Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 27 Agustus 2014
Sukseskan Kurikulum 2013
Pemerintah selalu berusaha untuk meningkatakan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satunya melalui penerapan kurikulum 2013. Kurikulum ini mengedepankan aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan) siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Inilah yang diklaim sebagai pembeda dari kurikulum 2013 ini dengan kurikulum terdahulu yang katanya terlalu mengutamakan aspek kognitif (pengetahuan).
Benarkah itu? Tentu saja benar. Karena Pemerintah (melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) dalam memutuskan untuk menerapkan kurikulum 2013 di sekolah-sekolah ini pastinya dengan berbagai pertimbangan dan serangkaian kajian ilmiah.
Salah satunya berangkat dari Refleksi Hasil TIMSS 2007 bahwa hanya 5% siswa Indonesia yang dapat mengerjakan soal-soal dalam katagori tinggi dan advance [memerlukan reasoning], sedangkan 71% siswa Korea sanggup. Dalam perspektif lain, 78% siswa Indonesia hanya dapat mengerjakan soal-soal dalam katagori rendah [hanya memerlukan knowing, atau hafalan], Perlunya mengembangkan kurikulum yang menuntut penguatan reasoning.
Kurikulum 2013 ini diharapkaan dapat membangun manusia Indonesia yang lebih berkarakter. Sesuai dengan tujuan kurikulum 2013 yaitu mempersiapkan insan Indonesia untuk memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dan peradaban dunia
Kurikulum menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (19) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Di negeri ini, perkembangan kurikulum disesuaikan dengan tuntutan kemajuan zaman.
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
Kurikulum 2013 secara serentak diberlakukan mulai tahun pelajaran 2014/2015 ini.
Pelatihan-pelatihan dengan sasaran para guru di seluruh Indonesia secara besar-besaran dilaksanakan ibarat sinetron striping “kejar tayang”. Kurikulum yang mulai berjalan pertengahan bulan Juli 2014 ini merupakan jawaban dari Mendikbud Mohammad Nuh bahwa kurikulum 2013 ini memang telah matang disiapkan Kemdikbud.
Beberapa guru yang mewakili daerahnya masing-masing mengikuti pelatihan implementasi kurikulum 2013 di tingkat provinsi, maka menjadi petugas berikutnya yang menularkan ilmu yang baru didapatnya itu untuk disampaikan kepada guru-guru lain di daerahnya. Hasil penyelenggaraan di tingkat kabupaten kemudian dilaporkan kepada LPMP sebagai penjamin mutu pendidikan.
Para guru pun antusias mengikuti, pelatihan itu. Para guru yang selalu peka terhadap perkembangan zaman menyambut baik dengan kurikulum ini. diharapkan dengan pembenahan kurikulum ini, guru sebagai baris terdepan dalam dunia pendidikan semakin bersemangat dan memudahkan guru dalam kegiatan pembelajaran, mengingat buku-buku untuk kurikulum 2013 ini sama untuk semua sekolah di Indonesia. Dengan adanya buku siswa dan buku guru, diharap guru paham betul tentang kegiatan pembelajatan yang menuntut keaktifan siswa dalam belajar. Dengan pendekatan tematik diharap siswa mampu menguasai ilmu secara utuh. Mari, kita sukseskan kurikulum 2013.
Dede Awan Aprianto
Label:
Artikel Pendidikan,
Kbm,
Pendidikan,
Tulisan Lepas
Minggu, 19 April 2009
Kekerasan Pelajar Putri, Potret Buram Pendidikan Keluarga
Kekerasan Pelajar Putri, Potret Buram Pendidikan Keluarga
Akhir-akhir ini marak terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sesama pelajar. Parahnya, tindak kekerasan ini banyak yang diabadikan dalam rekaman video handphone, tekhnologi yang bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, termasuk pelajar. Lebih parahnya lagi, kekerasan pelajar tersebut tidak hanya terjadi pada pelajar putra saja, tetapi juga pelajar putri.
Masyarakat kita sepertinya sudah biasa disuguhi adegan-adegan yang direkam dengan video handphone. Mulai dari video mesum yang dilakukan oleh publik figur, video adegan panas yang dilakukan oleh pelajar, video kekerasan yang dilakukan guru terhadap murid, video perpeloncoan senior terhadap yuniornya, dan video-video yang lain dengan judul dan berita yang lebih memukau. Rekaman video tersebut dengan mudahnya tersebar lewat kecanggihan tekhnologi informasi dan komunikasi saat ini.
Tapi yang membuat saya tidak habis pikir adalah kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri yang dalam tayangan videonya tampak dilihat oleh banyak orang, ditonton, atau lebih tepatnya disemangati oleh yang menonton ibarat menyaksikan pertandingan tinju saja. Perempuan sosok yang anggun itu, tampaknya telah berubah paradigmanya menjadi perempuan petarung yang handal. Sungguh sebuah ironi.
Ada yang mengatakan, dimana sebenarnya kontrol pihak sekolah dalam memantau siswanya?, mengingat kejadian itu dilakukan oleh pelajar, masih berseragam pula. Ada yang bertanya, dimana peran keluarga dalam memberikan pendidikan kepada putra-putrinya?. Menurut saya, kekerasan pelajar sebenarnya merupakan hal yang sering terjadi di kalangan pelajar. Kita mengenal istilah bullying. Hanya saja mungkin dulu tidak direkam dalam handphone, sehingga tidak semua orang bisa menyaksikan hal itu.
