolah di SMA. Kesetiakawanan yang tinggi mereka tunjukkan dalam mewujudkan mimpinya. Saat itu PN Timah belitong dalam keadaan kacau dan gelombang PHK besar-besaran membuat anak-anak tidak bisa bersekolah karena orang tua mereka tidak sanggup membiayainya. Anak-anak yang ingin bersekolah harus bekerja, begitu juga dengan ketiga sahabat ini, hingga harus bekerja sebagai kuli ngambat yang bertugas menunggu perahu nelayan tambat dan memikul tangkapan para nelayan itu ke pasar ikan. Kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya diminati oleh mereka yang semangat bersekolahnya kuat, atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak memiliki pekerjaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ketiga adalah Edensor, menceritakan Ikal dan Arai yang mendapat beasiswa untuk mengambil S-2 ke Eropa, tepatnya di Sorbonne, Perancis. Dan buku keempat dari Tetralogi Laskar Pelangi adalah Maryamah Karpov.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, semangat Andrea Hirata dalam Tetralogi Laskar Pelanginya dalam meraih pendidikan setinggi-tingginya, menggapai mimpi menjadi kenyataan, mengunjungi tempat yang tidak pernah diduga sebelumnya, dapat melecut kita, para pendidik ataupun siapa saja untuk memajukan pendidikan dengan segala keterbatasannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-7765764412783905338?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/7765764412783905338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=7765764412783905338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/7765764412783905338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/7765764412783905338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/04/semangat-pendidikan-andrea-hirata-dalam.html' title='SEMANGAT PENDIDIKAN ANDREA HIRATA DALAM TETRALOGI LASKAR PELANGI'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-2989867715603418456</id><published>2008-04-05T01:02:00.000-07:00</published><updated>2008-04-05T01:04:24.829-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>AYO MENULIS CERPEN</title><content type='html'>Bagi seorang guru/ pendidik, kegiatan tulis menulis lebih banyak yang berkaitan dengan dunia pendidikan seperti artikel, opini, atau dengan kata lain harus ilmiah, nonsastra, dan relevan. Oleh sebab itu, tulisannya cenderung berkutat seputar kebijakan pendidikan, kritik dan saran. Sehingga bagi sebagian guru yang sudah kenyang makan asam garam atau telah lama berkecimpung di dunia pendidikan seakan lelah dan bosan dengan suguhan yang tak juga berpihak kepada pendidikan itu sendiri. Kebijakan pemerintah untuk pendidikan, kesejahteraan guru, perkembangan kurikulum, adalah sajian yang sering kita temukan dalam tulisan tersebut. Terlebih lagi sang penulis biasanya adalah orang yang berprestasi dan bertugas di daerah perkotaan yang jauh dari kemelut kehidupan pendidikan di pedesaan dengan sagala keterbatasannya. Dan lebih memprihatinkan lagi adalah jika penulis itu sendiri menulis sekedar teori saja dan tujuan penulisannya adalah agar dirinya menjadi orang yang terpandang ilmunya, disegani, dan dihormati. Sehingga seolah tiada pesan yang mengena di hati pembacanya.&lt;br /&gt;Dunia tulis menulis sangat dipengaruhi oleh senggangnya waktu di tengah-tengah kesibukan aktifitas pekerjaan dan urusan keluarga serta masyarakat.&lt;br /&gt;Cerpen bisa menjadi alternative tulisan yang mampu memberi kesan berbeda bagi pembaca setelah menangkap pesan/ amanat yang ingin disampaikan, dan tentu saja masih seputar kebijakan pendidikan, kesejahteraan guru, perkembangan kurikulum, kritik, saran dan lain-lain.&lt;br /&gt;Sebuah cerpen harus tetap mengedepankan estetika/ keindahan karena cerpen itu sendiri merupakan sebuah karya seni yang meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembaca. Salah satu kesalahan yang sering dibuat cerpenis pemula mereka berpikir bahwa cerpen itu hanya semacam media untuk menyampaikan informasi tertentu. Maka hasilnya karya yang dihasilkanpun tak lebih dari deretan informasi demi informasi (Jonriah Ukur Ginting, www.jonru.net).&lt;br /&gt;Banyak cerita yang dapat menjadi inspirasi atau ilham untuk menulis sebuah cerpen. Ilham itu dikupas sedemikian rupa dan memadukannya dengan imajinasi, serta menuangkannya dalam bentuk tulisan. Adapun langkah-langkahnya adalah: menemukan ide dalam sebuah tema, menyusun alur cerita sebagai kerangka karangan, mengumpulkan kosakata dan gaya bahasa, mengembangkan alur cerita menjadi kerangka karangan utuh (Awan Sundiawan, www.awan965.wordpress.com).&lt;br /&gt;Struktur para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika menyusun cerpen mereka (diterjemahkan dan diringkas oleh Ary Cahya Utomo dari sumber www.write101.com/shortstory.htm, dan saya kutip dari www.pelitaku.sabda.org).&lt;br /&gt;taruh seseorang di atas pohon (munculkan sebuah kedaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita)&lt;br /&gt;lempari dia dengan batu (kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan tokoh utama tadi)&lt;br /&gt;buat dia turun (tunjukkan bagaimana tokoh pada akhirnya mengatasi masalah itu/ sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis)&lt;br /&gt;Tulisan fiksi menuntut daya imajinasi tinggi, sementara nonfiksi dibatasi oleh fakta dan aturan-aturan hukum tertentu. Jadi bagi yang ingin menulis fiksi, latihlah kreatifitas daya imajinasi dan juga kemampuan mendramatisasi suatu adegan (Ary Cahya Utomo, www.pelitaku.sabda.org).&lt;br /&gt;Bacaan yang kita lahap sebenarnya ibarat amunisi yang membuat keahlian menulis kita semakin baik. Selain menambah wawasan/ pengetahuan, membaca juga bisa membuat kita menemukan kosakata baru, gaya bahasa baru, atau teknik bercerita yang baru (Jonriah Ukur Ginting, www.jonru.net).&lt;br /&gt;Sebuah cerita tidak dapat disebut cerpen apabila secara minimal tidak memenuhi syarat sebagai berikut (Drs.Sugeng, Bahasa Indonesia SMA kelas X, 2005:76)&lt;br /&gt;meskipun pendek, merupakan kesatuan yang lengkap dan selesai&lt;br /&gt;tersusun atas lima bagian, pengenalan, perumitan, klimaks cerita, krisis balik, dan penyelesaian masalah&lt;br /&gt;mengandung estetika, baik dalam hal bahasa maupun dalam hal teknik bercerita&lt;br /&gt;unsur-unsur pembangun cerita tergambar secara eksplisit atau implicit&lt;br /&gt;mampu memberikan efek (kesan tertentu) bagi pembaca baik secara moral, emosional, ataupun intelektual.&lt;br /&gt;Jadi pada dasarnya sebuah cerpen harus memiliki tema, tokoh, setting, alur/ jalan cerita, konflik, dan amanat/ pesan. Selain itu, dalam sebuah cerpen harus ada dialog yang memberi bobot pada cerpen, juga dimanakah sudut pandang penulis dalam cerpen. Kalau sudut pandang penulis adalah sebagai ‘aku’, maka seolah-olah penulis benar-benar menceritakan dirinya sendiri. Jika sudut pandang penulis adalah sebaga pencerita, maka penulis hanyalah memaparkan sang tokoh dalam sudut pandang penulis.&lt;br /&gt;Dan perlu kita renungkan, bahwa sebuah karya sastra baik itu cerpen, novel, dll, bila kita menulis berdasarkan tren yang sudah ada, dan mengikuti saja pendapat pakar penulis terkenal, bukan jaminan bahwa karya kita akan diterima oleh pembaca. Karena pada dasarnya, karya yang diterima oleh pembaca adalah karya yang benar-benar orisinil dan berbeda serta mengetengahkan hal yang baru bagi pembaca.&lt;br /&gt;Rowopanjang, April 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-2989867715603418456?