Kegagalan Pendidikan dalam Keluarga
Kekerasan atau perkelahian yang dilakukan oleh pelajar putri sebenarnya merupakan sebuah indikasi yang menandakan bahwa telah rusaknya tatanan dalam masyarakat, runtuhnya budaya malu, hilangnya tenggang rasa dan kekeluargaan, musnahnya kesabaran yang dilandasi kasih sayang, dan kegagalan pendidikan dalam keluarga.
Pendidikan keluarga adalah proses transformasi perilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat, sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Secara tersirat dipahami bahwa bahwa tujan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Memperhatikan tujuan tersebut maka pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya. Adapun isi pendidikan dalam keluarga biasanya, meliputi nilai agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan (Dinn Wahyudin, 2008).
Tidak ada kontrol dari keluarga, khususnya para orang tua yang tidak sempat lagi memberikan pendidikan dalam keluarga karena lebih sibuk dengan memenuhi ekonomi keluarga, telah membuat pelajar kita tidak memiliki kontrol diri dalam pergaulannya. Sehingga perkelahian pun marak terjadi karena mereka tidak memiliki sikap sabar dan sikap saling menghargai. Tayangan televisi bisa dikatakan menjadi penyebab merosotnya moral pelajar kita. Misalkan ada sebuah tayangan sinetron mengisahkan pelajar remaja yang berseteru hingga berusaha untuk melukainya. Peristiwa semacam ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kepribadian anak.
Pembentukan Kepribadian Anak
Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan oleh orang tua yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, sopan santun, etika, agar anak menjadi lebih siap untuk berperilaku baik dalam kehidupan masyarakat dan menghormati orang lain. Jika setiap keluarga menanamkan nilai-nilai etika yang benar maka semua manusia akan hidup berdampingan dan damai.
Sebagai orang tua, marilah kita pantau anak-anak kita agar terhindar dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh temannya atau melakukan kekerasan terhadap temannya. Walau bagaimanapun, anak tetaplah sosok yang mudah kita nasehati apabila kitapun memberikan contoh yang baik buat mereka. Pendidikan dalam keluarga sangatlah penting dan utama dalam keseluruhan proses pendidikan anak. Bila memiliki anak perempuan, didiklah mereka agar sadar akan posisi keperempuanannya. Tidak baik jika sampai dilihat orang kalau ada anak perempuan yang berkelahi.
Dede Awan Aprianto, A.Ma.
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Akhir-akhir ini marak terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sesama pelajar. Parahnya, tindak kekerasan ini banyak yang diabadikan dalam rekaman video handphone, tekhnologi yang bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, termasuk pelajar. Lebih parahnya lagi, kekerasan pelajar tersebut tidak hanya terjadi pada pelajar putra saja, tetapi juga pelajar putri.
Masyarakat kita sepertinya sudah biasa disuguhi adegan-adegan yang direkam dengan video handphone. Mulai dari video mesum yang dilakukan oleh publik figur, video adegan panas yang dilakukan oleh pelajar, video kekerasan yang dilakukan guru terhadap murid, video perpeloncoan senior terhadap yuniornya, dan video-video yang lain dengan judul dan berita yang lebih memukau. Rekaman video tersebut dengan mudahnya tersebar lewat kecanggihan tekhnologi informasi dan komunikasi saat ini.
Tapi yang membuat saya tidak habis pikir adalah kekerasan yang dilakukan oleh pelajar putri yang dalam tayangan videonya tampak dilihat oleh banyak orang, ditonton, atau lebih tepatnya disemangati oleh yang menonton ibarat menyaksikan pertandingan tinju saja. Perempuan sosok yang anggun itu, tampaknya telah berubah paradigmanya menjadi perempuan petarung yang handal. Sungguh sebuah ironi.
Ada yang mengatakan, dimana sebenarnya kontrol pihak sekolah dalam memantau siswanya?, mengingat kejadian itu dilakukan oleh pelajar, masih berseragam pula. Ada yang bertanya, dimana peran keluarga dalam memberikan pendidikan kepada putra-putrinya?. Menurut saya, kekerasan pelajar sebenarnya merupakan hal yang sering terjadi di kalangan pelajar. Kita mengenal istilah bullying. Hanya saja mungkin dulu tidak direkam dalam handphone, sehingga tidak semua orang bisa menyaksikan hal itu.
Kegagalan Pendidikan dalam Keluarga
Kekerasan atau perkelahian yang dilakukan oleh pelajar putri sebenarnya merupakan sebuah indikasi yang menandakan bahwa telah rusaknya tatanan dalam masyarakat, runtuhnya budaya malu, hilangnya tenggang rasa dan kekeluargaan, musnahnya kesabaran yang dilandasi kasih sayang, dan kegagalan pendidikan dalam keluarga.
Pendidikan keluarga adalah proses transformasi perilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat, sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Secara tersirat dipahami bahwa bahwa tujan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik. Memperhatikan tujuan tersebut maka pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai persiapan ke arah kehidupan anak dalam masyarakatnya. Adapun isi pendidikan dalam keluarga biasanya, meliputi nilai agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan (Dinn Wahyudin, 2008).