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/2989867715603418456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=2989867715603418456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/2989867715603418456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/2989867715603418456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/04/ayo-menulis-cerpen.html' title='AYO MENULIS CERPEN'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-6643661687601510832</id><published>2008-04-05T00:51:00.000-07:00</published><updated>2008-04-05T00:53:02.834-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen SEPENGGAL KISAH DARI LUBUK HATI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Oleh: Dedeawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertemuanku dengannya pagi itu benar-benar membuatku tidak bisa nyenyak dalam tidur malamku. Kembali dengan kesadaran yang baru kuhimpun kucoba mengangkat beban tubuhku yang kurasa sangat berat. Kuusahakan mataku untuk menatap kemilau sinar mentari pagi yang sudah kian meninggi ketika kusibakkan tirai penutup jendela kamarku yang berhadapan langsung dengan hamparan luas di ujung sudut tempat kostku, tempat yang selama setahun lebih ini menampungku ketika aku menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi negeri di jogja. Aku kuliah di jogja karena memenuhi cita-citaku untuk menjadi seorang guru. Pahlawan tanpa tanda jasa yang mengabdikan dirinya sampai kepelosok-pelosok desa dimana berdirinya sebuah sekolah dasar. Program Diploma yang sedang kutempuh saat ini memang ditujukan untuk mencetak insan pendidik tingkat dasar tersebut.&lt;br /&gt;Segar rasanya tubuhku setelah bermandikan dinginnya air. Setiap guyuran satu gayuh air seakan menjadi pengobat rasa rinduku yang menggebu kepada sosok yang kutemui di terminal siang itu seminggu yang lalu. Pertemuan singkat itu menyebabkanku sulit untuk tidur, hanya memandangi ponselku dan berharap dia akan meneleponku karena dia sempat meminta nomor hp ku sebelum berpisah. Dia adalah orang yang ku panggil pak guru ketika aku masih SD dulu. Aneh rasanya merindukan guru yang seharusnya kuhormati itu. Bahkan dalam buku diaryku kutuliskan kata "Dia" bukankah sepantasnya kutuliskan kata "Beliau". Dan seharusnya maka akan tertulis "Beliaulah yang telah membuatku terhindar dari nyenyak tidurku, dan selalu mengisi hariku dengan lamunan yang tiada berujung". Sebagai anak gadis remaja 19 tahun, wajarlah jika aku selalu menuliskan setiap perasaanku. Tapi apakah pantas jika aku mencintai orang yang usianya 10 tahun lebih tua dariku, mungkin lebih. Ketampanan dan kewibawaannya sama sekali tak berkurang setelah hampir 8 tahun tidak bertemu. Dia, pak Arif namanya, adalah guru yang 10 tahun lalu ditempattugaskan di sebuah desa tempat tinggalku yang pelosok itu, yang harus dilalui menempuh 10 km jalan berbatu dan terjal. Hanya 2 tahun dia bertugas di desaku. Padahal kata ayahku yang mantan kepala desa, sekarang ini setiap guru yang diangkat harus menandatangani surat pernyataan bersedia ditempatkan di daerah terpencil dan tidak akan mengajukan pindah sebelum memiliki masa kerja 8 tahun. Entahlah, mungkin antara dulu dan sekarang peraturannya berbeda.&lt;br /&gt;Kembali aku mengingat masa kecilku ketika itu, ketika dia masih mengajar di kelasku saat itu. Dari perwakannya, kami semua tahu bahwa guru kami ini bukanlah orang yang sudah tua umurnya seperti pak Ahmad yang suka menyuruh kami mencatat sampai 5 halaman bahkan lebih setiap kali mengajar. Dia berbeda, gayanya yang energik, pintar, dan sering melucu serta inovatif dan atraktif dalam mengajar itu membuat kami mampu menyerap apa yang disampaikannya. Terkadang dia tersipu malu apabila salah berujar, maklum jiwa mudanya saat itu mungin belum bisa menampakkan kepribadiannya yang dewasa.&lt;br /&gt;Tidak mengherankan jika aku tahu banyak tentang dia, karena dulu dia tinggal di perumahan dekat rumahku. Sebagai seorang guru muda dia sering bertingkah kaku dan pendiam. Wajahnya juga tergolong tampan sehingga kakak perempuanku sempat menaruh hati padanya. Kini baru kusadari bahwa aku sendiri sebenarnya juga tertarik padanya. Sebagai anak belasan tahun, dulu aku belum bisa menerjemahkan arti dari ketertarikanku itu.&lt;br /&gt;Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07.30. Dengan segera kubereskan Rencana Pembelajaran yang sudah kupersiapkan matang tadi malam. Ini adalah hari-hari tersibuk dalam kegiatan PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) di sebuah sekolah karena kegiatan mikro teaching/ praktek mengajar yang sedang aku jalani. Berbagai alat peraga kembali kucoba periksa guna memastikan tak ada yang tertinggal. Setelah istirahat pertama, aku akan praktek mengajar IPA di kelas IV yang guru kelasnya terkenal kritis itu.&lt;br /&gt;Dengan mengendarai Honda supra fit yang baru dibelikan ayahku, akhirnya sampai juga aku di pelataran parkir SD tempat PPL-ku. Aku tak memasuki ruang guru terlebih dahulu kerena bapak dan ibu guru mungkin sudah ada di kelas masing-masing. Sedang pak kepala sekolah kuketahui sedang kondangan ketempat kerabatnya. Dengan segera aku mendatangi teman-temanku di ruang UKS yang khusus dipersiapkan untuk markas mahasiswa yang PPL. Tak terelakan lagi kicauan Pak ketua yang panjang lebar memarahi dan menasehatiku agar jangan terlambat. Akhirnya dengan permintaan maaf , Pak ketua tampak sudah tak berkicau lagi. Entah kenapa aku merasa ada pada grup yang salah. Adalah pak ketua sebagai ketua regu yang kukenal sangat kaku namun taat beribadah. Terus tiga teman pria yang dulu pernah kutolak cintanya. Dua cewek yang sedang kasmaran karena baru memiliki cowok pujaan hati. Dan lagi lima ibu-ibu yang sudah berkeluarga. Kusebut ibu-ibu karena sudah menikah, meskipun diantara mereka ada yang belum dikaruniai anak. Yang kurasakan dari mereka adalah aroma ketidak-sukaan terhadapku karena menilai aku egois dan kekanak-kanakan. Mungkin karena mereka memang sudah terlalu tua.&lt;br /&gt;Seusai praktek mengajar yang kukira sudah bagus, tak ku ambil hati kata bu Vira, guru kelas IV yang sering memberikan komentar yang tidak membangun daripada pujian yang seharusnya kudapatkan. Aku pergi ke kantin di luar sekolah yang kurasa tempatnya sangat nyaman, paling tidak, terhindar dari teman-temanku yang membosankan itu. Setelah memesan makanan, langsung kutuju tempat di sudut meja itu. Sambil melihat orang-orang yang berlalu-lalang, kutebarkan pandanganku dengan berharap agar pak Arif, guru yang kurindukan itu datang. Mengetahui betapa tersiksanya diriku memendam kerinduan ini. Entah berapa lama waktuku tersita untuk sekedar mengharapkan beliau menyapaku lewat hp ku. Memandangi hp bututku, dan yang terlintas dalam benakku adalah bayangan wajah tampannya. Mungkin aku memang benar-benar telah jatuh hati padanya. Kembali aku melamunkan pertemuan singkatku dengannya, saat aku duduk di bangku terminal di siang hari yang terik.&lt;br /&gt;"Mira, kamu Mira khan!" sapa pak arif keheranan sambil mengulurkan tangan bersalaman. Tak menyangka akan bertemu kembali denganku, murid yang ditinggalkannya itu.&lt;br /&gt;"I…i.iya pak!" balasku gelagepan sambil membalas uluran tangannya. Aku tersipu malu karena merasa ditatap oleh matanya yang tajam. Desiran darah kurasakan disekujur tubuh ketika berhadapan langsung dengan pria tampan ini. Tutur katanya yang spontan benar-benar tidak berbeda ketika dia mengajar dulu.&lt;br /&gt;Kami pun berbincang-bincang. Dari perbincangan kami, aku mengetahui bahwa setelah pindah dari SD di desaku itu, dia mendapat tugas di sebuah SD di kota yang keberadaannya jauh lebih baik daripada di desaku itu. Benar-benar sebuah pertemuan yang tidak diduga tapi kurasa sangat membahagiakan. Bagaimana tidak, setelah kepindahannya dari desaku yang kurasa sangat tiba-tiba itu, akhirnya kerinduan ini terobati jua. Entah apa yang membuat pria setengah tua itu menarik perhatianku. Benar-benar kejujuranku ini adalah hal aneh tapi nyata. Atau begitu kuatkah sosok seorang guru sehingga selalu terngiang dalam ingatan.&lt;br /&gt;Aku dikagetkan oleh kehadiran pedagang bakso yang mengantarkan pesananku.&lt;br /&gt;"Maaf mbak, menunggu lama ya!" tanyanya ramah.&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa pak" jawabku gelagepan karena baru tersadar dari lamunanku. Setelah menyantap bakso dan membayarnya, akupun segera beranjak dari kantin itu. Berkumpul dengan temanku dan merencanakan apa yang harus dilakukan esok hari.&lt;br /&gt;Purworejo, 17 Maret 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-6643661687601510832?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/6643661687601510832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=6643661687601510832' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/6643661687601510832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/6643661687601510832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/04/cerpen-sepenggal-kisah-dari-lubuk-hati.html' title='Cerpen SEPENGGAL KISAH DARI LUBUK HATI'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-328022745205527806</id><published>2008-03-31T23:48:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T23:49:49.875-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Cinta'/><title type='text'>Artikel Cinta DALAM SEBUAH RENUNGAN Kumpulan Puisi</title><content type='html'>DALAM SEBUAH RENUNGAN&lt;br /&gt;Dalam sebuah renungan&lt;br /&gt;Kucoba menuangkan apa yang kurasakan&lt;br /&gt;Mencari jawaban atas pertanyaan&lt;br /&gt;melalui tulisan-tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEKASIH HATI DAMBAAN JIWA&lt;br /&gt;Kau adalah kekasih hatiku dambaan jiwaku&lt;br /&gt;Tapi aku hanya mengasihi hatimu dan mendambakan jiwamu&lt;br /&gt;Bukan ragamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJARA JIWA&lt;br /&gt;Raga adalah penjara jiwa&lt;br /&gt;Kemana jiwa mengembara saat bermimpi ?&lt;br /&gt;Tentu saja ketempat dimana raga tak mampu menjangkaunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENCARI SEBUAH ARTI&lt;br /&gt;Aku mencari apalah maksud sebuah arti. Dimana keberadaan dan keyakinan bergelut. Mencari sebuah kebenaran yang pasti. Kemana perginya tujuan keberadaan. Kemana larinya sebuah harapan. Ketika mentari kebenaran telah tenggelam, dimanakah arti bersembunyi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAM&lt;br /&gt;Semakin aku diam semakin ingin aku berontak, merubah segala keadaan, dari yang baik menjadi buruk, bukannya menjadi lebih baik. Apa yang bias ku banggakan, ilmu apa yang harus ku pertaruhkan, pengalaman apa yang bias kujadikan pegangan, karena kenyataannya, sekarang aku berada dalam kungkungan, dalam endapan lahar Lumpur emosi yang menjadikannya gunung berapi yang siap meletupkan kemurkaannya, menyibak kemunafikan yang selalu terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG BAIK&lt;br /&gt;Siapa yang disebut orang baik? Apakah yang pernah berbuat salah itu tidak bisa menjadi orang baik. Setiap kesalahan dijadikan pengalaman buruk yang mengarah ke kebaikannya, sebenarnya merekalah yang disebut orang baik. Bukan mereka yang menyebut diri orang baik, tetapi didalamnya tersimpan tertata rapi beribu kebobrokan, terpendam dalam senyum palsu yang dibalut kegetiran akan ketakutannya, takut pada diri sendiri, sebuah katakutan terbesar dalam hidup. Sungguh sangat pengecutlah ia. Bukan sekedar dari luar ketakutan itu datang, tapi dari dalam diri yang terpatri rapi, ketakutan abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH PERASAAN&lt;br /&gt;Kucoba membiarkan perasaanku terbang sebentar, menembus daya khayalku, menembus sudut imajiku, menerawang jauh tinggi dan seketika itu pula kucoba menepis dan menggabungkan pikiranku ke dalam alam sadarku, dan mencoba kulupakan semua cita-cita semu dari balik tirai kehidupanku. Ketika aku telah lupa dan mataku mulai terpejam, kenapa dia datang dalam mimpiku dengan semua daya pesona keanggunannya yang sempat kemarin dulu aku lamunkan. Ketika terbangun, sejenak aku tersenyum tapi seketika itu pula aku merasa kehampaan dalam angan, kekosongan dalam jiwa, dan kegersangan dalam batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WANITA YANG KUKAGUMI ITU&lt;br /&gt;Wanita yang kukagumi itu&lt;br /&gt;Berkali-kali dia mencuri hatiku&lt;br /&gt;Merampas kesadaranku&lt;br /&gt;Membawa jiwaku berkelana&lt;br /&gt;Menculik perasaan dan menyanderanya&lt;br /&gt;Meminta tebusan atas waktu&lt;br /&gt;Hingga berapa lama aku termenung&lt;br /&gt;Guna menebus waktu atas apa yang dimintanya&lt;br /&gt;Merenggut kebahagiaan hari-hariku&lt;br /&gt;Sampai akhirnya…..&lt;br /&gt;Dia kembalikan hatiku yang dicurinya&lt;br /&gt;Dia kembalikan kesadaranku, jiwaku, dan perasaanku&lt;br /&gt;Kujaga dan kurawat komponen-komponen ragaku&lt;br /&gt;Sebab dia tak berhak atas itu&lt;br /&gt;Karena aku hidup dalam nyata&lt;br /&gt;Bukan dalam mimpi yang mempesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekatilah wanita yang ingin kau dekati&lt;br /&gt;Tapi jangan kau tambatkan hatimu pada sehelai rambutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERJALANAN&lt;br /&gt;Sampai kapan kita terus begini&lt;br /&gt;Berjalan dalam sebuah ketidakpastian&lt;br /&gt;Memenuhi segala hasrat jiwa&lt;br /&gt;Yang baik dan yang buruk&lt;br /&gt;Bersyukurlah mereka yang telah mengerti&lt;br /&gt;Tentang sebuah arti keberadaan&lt;br /&gt;Dimana jiwa dan raga bertemu&lt;br /&gt;Bersatu padu beriringan seia sekata&lt;br /&gt;Dalam meniti sebuah keberadaan yang hakiki&lt;br /&gt;Kemana jiwa akan pergi?&lt;br /&gt;Disaat raga enggan bersatu lagi&lt;br /&gt;Disasat nafas tak lagi berhembus&lt;br /&gt;Kemana jiwa akan pergi?&lt;br /&gt;Apakah dirimu akan pergi sekarang?&lt;br /&gt;Lalu…… dapatkah kau menceritakan padaku bagaimana perjalananmu?&lt;br /&gt;Kurasa tidak&lt;br /&gt;Sebab kepergian abadi takkan pernah kembali&lt;br /&gt;Namun tunggulah kami bila kau telah berada pada tujuan perjalananmu&lt;br /&gt;Renungkanlah atas apa yang telah kau lakukan dulu&lt;br /&gt;Masih sempatkanh kau berfikir untuk kembali?&lt;br /&gt;Ataukah azab telah menantimu?&lt;br /&gt;Entahlah………. Sebab aku belum pernah kesana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH RENUNGAN (1)&lt;br /&gt;Cinta memang ada dan tumbuh di dalam hati ini. Tapi kekaguman akan cinta akan sirna seiring berjalannya waktu. Khayalan tentang cinta memang ada, tetapi setiap kali berubah. Bersyukurlah dirimu jika kau dapat mengendalikan cinta dan kaupun bisa bertahan dari dampak fantasi dan frustasi. Percayalah, Tuhan akan memberikan kita yang terbaik, karena yang terbaik itu hanyalah dari-Nya. Jika kita mendapatkan keadaan tidak seperti yang kita harapkan, mungkin bukan itulah yang terbaik buat kita. Ingat rejeki ditangan-Nya, Dialah segala pengatur dijagat raya ini. Biarkan orang mengatakan perasaan cinta yang dipendam akan mendatangkan penyakit, tapi perasaan cinta yang tersampaikan tidakkah akan menjadi lebih penyakit lagi, jikalau kita tidak siap dan tidak mampu menghadapinya. Marilah kita pikirkan baik buruknya. Ingat kau tidak buta pengalaman. Belajarlah pengalaman yang dialami orang lain. Apa yang terjadi masa lalu adalah pelajaran berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH RENUNGAN (2)&lt;br /&gt;Siapapun, kapanpun, dimanapun, manusia tidak bisa terhindar dari apa yang namanya cinta. Sebab cinta adalah fitrah semua umat manusia. Cinta adalah sebuah perasaan penuh perjuangan menghadapi musuh berselimut dalam batin. Ketika cinta tak terkendali ibarat sebuah kapal tanpa nahkoda, ibarat