Tidak ada kontrol dari keluarga, khususnya para orang tua yang tidak sempat lagi memberikan pendidikan dalam keluarga karena lebih sibuk dengan memenuhi ekonomi keluarga, telah membuat pelajar kita tidak memiliki kontrol diri dalam pergaulannya. Sehingga perkelahian pun marak terjadi karena mereka tidak memiliki sikap sabar dan sikap saling menghargai. Tayangan televisi bisa dikatakan menjadi penyebab merosotnya moral pelajar kita. Misalkan ada sebuah tayangan sinetron mengisahkan pelajar remaja yang berseteru hingga berusaha untuk melukainya. Peristiwa semacam ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kepribadian anak.
Pembentukan Kepribadian Anak
Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan oleh orang tua yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, sopan santun, etika, agar anak menjadi lebih siap untuk berperilaku baik dalam kehidupan masyarakat dan menghormati orang lain. Jika setiap keluarga menanamkan nilai-nilai etika yang benar maka semua manusia akan hidup berdampingan dan damai.
Sebagai orang tua, marilah kita pantau anak-anak kita agar terhindar dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh temannya atau melakukan kekerasan terhadap temannya. Walau bagaimanapun, anak tetaplah sosok yang mudah kita nasehati apabila kitapun memberikan contoh yang baik buat mereka. Pendidikan dalam keluarga sangatlah penting dan utama dalam keseluruhan proses pendidikan anak. Bila memiliki anak perempuan, didiklah mereka agar sadar akan posisi keperempuanannya. Tidak baik jika sampai dilihat orang kalau ada anak perempuan yang berkelahi.
Dede Awan Aprianto, A.Ma.
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Label:
Artikel Pendidikan,
kekerasan,
Pendidikan
Rabu, 24 September 2008
Kisah Guru dalam Novel Indonesia
Novel adalah cerita yang melukiskan sebagian hidup pelaku yang penting saja. Bahasanya sederhana atau bahasa sehari-hari dan bersifat realisme (nyata) atau naturalisme (alami). Penulis menemukan beberapa kisah guru dalamnovel atau novel yang bertema pendidikan yang menyangkut kisah tentang kehidupan guru. Setidaknya cuplikan novel ini menggambarkan keberadaan guru pada masanya, dan menjadi renungan untuk perjuangan guru dalam memajukan pendidikan.
Novel Kasih Ibu (1932) karya Paulus Supit terbitan Balai Pustaka mengisahkan Corrie yang berhasil menjadi guru yang diikuti pula oleh adik bubgsunya Rudolf. Melalui perjuangan dan kasih saying seorang ibu yang ingin anak-anaknya bersekolah dan sampai pada cita-cita yang diinginkannya. Mochtar Lubis dengan novel Jalan Tak Ada Ujung (1952) terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Isa, seorang guru sekolah rakyat di Tanah abang yang terlibat dalam pergolakan revolusi yang sedang terjadi.
Orang Buangan (1971) novel Harijadi S. Hartowardjojo terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Tantri, guru sekolah dasar di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyalit dan banyak yang meninggal. SangGuru (1973) masih terbitan Pustaka Jaya, novel karya GersonPoyk ini mengisahkan kehidupan guru di pulau Ternate pada masa pemberontakan Permesta.
Pustaka Jaya menerbitkan Pergolakan (1974) karya Wildan Yatim mengisahkan guru Abdul Salam yang juga mubaligh, seorang guru yang ditempattugaskan di sebuah desa yang dianggap menyimpang dalam menerapkan ajaran Islam. Novel ini juga menceritakan kegelisahan penduduk desa di pinggiran hutan sumatera akibat pemberontakan PRRI/Permesta dan juga terror dan intrik PKI.
Pertemuan Dua Hati (1986) karya Nh. Dini terbitan Gramedia mengisahkan Ibu Guru Suci, guru SD di Semarang dalam menghadapi Waskito, muridnya yang bandel, sementara di satu sisi anak kandungnya sendiri mengidap penyakit ayan yang memerlikan perawatan intensif. Novel ini juga memberikan gambaran bahwa murid yang nakal bila ditangani dengan pendekatan dan cara yang tepat akan kembali menjadi murid yang wajar tentunya dengan ekstra kesabaran seorang guru.
Lascar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata terbitan Bentang Pustaka mengisahkan Bapak Harfan dan Ibu Muslimah dalam mendidik anak SD Muhammadiyah di ppppPilau Belitong. Novel Best-seller ini juga menceritakan Ikal (Andrea Hirata, penulis novelnya) dalam menempuh pendidikan bersama teman-temannya.
Rumah Pelangi (2008) terbitan Arti Bumi Intaran karya Samsikin Abu Daldiri mengisahkan Bu Samsikin, seorang guru perempuan jawa di era 60-an.
Demikianlah beberapa kisah guru dalam novel Indonesia. Masih banyak lagi novel-novel tentang kisah guru yang penulis tidak ketahui. Tapi setidaknya dapat memberikan gambaran tentang perjuangan guru dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Novel Kasih Ibu (1932) karya Paulus Supit terbitan Balai Pustaka mengisahkan Corrie yang berhasil menjadi guru yang diikuti pula oleh adik bubgsunya Rudolf. Melalui perjuangan dan kasih saying seorang ibu yang ingin anak-anaknya bersekolah dan sampai pada cita-cita yang diinginkannya. Mochtar Lubis dengan novel Jalan Tak Ada Ujung (1952) terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Isa, seorang guru sekolah rakyat di Tanah abang yang terlibat dalam pergolakan revolusi yang sedang terjadi.
Orang Buangan (1971) novel Harijadi S. Hartowardjojo terbitan Pustaka Jaya mengisahkan Guru Tantri, guru sekolah dasar di sebuah desa yang penduduknya terkena wabah penyalit dan banyak yang meninggal. SangGuru (1973) masih terbitan Pustaka Jaya, novel karya GersonPoyk ini mengisahkan kehidupan guru di pulau Ternate pada masa pemberontakan Permesta.
Pustaka Jaya menerbitkan Pergolakan (1974) karya Wildan Yatim mengisahkan guru Abdul Salam yang juga mubaligh, seorang guru yang ditempattugaskan di sebuah desa yang dianggap menyimpang dalam menerapkan ajaran Islam. Novel ini juga menceritakan kegelisahan penduduk desa di pinggiran hutan sumatera akibat pemberontakan PRRI/Permesta dan juga terror dan intrik PKI.
Pertemuan Dua Hati (1986) karya Nh. Dini terbitan Gramedia mengisahkan Ibu Guru Suci, guru SD di Semarang dalam menghadapi Waskito, muridnya yang bandel, sementara di satu sisi anak kandungnya sendiri mengidap penyakit ayan yang memerlikan perawatan intensif. Novel ini juga memberikan gambaran bahwa murid yang nakal bila ditangani dengan pendekatan dan cara yang tepat akan kembali menjadi murid yang wajar tentunya dengan ekstra kesabaran seorang guru.
Lascar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata terbitan Bentang Pustaka mengisahkan Bapak Harfan dan Ibu Muslimah dalam mendidik anak SD Muhammadiyah di ppppPilau Belitong. Novel Best-seller ini juga menceritakan Ikal (Andrea Hirata, penulis novelnya) dalam menempuh pendidikan bersama teman-temannya.
Rumah Pelangi (2008) terbitan Arti Bumi Intaran karya Samsikin Abu Daldiri mengisahkan Bu Samsikin, seorang guru perempuan jawa di era 60-an.
Demikianlah beberapa kisah guru dalam novel Indonesia. Masih banyak lagi novel-novel tentang kisah guru yang penulis tidak ketahui. Tapi setidaknya dapat memberikan gambaran tentang perjuangan guru dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Dede Awan Aprianto
Guru SDN Rowopanjang Bruno Purworejo
Kamis, 04 September 2008
Hentikan Kekerasan Pada Anak Didik!
Guru adalah orang tua di sekolah. Pendapat ini sering disalahartikan oleh para orang tua siswa bahwa segala hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan anak-anaknya adalah tanggung jawab guru. Padahal guru hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Orang tua di rumah menghadapi tingkah satu anak saja sudah dibuat repot. Apalagi kalau ada puluhan anak di kelas dengan segala tingkahnya, apa tidak semakin repot?.
Peringatan dan hukuman sering dilakukan kepada anak didik yang dianggap nakal dengan tujuan untuk memberikan efek jera kepada anak didik agar perbuatan itu tidak akan dilakukan lagi. Peringatan bias dilakukan dengan ucapan (bahkan bentakan) sedangkan hukuman misalnya menyuruh anak berdiri di depan kelas, lari keliling lapangan, dikeluarkan dari dalam kelas, atau mungkin dengan jeweran di telinga.
Tapi hati-hati, hukuman yang kita lakukan yang awal mulanya bertujuan baik, bias kebablasan dan berakibat fatal sehingga menjadi bahan konsumsi media seperti berikut:
Dua siswa sekolah dianiaya guru, korban mengalami luka memar di bagian punggung akibat dipukul sang guru menggunakan kayu (okezone.com 22/04/2008). 41 siswa dianiaya guru, seluruh siswa dibariskan di depan kelas, dan dengan dengan sekuat tenaga memukuli siswa yang sebagian besarnya wanita dengan menggunakan ikat pinggang (sijomandiri.net 07/06/2008). Karena salah menghitung saat melemparkan bola basket kepada temannya, seorang siswa harus rela menerima pukulan dan tendangan dari gurunya (liputan6.com 09/05/2007). Seorang siswa dianiaya di ruang kelas saat istirahat karena siswa lain dibuatnya menangis dan tanpa permisi sang guru langsung melayangkan lengan kanannya ke pipi siswa dengan cara menahan pipi kirinya dengan tangan kiri (rakyatmerdeka.co.id 30/01/2007). Siswa tidak kerjakan PR dianiaya guru (antara.co.id 02/05/2007). Siswa geger otak karena dianiaya guru (detiknews.com 07/06/2008).
Menurut Blask (1951), kekerasan adalah pemakaian kekuatan yang tidak adil dan tidak dapat dibenarkan yang disertai dengan emosi yang hebat, atau kemarahan yang tak terkendali, tiba-tiba, bertenaga, kasar dan menghina.
Menurut KUHP pasal 29, melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil atau sekuat mungkin, secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dan sebagainya sehingga orang yang terkena tindakan itu merasa sakit yang sangat.
Hukuman fisik biasanya dijalankan oleh guru dibawah kondisi tekanan emosional yang dipicu oleh perilaku murid. Untuk menghindari kekerasan pada anak didik, guru harus memahami psikologi anak yang menyangkut perkembangan anak serta dinamika kejiwaan secara umum. Dengan pendekatan psikologi, diharapkan guru dapat menemukan cara yang lebih efektif dan sehat untuk menghadapi anak didik.