mobil tanpa rem. Maka kendalikanlah perasaan cinta sebagaimana dirimu mengendalikan diri dari nafsu bututmu. Sebab nafsu selalu berhubungan dengan syahwat. Dan ketika syahwat tak tersalurkan maka pikiran-pikiran kotorlah yang bergelimang dalam sanubarimu dan syetan pun masuk ibarat sebuah rumah yang berpintu tapi tak berpenjaga yang dimasuki pencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMAHAMI CINTA DARI SUDUT YANG LAIN&lt;br /&gt;Diamlah&lt;br /&gt;Izinkan aku berbicara di hadapan kalian&lt;br /&gt;Dengarkanlah suara-suara kami&lt;br /&gt;suara orang-orang diam&lt;br /&gt;Menarik diri dari peradaban&lt;br /&gt;dari hiruk pikuknya dunia&lt;br /&gt;aku hanyalah seorang pemimpi&lt;br /&gt;seorang penghayal&lt;br /&gt;menganggap yang semu itu nyata&lt;br /&gt;yang nyata itu semu&lt;br /&gt;kahlil gibran bilang&lt;br /&gt;setiap lelaki mencintai dua orang perempuan&lt;br /&gt;satu dalam khayalannya yang begitu sempurna&lt;br /&gt;dua adalah wanita bernafas yang penuh dengan kekurangan&lt;br /&gt;sehingga dia bilang&lt;br /&gt;haruskah aku menggantikan kedudukannya yang sempurna itu dengan wanita tanah liat yang bernafas ?&lt;br /&gt;pernahkah kalian dengar&lt;br /&gt;cerita sekawanan kupu-kupu yang ingin mengetahui seperti apa nyala lilin itu&lt;br /&gt;mereka utus satu diantara mereka untuk menyelidiki&lt;br /&gt;tetapi ia hanya melihat dari kejauhan dan pulang kembali untuk bercerita kepada kawannya&lt;br /&gt;kurang puas, mereka utus satu lagi&lt;br /&gt;ia melihat lebih dekat dan membakarkan sedikit sayapnya pada lilin yang menyala itu&lt;br /&gt;akhirnya ia kembali dengan sedikit luka di tubuhnya&lt;br /&gt;ternyata  ada yang belum puas dan ingin serba tahu&lt;br /&gt;ia kesana dengan penuh rasa keingin tahuan&lt;br /&gt;ia dekap lilin yang menyala itu&lt;br /&gt;ia tahu seperti apa nyala lilin itu&lt;br /&gt;menyala bersama tubuhnya yang turut serta&lt;br /&gt;dari kejauhan ada kupu-kupu bijak yang sedari tadi mengamati&lt;br /&gt;ia berkata&lt;br /&gt;dia telah mengetahui apa yang ingin diketahuinya&lt;br /&gt;tapi hanya dia sendiri yang tahu     tak ada yang dapat menuturkannya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasibnya sama seperti seorang anak manusia yang ingin tahu segala hal mengenai cinta&lt;br /&gt;dia dekapkan dirinya kedalam nyala lilin cinta yang menyala&lt;br /&gt;terbakar hati dan perasannya&lt;br /&gt;itulah sebabnya dia diam dan terus menerus membisu&lt;br /&gt;sebab jiwanya telah mati&lt;br /&gt;tak dapatlah dia menuturkan cinta yang telah dirasakannya&lt;br /&gt;lalu dari manakah cinta yang selama ini menjadi tema setiap kehidupan &lt;br /&gt;bukankah si pencinta itu tak pernah menuturkan sepatah kata pun mengenai cinta&lt;br /&gt;ia datang dari mereka pujangga-pujangga amatiran&lt;br /&gt;yang belum pernah merasakan cinta&lt;br /&gt;tapi seringkali disakiti oleh cinta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-328022745205527806?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/328022745205527806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=328022745205527806' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/328022745205527806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/328022745205527806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/03/artikel-cinta-dalam-sebuah-renungan.html' title='Artikel Cinta DALAM SEBUAH RENUNGAN Kumpulan Puisi'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-767890208518757182</id><published>2008-03-31T23:46:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T23:48:26.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Cinta'/><title type='text'>Artikel Cinta LOVE IS CINTA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Dedeawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tema tentang cinta selalu menarik untuk diperbincangkan. Selain karena kekuatannya yang sangat dahsyat bagi kehidupan manusia, juga karena cinta tidak bisa dilepaskan dari eksistensi manusia. Namun ada sisi menarik yang sering dilupakan dalam masalah cinta, yakni keharusan adanya tanggung jawab ketika seseorang menyatakan cinta kepada orang lain. Tanggung jawab itu, tidak hanya ditunjukkan dalam bentuk kesediaan melanjutkan cinta ke jenjang pernikahan, namun tanggung jawab dalam menyeleksi siapa orang yang harus dicintai. Karena mencintai itu sendiri merupakan proses memilih jodoh (Luqman Haqani, Jangan Katakan Cinta, 2004:5).&lt;br /&gt;Ibnu Hazm al-Andalusy dalam buku Thauq al-Hamamah halaman 47, Cinta adalah ungkapan perasaan jiwa, ekspresi hati dan gejolah naluri yang menggelayuti hati seseorang terhadap kekasihnya. Ia terlahir dengan penuh semangat, kasih sayang dan kegembiraan. Pada mulanya cinta hanya sekedar iseng lalu menjadi serius. Demikian lembutnya arti sebuah cinta sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Cinta hakiki takkan dapat dimengerti kecuali dengan sebuah pengorbanan (Dr.Khalid Jamal, Ajari Aku Cinta, 2007:16).&lt;br /&gt;Sesuatu itu dapat dicintai jika telah dikenal dan diketahui. Jika sesuatu itu sudah dikenal dan diketahui kemudian ada kecocokan sifat dan kesesuaian, maka timbullah rasa cinta (mahabbah). Karena itu rasa cinta itu karena kecenderungan perasaan terhadap sesuatu yang menyenangkan. Kecenderungan perasaan yang kuat itulah yang disebut cinta (Abu Fajar Al Qalami, Ringkasan Ihya Ulumiddin Imam Al Ghazali, 2003:375).&lt;br /&gt;Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kita pada pasangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan (Habiburrahman El Shirazy, Ayat-ayat Cinta, 2008:291).&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang beriman itu lebih kuat cintanya kepada Allah”(QS. Al Baqarah 165).&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah SWT. mengatakan pada hari kiamat akan memanggil, “Manakah orang-orang yang saling mencintai hanya karena aku? Pada hari ini Aku akan melindungi mereka di hari yang tidak ada tempat berteduh dan berlindung kecuali perlindungan-Ku” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;Seorang lelaki umumnya menganggap cinta dan pernikahan hanyalah satu tahapan kehidupan yang ia lalui. Kemudian setelah itu ia tetap berkonsentrasi pada sesuatu yang lebih penting dari itu menurut pandangannya. Seperti jaminan hidup, masa depan dan mewujudkan cita-citanya. Akan tetapi cinta bagi seorang wanita, meskipun ia wanita karier yang memiliki cita-cita tertentu, ia akan menganggap pernikahan dan tugas ibu rumah tangga menjadi segala-galanya dalam hidupnya. Bukan sebagai satu tahapan kehidupan yang ia lalui. Maka, tidak salah lagi bahwa seorang wanita yang menjalin ikatan cinta dengan seorang lelaki sebelum pelaminan, ia sebetulnya telah mempertaruhkan nama baik dan kehormatannya. Dan pada akhirnya ia mempertaruhkan seluruh hidupnya (Dr.Khalid Jamal, Ajari Aku Cinta, 2007:43-44)&lt;br /&gt;Kahlil Gibran dalam Bidadari-bidadari Lembah yang mengisahkan tentang Martha yang menuturkan……. Ia memberiku segalanya dengan senyum, dibalik kelembutan untaian kata-kata dan perlakuan kasihnya, ia sembunyikan nafsu dan hasrat binatangnya. Lalu setelah berhasil ia memuaskan nafsunya dengan tubuhku dan menebas habis harga diriku, ia pergi meninggalkan bara api dalam hatiku yang kian berkobar. Sejak itu, aku jatuh dalam kegelapan ini dimana bara kepedihan dan duka yang pahit memenuhinya.&lt;br /&gt;Semoga apa yang telah anda baca ini bermanfaat dan menjadi renungan dalam mengarungi samudera cinta. Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi cinta kita, dan menghindarkan diri kita dari cinta semu yang memilukan.&lt;br /&gt;Purworejo, 22 Maret 2008, Pk.14.30&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-767890208518757182?