Undang-undang no 23/2002 tentang perlindungan anak, juga menegaskan partisipasi anak yang berbunyi "Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatuhan".
Anak di kelas diberi cap nakal, betulkah ia seorang yang nakal? Apa yang kita lihat nakal? Mungkin dibalik itu ada sesuatu yang kita tidak pahami. Oleh karena itu, sangat arif jika seorang guru lebih dahulu memahami mengapa seorang siswa berperilaku seperti itu.
Penelitian UNICEF 2006 di tiga daerah yaitu Jateng, Sumsel, dan Sumut, tercatat sekitar 80% tindak kekerasan yang dilakukan sejumlah guru terhadap anak didik mereka di sekolah.
Menurut Abd Assegaf (2004), factor kekerasan internal di lingkungan pendidikan sekolah sangat memeberikan pengaruh langsung pada perilaku siswa.
Guru sebagai sebuah profesi harus dapat mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Guru harus tampil sebagai sosok yang disegani, bukan ditakuti. Membimbing anak didik dengan sabar karena kemampuan dan pertumbuhan intelektual setiap anak berbeda-beda. Menurut Fathor Rahman MD (2008), kemampuan mendidik dengan cara yang halus dan edukatif juga merupakan profesionalitas yang jauh lebih berharga daripada kemapanan sisis intelektualnya. Oleh karena itu, penting ditanamkan sebuah pemahaman bahwa tugas guru sejatinya tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik.
Guru jangan pernah berhenti memberikan pengabdian yang terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, agar tercipta generasi muda Indonesia yang unggul dalam prestasi dan berbudi pekerti terpuji.
PENULIS:
Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Alamat rumah: Dadirejo 01/04, Bagelen, Purworejo 54174 (Hp.081328835359)
Email:dedeawanap@yahoo.co.id
Peringatan dan hukuman sering dilakukan kepada anak didik yang dianggap nakal dengan tujuan untuk memberikan efek jera kepada anak didik agar perbuatan itu tidak akan dilakukan lagi. Peringatan bias dilakukan dengan ucapan (bahkan bentakan) sedangkan hukuman misalnya menyuruh anak berdiri di depan kelas, lari keliling lapangan, dikeluarkan dari dalam kelas, atau mungkin dengan jeweran di telinga.
Tapi hati-hati, hukuman yang kita lakukan yang awal mulanya bertujuan baik, bias kebablasan dan berakibat fatal sehingga menjadi bahan konsumsi media seperti berikut:
Dua siswa sekolah dianiaya guru, korban mengalami luka memar di bagian punggung akibat dipukul sang guru menggunakan kayu (okezone.com 22/04/2008). 41 siswa dianiaya guru, seluruh siswa dibariskan di depan kelas, dan dengan dengan sekuat tenaga memukuli siswa yang sebagian besarnya wanita dengan menggunakan ikat pinggang (sijomandiri.net 07/06/2008). Karena salah menghitung saat melemparkan bola basket kepada temannya, seorang siswa harus rela menerima pukulan dan tendangan dari gurunya (liputan6.com 09/05/2007). Seorang siswa dianiaya di ruang kelas saat istirahat karena siswa lain dibuatnya menangis dan tanpa permisi sang guru langsung melayangkan lengan kanannya ke pipi siswa dengan cara menahan pipi kirinya dengan tangan kiri (rakyatmerdeka.co.id 30/01/2007). Siswa tidak kerjakan PR dianiaya guru (antara.co.id 02/05/2007). Siswa geger otak karena dianiaya guru (detiknews.com 07/06/2008).
Menurut Blask (1951), kekerasan adalah pemakaian kekuatan yang tidak adil dan tidak dapat dibenarkan yang disertai dengan emosi yang hebat, atau kemarahan yang tak terkendali, tiba-tiba, bertenaga, kasar dan menghina.
Menurut KUHP pasal 29, melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil atau sekuat mungkin, secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang dan sebagainya sehingga orang yang terkena tindakan itu merasa sakit yang sangat.
Hukuman fisik biasanya dijalankan oleh guru dibawah kondisi tekanan emosional yang dipicu oleh perilaku murid. Untuk menghindari kekerasan pada anak didik, guru harus memahami psikologi anak yang menyangkut perkembangan anak serta dinamika kejiwaan secara umum. Dengan pendekatan psikologi, diharapkan guru dapat menemukan cara yang lebih efektif dan sehat untuk menghadapi anak didik.
Undang-undang no 23/2002 tentang perlindungan anak, juga menegaskan partisipasi anak yang berbunyi "Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatuhan".
Anak di kelas diberi cap nakal, betulkah ia seorang yang nakal? Apa yang kita lihat nakal? Mungkin dibalik itu ada sesuatu yang kita tidak pahami. Oleh karena itu, sangat arif jika seorang guru lebih dahulu memahami mengapa seorang siswa berperilaku seperti itu.
Penelitian UNICEF 2006 di tiga daerah yaitu Jateng, Sumsel, dan Sumut, tercatat sekitar 80% tindak kekerasan yang dilakukan sejumlah guru terhadap anak didik mereka di sekolah.
Menurut Abd Assegaf (2004), factor kekerasan internal di lingkungan pendidikan sekolah sangat memeberikan pengaruh langsung pada perilaku siswa.