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/767890208518757182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=767890208518757182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/767890208518757182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/767890208518757182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/03/artikel-cinta-love-is-cinta.html' title='Artikel Cinta LOVE IS CINTA'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-6497615230732948804</id><published>2008-03-31T23:44:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T23:46:25.647-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen KUDA BESI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Dedeawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seseorang sedang mencoba menggelitikku agar aku segera terbangun, segera hidup, untuk segera menunaikan tugasku. Dengan terpaksa akupun terbangun. Kukedipkan seluruh mataku. Tiga di depan, dan tiga di belakang. Mungkin kalian bingung, tapi baiklah aku jelaskan. Sebenarnnya aku baru saja terbangun. Tapi mungkin aku terlahir beberapa bulan yang lalu, dan baru bangun sekarang. Saat seorang mekanik menghidupkanku karena aku telah terpilih menjadi kuda besi tunggangan. Majikanku seorang yang masih muda. Dia melihat-lihat diriku, sepertinya dia mengagumiku. Tangan-tangan mekanik terus saja menggerayangiku agar aku menggerakkan seluruh otot-otot syarafku. Setelah diberi oli, santapan bulananku, dan bensin, sarapan harianku, akhirnya seluruh syaraf-syaraf tubuhku berfungsi. Aku siap ditunggangi dan digeber oleh majikanku. Pemilikku seutuhnya.&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama, usaha mereka untuk menghidupkanku pun telah berhasil. Aku melihat-lihat sekelilingku. Majikanku sepertinya mengurusi administrasiku, melunasiku. Kulihat ‘bebek tangguh’ bersedih. Kusapa dia dengan hangat. “Kenapa gerangan kau bersedih bebek tangguh?” Dia sepertinya acuh saja.&lt;br /&gt;Si pemilik dealer memanggil salah satu mekaniknya. “Supra fit itu tolong masukkan ke bengkel. Sepertinya banyak bagian-bagian yang harus diperbaiki ataupun diganti sebelum dijual kembali”.&lt;br /&gt;Aku baru tahu namanya supra fit. Kembali aku coba menyapanya. “Kenapa kau bersedih supra fit?”.&lt;br /&gt;Dia mengamati sekelilingnya, mencari tahu siapa yang menyapanya.&lt;br /&gt;“Rupanya kau, Tiger, tunggangan baru untuk majikanku” jawabnya.&lt;br /&gt;Aku kini tahu namaku tiger. Aku heran, dari mana ia tahu namaku. Sedangkan aku sendiri baru tahu sekarng siapa namaku.&lt;br /&gt;“Dari mana kau tahu kalau namaku tiger?” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;“Bagaimana aku tidak tahu namamu. Kalau setiap hari, majikanku yang kini menjadi majikanmu itu selalu memuji-muji dirimu. Sepertinya ia lupa atas jasa-jasaku menemaninya saat-saat menentukan dalam hidupnya. Kini sepertinya ia melupakan aku”. Ujarnya panjang lebar.&lt;br /&gt;Sepertinya ia enggan berpisah dengan majikannya yang kini adalah majikanku itu. Akankah nasibku juga akan seperti dia. Habis manis sepah dibuang. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang majikanku itu dari dirinya, mantan tunggangan majikanku itu.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya seperti apa gerangan majikanmu yang kini jadi majikanku itu?” Aku memberanikan diri bertanya.&lt;br /&gt;“Dia adalah seorang guru SD. Jangan khawatir. Dia baik dan perhatian. Dulu dia mengurusiku dengan baik. Mengantarku ke tempat servis resmi apabila aku mengganti oli, atau saat dalam diriku ada ketidakberesan, ia segera mengganti onderdilku. Sebenarnya ia masih membutuhkanku, tapi karena keadaan ia memilihmu mengingat dirimu lebih tangguh, lebih perkasa untuk menemaninya, berangkat dan pulang kerja. Kaupun akan ditungganginya 120 km perharinya. Jangan takut, ia tak pernah membawaku ke tempat yang bernuansa maksiat. Tapi aku dipergunakan untuk pengabdiannya kepada Negara ini. Salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan aku mohon tolong jaga dia baik-baik” Kali ini penjelasannya itu menjadi saat perpisahanku dengannya. Dan akupun berjanji padanya untuk menjagnya baik-baik.&lt;br /&gt;Meskipun aku sudah siap untuk ditunggangi. Tapi aku tetap dinaikkan di mobil bak terbuka itu. Aku hari ini bagaikan raja. Sesampainya di sebuah rumah. Majikanku mencoba me’reyen’ku. Sepertinya ia ingin lebih jauh mengenalku. Melakukan pendekatan padaku.&lt;br /&gt;Seminggu sudah aku di rumah majikanku, mengenalinya dan seluruh keluarganya. Majikanku sangat perhatian padaku. Kotor sedikit saja, dia terus membersihkanku. Melapiku dengan penuh perhatian. Tak henti-hentinya ia terus mengagumiku.&lt;br /&gt;Rasanya diriku semakin anggun saja. Di bagian depan dan belakang tubuhku kini terpasang papan hitam bertuliskan angka berwarna putih. Diriku semakin mantap saja karena majikanku telah berpakaian rapi. Bertas rapi. Berjaket rapi. Berhelm, berkaos tangan, bersepatu. Dia kelihatan berwibawa dan gagah ketika ‘bersanding’ denganku. Hari ini adalah hari pertama aku diajaknya ke tempat kerjanya, ke sekolahnya, ke SDnya. Tempat dia mengamalkan ilmunya., mengasuh muridnya, mengajarnya, mendidiknya, membimbingnya, memberikan tauladan kepada mereka.&lt;br /&gt;Speedometerku menunjukkan bahwa aku telah melaju sejauh 50 km. semuanya biasa-biasa saja. Jalan raya tanpa lubang, jalan raya dengan sedikit lubang, jalan berliku dan menanjak. Aku heran, mengapa dari tadi belum juga sampai. Padahal badanku berat menopang beban tubuhnya yang kurasa lebih dari 65 kg ini. Semakin membuatku heran adalah kenapa ia membawaku ke jalan seperti ini. Berbatu, licin, dan ada genangan Lumpur. Berkali-kali majikanku berusaha menopang beban tubuhku yang hendak terpeleset ini. Sepertinya ia sudah mahir dengan jalan seperti ini. Aku percaya pada majikanku karena ia telah mempercayaiku untuk menemaninya menjalani kehidupan yang terkadang tidak selalu mulus itu. Seperti jalan yang kulalui saat ini.&lt;br /&gt;Setelah mengalami perjuangan yang melelahkan, terlihat juga bangunan sekolah itu. Aku lega karena aku bisa beristirahat, kembali mengumpulkan tenaga untuk perjalanan pulang nanti. Aku disejajarkan dengan tumggangan-tunggangan teman-teman majikanku. Mereka adalah ‘kuda kurus’/Honda win, ‘bebek berotot’/astrea impressa, ‘bebek jantan’/supra x, dan ‘bebek perkasa’/Suzuki shogun. Aku bebas manamai dan menyebut mereka karena ini adalah duniaku. Dunia yang mungkin tidak pernah ada.&lt;br /&gt;Tampang mereka bersahabat, meskipun tersembunyi ketabahan dan kesabaran luar biasa. Kami saling memperkenalkan diri. Yang paling sering melewati daerah ini, sering mondar-mandir ke sekolah ini adalah bebek perkasa. Ia menceritakan sudah tujuh tahun menemani majikannya. Tapi majikannya lebih dari 15 tahun sudah bertugas di sekolah ini. Si bebek jantan menceritakan ia baru lima tahun mengenal daerah ini. Si kuda kurus yang sahabat karib si bebek tangguh, tunggangan majikanku terdahulu sebelum aku, baru 2 tahun yang lalu menginjak daerah ini. Bebek berotot adalah yang paling disegani dan dihormati, karena beliau adalah tunggangan pak kepala sekolah Diam-diam aku kagum pada mereka dan majikan-majikan mereka termasuk majikanku sendiri.&lt;br /&gt;Akhirnya setelah diantara kami saling bercerita, anak-anak sekolah sudah berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Itu artinya, diriku, si kuda besi ini harus kembali mempersiapkan diri ditunggangi oleh majikannya. Tak terasa hari sudah siang, meskipun langit tak terlihat cerah. Karena memang majikanku yang berjarak paling jauh, mereka semua mempersilahkan kami untuk terlebih dahulu melaju. Setelah 2 jam perjalanan, sore itu, kembali kami tiba di rumah. Bersama-sama kami telah berjuang melawan terjangan hujan deras yang mengguyur kami. Tubuhku dingin, basah, dan kotor. Tapi kenapa majikanku tak membersihkanku, tak memandikanku. Aku mencoba sabar dengan kedaanku saat ini.