Guru sebagai sebuah profesi harus dapat mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Guru harus tampil sebagai sosok yang disegani, bukan ditakuti. Membimbing anak didik dengan sabar karena kemampuan dan pertumbuhan intelektual setiap anak berbeda-beda. Menurut Fathor Rahman MD (2008), kemampuan mendidik dengan cara yang halus dan edukatif juga merupakan profesionalitas yang jauh lebih berharga daripada kemapanan sisis intelektualnya. Oleh karena itu, penting ditanamkan sebuah pemahaman bahwa tugas guru sejatinya tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik.
Guru jangan pernah berhenti memberikan pengabdian yang terbaik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, agar tercipta generasi muda Indonesia yang unggul dalam prestasi dan berbudi pekerti terpuji.
PENULIS:
Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Alamat rumah: Dadirejo 01/04, Bagelen, Purworejo 54174 (Hp.081328835359)
Email:dedeawanap@yahoo.co.id
Senin, 16 Juni 2008
Permainan Lomba Cerdas Cermat, Pembelajaran Menyenangkan
Oleh Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Dulu di TVRI pernah ditayangkan Lomba Cerdas Cermat baik itu untuk tingkat SD ataupun SMP. Saya pun membayangkan seandainya saya mengikuti lomba tersebut dan memenangkannya, alangkah bahagianya. Saying, harapan itu tidak pernah kesampain meskipun pernah diberi kesempatan, namun gagal di babak seleksi.
Sekarang ini sudah jarang dijumpai acara televise yang bertemakan pendidikan seperti Lomba Cerdas Cermat karena acara televise saat ini lebih bersifat komersil dan bersifat hiburan semata serta mengenyampingkan acara yang bernilai.
Sebagai serang guru, kita pernah mendapaykan materi pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) atau saya lebih senang menyebutnya PAIKEM Gembrot (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Genbira dan Berbobot). Saya kira semua guru sudah paham apa itu pembelajaran PAKEM. Tapi yang tinbul dalam benak saya adalah sudahkah kita sebagai guru melaksanakan PAKEM tersebut?.
Saya mempunyai sedikit pengalaman sederhana tentang bagaimana pembelajaran yang efektif, karena menurut M.Sobri Sutikno (2007), pembelajaran efektif bukan membuat anda pusing, tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan.
Pada minggu-minggu terakhir dalam satu semester atau sebelum UAS dilaksanakan, biasanya materi pelajaran yang harus diajarkan untuk satu semester, sudah selesai. Untuk mengingatkan kembali siswa dengan pelajaran yang telah didapatnya, saya mengajak kepada bapak dan ibu guru untuk melakukan permainan Lomba Cerdas Cermat. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:
Ajaklah siswa untuk bermain. Saya lebih senang menggunakan kata bermain, tatapi intinya adalah bermain sambil belajar.
Bentuklah siswa menjadi dua sampai lima regu, dan setiap regu terdiri darai tiga anak.
Kondisikan siswa untuk larut dalam sebuah Lomba, dimana ada peserta, penonton, pembawa acara, pencatat skor/ nilai, dan bila memungkinkan adanya hadiah untuk pemenang lomba.
Guru menjadi pembawa acara, pembaca soal pertanyaan, dan berperan penuh terhadap jalannya permainan, termasuk memberi semangat kepada peserta, dan mengajak penonton memberikqan tepuk tamngan dan dukungan kepada peserta.
Guru telah menyiapkan soal pertanyaan yang dilombakan. Soal diambil dari materi satu pelajaran atau beberapa pelajaran.
Lomba terdiri dari 2 babak
Babak I, regu A mengambil soal pilihan untuk dipilih. Soal pilihan sebanyak regu yang bermain saat itu. Soal pilihan bias terdiri dari 5-10 soal. Bila regu A tidak bias menjawab atau menjawab salah, soal bias dilempar untuk dijawab regu berikutnya, begitupun seterusnya.
Babak II adalah menjawab soal rebutan yang dibacakan dengan aturan menjawab terlebih dahulu tunjuk jari bagi peserta.
Babak I untuk soal yang dijawab betul skor 100, dan jika salah tidak ada pengurangan.
Babak II untuk soal yang dijawab betul skor 100, dan jika salah dikurangi 50 (-50)
Tata cara permainan ini bias disesuaikan dengan kondisi yang ada, ataupun dengan kreatifitas yang lebih efektif dan menyenangkan.
Dari kegiatan Permainan Lomba Cerdas Cermat ini, dapat saya tarik kesimpulan sebagai berikut:
Mengingatkan kembali siswa dengan pelajaran yang pernah disampaikan, karena soal pertanyaan terdiri dari rangkuman pokok pelajaran.
Meningkatkan motivasi siswa, karena meningkatkan motivasi adalah dengan memberikan tujuan (memenangkan lomba), memberikan pujian, memberikan penghargaan (hadiah), memberikan hukuman (pengurangan skor), dan memberikan persaingan (kompetisi).
Mempraktekan cara berpikir cepat dan tepat.
Siswa belajar bekerjasama dengan teman satu regu.
Pembentukan karakter siswa untuk berani, menghilangkan rasa tidak percaya diri, dan tegas dalam mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya.
Memberikan pengalaman baru bagi siswa.
Memberikan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan menghibur.