&lt;br /&gt;Pagi harinya, kembali aku akan menemani majikanku. Meski hujan gerimis belum sepenuhnya reda, majikanku telah siap membawaku dengan memakai mantel jubah kebesarannya. Seandainya aku bisa berbicara dan menolak, enggan aku keluar di pagi sedingin ini. Tapi demi janjiku kepada bebek tangguh untuk menjaga majikanku ini baik-baik. Aku harus menjadi tunggangan yang setia, seperti majikanku yang setia pada profesinya.&lt;br /&gt;Saat melaju kencang menerjang rintik air hujan, terasa ada yang mengganjal di badanku. Belum sempat aku berfikir, tiba-tiba saja majikanku terhempas dari punggungku. Akupun terhuyung kemudian terjatuh. Rupanya mantel jubah itu yang menjadi penyebabnya. Bagian belakang mantel jubah yang terurai itu tersangkut di rantai penggerak rodaku yang sedang melaju. Kulirik dari mata belakangku, majikanku terkapar tak berdaya. Jika memang ada hari pembalasan untuk setiap perbuatan, apakah aku akan dimintai pertanggungjawaban?, Jika memang ada, maka maafkanlah aku dan seluruh saudaraku yang telah membuat majikannya terkapar tak berdaya.&lt;br /&gt;Purworejo, 27 Februari 2008, pkl 17.50 wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-6497615230732948804?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/6497615230732948804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=6497615230732948804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/6497615230732948804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/6497615230732948804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/03/cerpen-kuda-besi.html' title='Cerpen KUDA BESI'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-7434248482118259678</id><published>2008-03-31T23:42:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T23:43:53.989-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen ARINI OH ARINI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Dedeawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ku angkat hp ku yang berdering. Sebuah suara yang tak asing lagi di telingaku, begitu merdu dan menggetarkan hatiku.&lt;br /&gt;“Nanti malam, jadi khan main ke rumahku!” suara dari hp itu meminta kepastianku.&lt;br /&gt;“Tentu dong saying. Semoga saja malam ini cuaca cerah” sahutku mesra.&lt;br /&gt;“Oke, sampai jumpa nanti malam. Jangan sampai nggak datang loh!” dia melanjutkan. Kujawab sekenanya sebelum ditutupnya.&lt;br /&gt;Kubayangkan pertemuan kencanku malam ini. Aku senyum-senyum sendiri dengan lamunanku, sebelum suara keras Ayah mencoba membangunkanku sore ini. Mengira aku masih tidur di hari yang hamper petang ini. Kulirik jam dinding kamarku. Pukul 05.05. Segera ku bangkit dari peraduanku, menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhku merasakan dinginnya air.&lt;br /&gt;“Baiknya malam ini kau tidak usah bepergian nak!” suara lembut Ibu mengiringi kepergianku mengingatkan aku akan cuaca dingin di luar sana.&lt;br /&gt;“Tidak bisa bu, aku sudah janji dengan Arini, lagipula ini kan malam minggu” jawabku halus, tak bermaksud mengabaikan anjuran Ibu.&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu, tapi hati-hati ya nak!” kali ini Ibu mengizinkanku pergi.&lt;br /&gt;“Sampaikan salam kami untuk orang tuanya! Dan jangan pulang terlalu larut!” ayah menimpali dari dalam rumah. Sementara aku siap melaju dengan sepeda motorku.&lt;br /&gt;Dinginnya angin malam benar-benar merasuk hingga tulang. Benar ibuku mengingatkan. Tapi kerinduanku untuk bertemu Arini, kekasihku, begitu kuatnya, meskipun badai dating menghadang, aku akan tetap berusaha agar dapat bertemu dengannya malam ini.&lt;br /&gt;“Ehh.. nak Hadi rupanya, ayo masuk, Arini sedari tadi menunggumu” ibunya Arini ramah menyambutku ketika aku telah tiba di rumah mereka. Memang kedua orang tua kami, orang tuaku dan orang tua Arini begitu merestui hubungan kami, karena mereka sudah saling mengenal.&lt;br /&gt;Arini menemuiku di ruang tamu, setelah ibunya masuk memanggilnya. Seakan mereka memberikan kesempatan kepada kami untuk berdua saja. Arini menemuiku, ia tampak anggun, berpakaian longgar lengan panjang dan rok panjang, dan rambut panjangnya yang terikat. Meski tidak memakai pakaian yang serba ketat, bagiku dia tetap seksi. Sikapnya mengedepankan kesederhanaan dan kesantunan. Meski Habiburrahman El Shirazy dalam novelnya Ayat-ayat Cinta menggambarkan sosok Fahri sebagai orang yang benar-benar sempurna, maka aku adalah kebalikannya. Seperti pada saat ini yang sedang berasyik masyuk berduaan bebas menebarkan pandangan dan mengumbar pesona dalam diriku, sebagai upaya untuk memikatnya.&lt;br /&gt;Ayah Arini berdehem keras sengaja memperingatkan bahwa ada mereka di rumah itu, selain kami berdua. Itu juga merupakan pertanda bahwa waktu berkunjung telah habis. Ayah dan Ibunya menemuiku, sepertinya ada hal penting yang hendak mereka utarakan. Ayah dan Ibunya seperti menginterogasiku tentang kelanjutan hubungan kami. Mereka berpendapat, tidak baik berhubungan dekat tanpa sebuah ikatan yang syah, sementara kami sudah saling mencintai, saling memahami dan mengeri perasaan masing-masing.&lt;br /&gt;“Kau benar-benar mencintai Arini kan!” ayahnya mencoba menegaskan.&lt;br /&gt;“Iya pak! Saya mencintainya” jawabku mantap.&lt;br /&gt;“Lantas tunggu apa lagi!” ayahnya kembali meminta ketegasanku.&lt;br /&gt;Aku diam seribu bahasa. Tenggorokanku seakan tercekik tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun, menandakan keraguanku atas pertanyaan mereka.&lt;br /&gt;“Sudahlah pak, jangan terlalu memaksa mas Hadi. Berikanlah dia waktu untuk berfikir” arini melakukan pembelaan padaku yang sudah terjepit ini. Berusaha mencairkan ketegangan.&lt;br /&gt;Aku mengenal Arini sebagai sosok wanita yang tegas. Mungkin karena dia anak tertua dikeluarganya. Dia memiliki kedewasaan yang mantap, meski saat berduaan denganku, tak jarang pula dia bersikap manja padaku.&lt;br /&gt;Sepertinya apa yang dilakukan kedua orang tuanya ini benar-benar atas persetujuan Arini. Kulihat di wajahnya ada gurat kekecewaan, karena kekurang tegasanku atas apa yang diinginkannya.&lt;br /&gt;Aku mohon diri dengan perasaan tak menentu. Setibanya di rumahku, Ibu dan Ayah meminta keteranganku atas apa yang telah terjadi hingga membuat ayahnya arini menelepon ke rumahku, meminta Ayah dan Ibuku menasihati aku. Sepertinya mereka semua lebih memikirkan apa yang sedang terjadi padaku. Mereka selalu lebih memikirkan apa yang selalu kuacuhkan.&lt;br /&gt;Aku memang mencintai arini. Tapi entah kenapa jika ditanya untuk menikah, aku tak bisa memberi kemantapan atas jawabanku. Mungkin pula karena hati ini masih ragu, keraguan yang tak berdasar. Aku mencoba menegaskan pada diriku sendiri. Apa kurangnya arini? Jangan kau bertindak bodoh Hadi! Arini adalah wanita ideal dan sempurna di jaman seperti sekarang ini. Tapi entahlah, aku sepertinya enggan untuk mengenal kata menikah, berkeluarga dan bertanggungjawab. Aku masih ingin bebas.&lt;br /&gt;Sejak peristiwa malam itu, arini terus menerus mencoba meminta kejelasanku tentang kelanjutan hubungan kami, baik secara langsung, lewat telepon, atau sms. Aku sampai bosan meladeninya.  Ayahku pun tak kalah gencarnya menyemangatiku untuk melamarnya.&lt;br /&gt;“Kau tidak usah khawatir, biar nanti ayah yang mengurus semuanya. Kau tahu beres saja” ayahku menasihatiku suatu ketika saat aku baru pulang kerja.