Kiranya, pengalaman sederhana ini bermanfaat dan memberikan inspirasi kepada guru untuk mempraktekan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Karena, mengutip perkataan Mantan Mendikbud Fuad Hassan “Jangan terlalu rebut dengan kurikulum dan sistemnya, itu semua bukan apa-apa. Justru pelaku-pelakunya itulah yang lebih penting diperhatikan”.
PENULIS:
Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Alamat rumah: Dadirejo 01/04, Bagelen, Purworejo 54174 (Hp.081328835359)Email:dedeawanap@yahoo.co.id
Dulu di TVRI pernah ditayangkan Lomba Cerdas Cermat baik itu untuk tingkat SD ataupun SMP. Saya pun membayangkan seandainya saya mengikuti lomba tersebut dan memenangkannya, alangkah bahagianya. Saying, harapan itu tidak pernah kesampain meskipun pernah diberi kesempatan, namun gagal di babak seleksi.
Sekarang ini sudah jarang dijumpai acara televise yang bertemakan pendidikan seperti Lomba Cerdas Cermat karena acara televise saat ini lebih bersifat komersil dan bersifat hiburan semata serta mengenyampingkan acara yang bernilai.
Sebagai serang guru, kita pernah mendapaykan materi pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) atau saya lebih senang menyebutnya PAIKEM Gembrot (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Genbira dan Berbobot). Saya kira semua guru sudah paham apa itu pembelajaran PAKEM. Tapi yang tinbul dalam benak saya adalah sudahkah kita sebagai guru melaksanakan PAKEM tersebut?.
Saya mempunyai sedikit pengalaman sederhana tentang bagaimana pembelajaran yang efektif, karena menurut M.Sobri Sutikno (2007), pembelajaran efektif bukan membuat anda pusing, tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan.
Pada minggu-minggu terakhir dalam satu semester atau sebelum UAS dilaksanakan, biasanya materi pelajaran yang harus diajarkan untuk satu semester, sudah selesai. Untuk mengingatkan kembali siswa dengan pelajaran yang telah didapatnya, saya mengajak kepada bapak dan ibu guru untuk melakukan permainan Lomba Cerdas Cermat. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:
Ajaklah siswa untuk bermain. Saya lebih senang menggunakan kata bermain, tatapi intinya adalah bermain sambil belajar.
Bentuklah siswa menjadi dua sampai lima regu, dan setiap regu terdiri darai tiga anak.
Kondisikan siswa untuk larut dalam sebuah Lomba, dimana ada peserta, penonton, pembawa acara, pencatat skor/ nilai, dan bila memungkinkan adanya hadiah untuk pemenang lomba.
Guru menjadi pembawa acara, pembaca soal pertanyaan, dan berperan penuh terhadap jalannya permainan, termasuk memberi semangat kepada peserta, dan mengajak penonton memberikqan tepuk tamngan dan dukungan kepada peserta.
Guru telah menyiapkan soal pertanyaan yang dilombakan. Soal diambil dari materi satu pelajaran atau beberapa pelajaran.
Lomba terdiri dari 2 babak
Babak I, regu A mengambil soal pilihan untuk dipilih. Soal pilihan sebanyak regu yang bermain saat itu. Soal pilihan bias terdiri dari 5-10 soal. Bila regu A tidak bias menjawab atau menjawab salah, soal bias dilempar untuk dijawab regu berikutnya, begitupun seterusnya.
Babak II adalah menjawab soal rebutan yang dibacakan dengan aturan menjawab terlebih dahulu tunjuk jari bagi peserta.
Babak I untuk soal yang dijawab betul skor 100, dan jika salah tidak ada pengurangan.
Babak II untuk soal yang dijawab betul skor 100, dan jika salah dikurangi 50 (-50)
Tata cara permainan ini bias disesuaikan dengan kondisi yang ada, ataupun dengan kreatifitas yang lebih efektif dan menyenangkan.
Dari kegiatan Permainan Lomba Cerdas Cermat ini, dapat saya tarik kesimpulan sebagai berikut:
Mengingatkan kembali siswa dengan pelajaran yang pernah disampaikan, karena soal pertanyaan terdiri dari rangkuman pokok pelajaran.
Meningkatkan motivasi siswa, karena meningkatkan motivasi adalah dengan memberikan tujuan (memenangkan lomba), memberikan pujian, memberikan penghargaan (hadiah), memberikan hukuman (pengurangan skor), dan memberikan persaingan (kompetisi).
Mempraktekan cara berpikir cepat dan tepat.
Siswa belajar bekerjasama dengan teman satu regu.
Pembentukan karakter siswa untuk berani, menghilangkan rasa tidak percaya diri, dan tegas dalam mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya.
Memberikan pengalaman baru bagi siswa.
Memberikan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan menghibur.
Kiranya, pengalaman sederhana ini bermanfaat dan memberikan inspirasi kepada guru untuk mempraktekan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Karena, mengutip perkataan Mantan Mendikbud Fuad Hassan “Jangan terlalu rebut dengan kurikulum dan sistemnya, itu semua bukan apa-apa. Justru pelaku-pelakunya itulah yang lebih penting diperhatikan”.
PENULIS:
Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Alamat rumah: Dadirejo 01/04, Bagelen, Purworejo 54174 (Hp.081328835359)Email:dedeawanap@yahoo.co.id
Jumat, 11 April 2008
SEMANGAT PENDIDIKAN ANDREA HIRATA DALAM TETRALOGI LASKAR PELANGI
Oleh: Dedeawan
Berbicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya bukanlah hal yang baru bagi mereka yang mengikuti perkembangan novel Indonesia yang sedang semarak dengan hadirnya penulis-penulis novel yang memberikan kisah-kisah yang berbeda dan menggugah jiwa pembacanya, seperti Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang karya-karyanya best seller dan digandrungi karena ceritanya yang mengandung nilai Islami dan tidak terkesan menggurui.