&lt;br /&gt;“Aku harus pikir-pikir dulu!” jawabku.&lt;br /&gt;“Jangan kelamaan mikirnya, nanti keduluan orang lain!” ayahku mencoba memperingatkanku.&lt;br /&gt;Entahlah, tapi semakin lama hubunganku dengan Arini semakin memburuk. Dan ujung dari keburukan itu adalah putusnya hubungan pacaran kami yang telah terjalin hampir lima tahun itu. Berat bagiku untuk berpisah, karena jujur, aku masih sangat mencintai Arini, hingga detik ini.&lt;br /&gt;Purworejo, 17 Maret 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-7434248482118259678?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/7434248482118259678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=7434248482118259678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/7434248482118259678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/7434248482118259678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/03/cerpen-arini-oh-arini.html' title='Cerpen ARINI OH ARINI'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-7999038393133824656</id><published>2008-03-31T23:40:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T23:41:42.442-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>BAHASA JAWA SEBAGAI BAHASA KOMUNIKASI DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI TK DAN SD KELAS RENDAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENULIS:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, kakak perempuan saya yang salah satu putranya bersekolah di taman kanak-kanak bercerita tentang kegiatan drumband yang merupakan kegiatan rutin setiap sabtu itu. Dapat dibayangkan bagaimana mengatur anak-anak TK yang merupakan masa bermain itu. Tentulah dibutuhkan ekstra kesabaran ibu-ibu guru pengasuh. Tapi yang sungguh-sungguh disayangkan adalah cara ibu guru TK itu mengatur dan membimbing bertutur katanya dalam bahasa Indonesia. Sementara anak-anak usia pra-sekolah tersebut kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah atau dilingkungannya selalu menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian mereka. Sementara pengetahuan bahasa Indonesia mereka terbatas. Akibatnya, anak-anak itu pun berbicara menjawab ataupun bertanya kepada ibu gurunya dalam bahasa Jawa ngoko.&lt;br /&gt;Dari deskripsi singkat di atas, dapat digambarkan bahwa pengetahuan akan bahasa Jawa yang penggunaannya terdiri dari bahasa ngoko, krama, dan krama inggil bagi anak-anak orang jawa itu sendiri dapat dikatakan memprihatinkan. Bukannya maksud saya untuk mengkritik atau menyalahkan apa yang dilakukan ibu guru TK tersebut. Dan bukan pula bermaksud menganaktirikan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional dan bahasa pemersatu bangsa ini. Tapi akankah lebih baiknya apabila dalam usia-usia mereka saat ini mengenalkan dan mengakrabkan mereka dengan bahasa Jawa yang merupakan salah satu khazanah budaya bangsa Indonesia yang beranekaragam itu.&lt;br /&gt;Satu lagi cerita saat mengikuti workshop pembelajaran tematik yang diadakan UPTD Pendidikan kecamatan bruno bekerjasama dengan penerbit Erlangga yang menghadirkan pembicara Ibu Nani Rosdjiati dari Widyaiswara LPMP Jateng. Narasumber yang memiliki pengalaman mengajar sebagai guru geografi SMA itu pun menerangkan secara gamblang tentang apa itu pembelajaran tematik dan mensimulasikan bagaimana sebaiknya pembelajaran tematik itu dilakukan agar tercapai hasil yang maksimal. Acara itupun tergolong sukses karena dihadiri oleh hampir semua guru kelas I-VI dan kepala sekolah se-kecamatan bruno. Ada pertanyaan yang menggelitik dalam fikiran saya yang saya diskusikan singkat dengan peserta workshop tersebut tapi tidak coba saya utarakan pertanyaan saya itu kepada narasumber. Pertanyaan itu adalah “Apakah dalam pembelajaran tematik yang dikhususkan untuk kelas rendah (kelasI-III) tersebut dalam kegiatan belajar mengajarnya menggunakan pengantar bahasa Indonesia atau bahasa Jawa?”. Saya menganggap pertanyaan saya ketika itu tidak terlalu penting, lagipula saya takut menyinggung narasumber yang asli bandung itu.&lt;br /&gt;Dan merupakan pengalaman pribadi saya, yang seorang guru kelas IV (kelas tinggi) saat suatu hari ibu guru kelas I berhalangan hadir dan saya masuk ke kelas itu, kebetulan kelas saya diisi pelajaran Agama oleh guru PAI. Saya mencoba berbicara dalam bahasa Indonesia, dan anak-anak kelas I itupun hanya diam membisu sambil menatap saya dengan heran dan canggung. Karena menurut Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5). Maka agar apa yang saya sampaikan dapat dipahami oleh siswa, maka saya menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dalam mengajar. Memang, anak-anak seusia mereka belum mengerti betul bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Jawa adalah bahasa keseharian mereka. Bahasa Indonesia baru mereka ketahui melalui media elektronik seperti televisi, dan saat mereka duduk di bangku sekolah.&lt;br /&gt;Menurut pendapat saya, akankah lebih baiknya bila pada usia TK dan SD kelas awal (khususnya kelas I dan II), dalam kegiatan belajar mengajarnya menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi. Dan untuk SD kelas awal, bahasa Indonesia hanya sebatas mata pelajaran saja dengan alasan untuk mengenalkan bahasa Jawa lebih dahulu sebagai basic dasar sebelum mereka mengenal bahasa Indonesia dalam berkomunikasi mereka. Dan untuk menunjang hal tersebut, perlu diadakannya penataran bahasa Jawa untuk guru-guru TK dan SD yang mengajar di kelas awal, tanpa harus mengubah kurikulum, misalnya untuk SD kelas awal tetap pembelajaran tematik, tetapi dalam menyampaikan materi menggunakan bahasa Jawa. Penataran ini bertujuan untuk mengasah dan mempertajam penggunaan bahasa Jawa bagi para guru, dengan menghadirkan pakar yang benar-benar menguasai bahasa Jawa dan berpengalaman mengajar dengan komunikasi bahasa Jawa yang baik dan benar.&lt;br /&gt;Anak-anak diperkenalkan dengan bahasa Jawa yang bila dipelajari lebih dalam itu menyimpan kekayaan kata, budi bahasa dan unggah-ungguh (sopan santun) yang baik. Karena budi pekerti seseorang akan terlihat melalui bahasa yang dituturkannya. Seperti saat sekarang ini, saat berbagai macam suguhan hiburan merebak di negeri ini, kita sepertinya kehilangan budaya ketimuran kita yang terkenal santun dan ramah.&lt;br /&gt;Supadiyanto (Studi Sarjana pada Jurusan Komukasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogya &amp;amp; Jurdik Matematika FMPA UNY serta Peneliti muda pada ICRC) mengemukakan bahwa bagaimanakah posisi bahasa Jawa yang menjadi nukleus dari kehalusan tutur bahasa seseorang, kini tak mendapatkan porsi pelajaran di bangku sekolah. Mengapa, siswa tak memperoleh pelajaran bahasa Jawa, yang mengajarkan tata krama, unggah-ungguh dalam filosofi budaya Jawa. Krisis pemakaian bahasa Jawa yang terjadi di lokal area DIY dan Jawa Tengah secara umum bakal mempengaruhi kredibilitas kultur bahasa keraton ini di masa mendatang. Sudah jarang dan sulit sekali kita bisa dengan mudah menemukan siswa SD dan atau SMP yang pandai ber-casciscus memakai bahasa krama pada gurunya. Tak ada lagi ditemukan, siswa SMA yang lihai dalam berolah kata mengeksplorasikan krama inggil untuk berkomunikasi dengan orang tua atau sosok yang lebih dihormati.&lt;br /&gt;Adalah hal yang menggembirakan karena sekarang ini pelajaran bahasa Jawa menjadi mata pelajaran yang wajib diajarkan mulai dari SD sampai SMA. Itu artinya ada upaya untuk melestarikan bahasa Jawa dan membudayakan bahasa Jawa di sekolah-sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-7999038393133824656?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/7999038393133824656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=7999038393133824656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/7999038393133824656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/7999038393133824656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/03/bahasa-jawa-sebagai-bahasa-komunikasi.html' title='BAHASA JAWA SEBAGAI BAHASA KOMUNIKASI DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI TK DAN SD KELAS RENDAH'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8870847375034807110.post-1298412803072871741</id><published>2008-03-31T23:37:00.000-07:00</published><updated>2008-03-31T23:39:21.765-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Pendidikan'/><title type='text'>PENTINGNYA ALAT PERAGA DALAM MENGAJAR IPA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Dede Awan Aprianto, A.Ma (Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tujuan pengajaran IPA adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994: 61). Apabila dalam proses belajar mengajar IPA guru tidak menggunakan alat peraga, maka sulit bagi siswa untuk menyerap konsep-konsep pelajaran yang disampaikan guru sehingga berdampak pada kurangnya tingkat keberhasilan siswa dalam belajar.&lt;br /&gt;Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa (Moh. Surya, 1992: 21).&lt;br /&gt;Tiap-tiap benda yang dapat menjelaskan suatu ide, prinsip, gejala atau hukum alam, dapat disebut alat peraga Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6)&lt;br /&gt;Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar  yang efektif (Nana Sudjana, 2002: 99). Dalam kaitannya dengan pengajaran IPA, keberadaan alat peraga jelas mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan belajar mengajar. Pengajaran pada dasarnya (Nana Sudjana, 2002: 43) adalah suatu proses terjadinya interaksi guru siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yaitu kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru.&lt;br /&gt;Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5).&lt;br /&gt;Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP kelas IV SD (Depdikbud, 1994: 61) mengemukakan pembelajaran IPA di SD sebagai berikut.&lt;br /&gt;Mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.&lt;br /&gt;Pengajaran IPA bertujuan agar siswa:&lt;br /&gt;memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari&lt;br /&gt;memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitar&lt;br /&gt;mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar&lt;br /&gt;bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerjasama dan mandiri&lt;br /&gt;mampu menerapkan berbagai konsep IPA&lt;br /&gt;mampu menggunakan tekhnologi sederhana&lt;br /&gt;mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Alat peraga merupakan salah satu factor untuk mencapai efisiensi hasil belajar (Moh. Surya, 1992: 75). Keberadaan alat bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga) oleh A.Samana (2001: 21) digambarkan dalam diagram berikut.&lt;br /&gt;Tujuan Pendidikan (tujuan pengajaran)&lt;br /&gt;Guru                                                                                 Siswa&lt;br /&gt;Pendekatan  -- Metode  --  Teknik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga)&lt;br /&gt;Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6).&lt;br /&gt;Ada enam fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam bukunya Dasar-dasar Proses belajar mengajar (2002: 99-100):&lt;br /&gt;a.    Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantuuntuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif&lt;br /&gt;b.    Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar&lt;br /&gt;c.    Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran&lt;br /&gt;d.    Alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan atau bukan sekedar pelengkap&lt;br /&gt;e.    Alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru&lt;br /&gt;f.    Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar&lt;br /&gt;Di samping enam fungsi di atas, penggunaan alat peraga mempunyai nilai-nilai:&lt;br /&gt;Dengan peragaan dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme&lt;br /&gt;Dengan peragaan dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar&lt;br /&gt;Dengan peragaan dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap&lt;br /&gt;Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa&lt;br /&gt;Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan&lt;br /&gt;Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa&lt;br /&gt;Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.&lt;br /&gt;Dalam menggunakan alat peraga hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut (Nana Sudjana, 2002: 104-105)&lt;br /&gt;Menentukan jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu alat peraga manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan&lt;br /&gt;Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan tingkat kemampuan/kematangan anak didik&lt;br /&gt;Menyajikan alat peraga dengan tepat&lt;br /&gt;Menempatkan dan memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.&lt;br /&gt;R.M. Soelarko dalam buku Audio Visual media komunikasi ilmiah pendidikan penerangan (1995: 6) menggolongkan macam-macam alat peraga berdasarkan pada bahan yang dipakai:&lt;br /&gt;a. Gambar-gambar (lukisan), dalam IPA misalnya Zoologie (gambar-gambar binatang), Botanie (gambar pohon, bunga, daun, dan buah), dan gambar tentang ilmu bumi (gambar gunung, laut, danau, hutan)&lt;br /&gt;b. Benda-benda alam yang diawetkan, misalnya daun kering yang dipres, bunga, serangga misalnya kupu-kupu, jangkrik, belalang.&lt;br /&gt;c. Model, Fantom, dan Manikkin. Yang disebut model adalah bentuk tiruan dalam skala kecil. Fantom atau Manikkin adalah model anatomi dari bagian-bagian tubuh manusia itu sendiri misal rangka manusia.&lt;br /&gt;REFERENSI&lt;br /&gt;A. Samana, 2001, Sistem Pengajaran, Yogyakarta: Kanisius&lt;br /&gt;Depdikbud, 1994, Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-garis Besar Program Pengajaran Kelas IV SD, Dirjen Dikti Bagian Proyek Pengembangan PGSD&lt;br /&gt;Dimyati dan Mudjiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta&lt;br /&gt;Moh. Surya, 1992, Psikologi Pendidikan, Bandung: IKIP Bandung&lt;br /&gt;Nana Sudjana, 1990, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya&lt;br /&gt;Nana Sudjana, 2002, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo&lt;br /&gt;Ngalim Purwanto, 1998, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya&lt;br /&gt;R.M. Soelarko, 1995, Audio Visual Media Komunikasi Ilmiah Pendidikan Penerangan, Binacipta&lt;br /&gt;Tim Penulis Psikologi Pendidikan, 1993, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UPT IKIP Yogyakarta&lt;br /&gt;Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8870847375034807110-1298412803072871741?l=dedeawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dedeawan.blogspot.com/feeds/1298412803072871741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8870847375034807110&amp;postID=1298412803072871741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/1298412803072871741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8870847375034807110/posts/default/1298412803072871741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dedeawan.blogspot.com/2008/03/pentingnya-alat-peraga-dalam-mengajar.html' title='PENTINGNYA ALAT PERAGA DALAM MENGAJAR IPA'/><author><name>dedeawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308878788221973864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_UIEC5igw13k/SnbQvyXEzQI/AAAAAAAAAAw/KYYYgFtvVRE/S220/6611_1021916123437_1691220856_41890_803157_n++editan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