Andrea Hirata, anak muda Melayu Belitong lulusan Sorbonne, Perancis, novelis muda berbakat yang menghadirkan kisah masa kecilnya dalam sebuah novel yang unik dengan mengangkat tema pendidikan dalam ceritanya yaitu Tetralogi Laskar Pelangi. Dalam Tetralogi Laskar Pelangi terdiri dari empat novel yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.
Dalam Laskar Pelangi, mengisahkan sepuluh orang anak yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Cerita berawal dari keresahan Pak Harfan dan Bu Muslimah, yang mengabdikan diri di sekolah tersebut, yang panik karena baru ada sembilan anak baru kelas satu yang mendaftar yaitu Ikal (penulis sendiri, Andrea Hirata), Lintang, Mahar, Trapani, Kucai, Syahdan, Samson, A Kiong, dan satu-satunya perempuan bernama Sahara. Padahal menurut pengawas dari Diknas Belitong menegaskan bahwa sekolah yang muridnya kurang dari sepuluh maka sekolah tersebut harus tutup. Disaat-saat terakhir munculah Harun, anak lima belas tahun dengan keterbalakangan mental yang menyelamatkan sekolah itu dari penutupan.
Keberadaan SD sekaligus SMP Muhammadiyah tersebut sangat berbeda dengan kedaan sekolah-sekolah PN Timah, ibarat bumi dengan langit. Sekolah PN Timah adalah sekolah yang didirikan oleh PN Timah, perusahaan negara yang menguasai produksi hasil tambang di pulau Belitong. Sekolah PN dikhususkan untuk anak-anak pejabat atau staf yang bekerja di perusahaan yang pada masa itu tebesar se-kawasan Asia. Sedangkan penduduk belitong adalah pekerjanya.
Meski dikisahkan kesepuluh anak Laskar Pelangi tersebut bersekolah di sekolah yang mirip gudang kopra, semangat mereka tetap membara, begitupun Bu Muslimah guru mereka, dan Pak Harfan kepala sekolah. Bu Muslimah digambarkan sebagai sosok guru yang bersahaja dari pandangan anak didiknya yang memanggilnya ibunda guru. Kehidupan ekonominya dari pekerjaan lain sebagai penjahit. Profesi gurunya murni semata demi syiar Islam dan memenuhi panggilan jiwa sebagai pendidik. Demikian halnya dengan Pak Harfan, pamannya Bu Mus, digambarkan sebagai guru yang berjenggot lebat, berkemeja koko warna hijau yang berubah menjadi putih karena terlalu sering dicuci, bercelana panjang kusut karena terlalu sering dipakai. Kehidupan ekonominya dari hasil berkebun. Sekolah mereka adalah potret buram sekolah miskin masyarakat Melayu Belitong yang hidup dan berkembang dengan semangat perjuangan dan pengorbanan serta sumbangan sukarela warga.
Mengikuti alur cerita Laskar Pelangi membuat kita (pembaca) untuk menyelami masa kecil penulis (Andrea Hirata) dan juga teman-temannya yang penuh semangat dalam mengenyam pendidikan. Seperti Lintang yang harus mengayuh sepedanya sejauh 40 kilometer melewati jalan kecil penuh rawa dan buaya besar untuk sampai di sekolah. Lintang jualah yang disebut-sebut dalam novel ini sebagai anak jenius didikan alam, yang mengangkat harkat dan martabat sekolah miskin Muhammadiyah itu dalam lomba cerdas cermat tingkat kabupaten mengalahkan sekolah-sekolah PN yang penuh fasilitas. Namun sayang, anak jenius didikan alam tersebut harus mengubur kejeniusannya saat ayahnya meninggal dan Lintang harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi adalah Sang Pemimpi. Mengisahkan Ikal, Arai, dan Jimron dalam menjalani hari-hari mereka bersama mimpi-mimpinya saat bersekolah di SMA. Kesetiakawanan yang tinggi mereka tunjukkan dalam mewujudkan mimpinya. Saat itu PN Timah belitong dalam keadaan kacau dan gelombang PHK besar-besaran membuat anak-anak tidak bisa bersekolah karena orang tua mereka tidak sanggup membiayainya. Anak-anak yang ingin bersekolah harus bekerja, begitu juga dengan ketiga sahabat ini, hingga harus bekerja sebagai kuli ngambat yang bertugas menunggu perahu nelayan tambat dan memikul tangkapan para nelayan itu ke pasar ikan. Kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya diminati oleh mereka yang semangat bersekolahnya kuat, atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak memiliki pekerjaan lain.
Buku ketiga adalah Edensor, menceritakan Ikal dan Arai yang mendapat beasiswa untuk mengambil S-2 ke Eropa, tepatnya di Sorbonne, Perancis. Dan buku keempat dari Tetralogi Laskar Pelangi adalah Maryamah Karpov.
Kiranya, semangat Andrea Hirata dalam Tetralogi Laskar Pelanginya dalam meraih pendidikan setinggi-tingginya, menggapai mimpi menjadi kenyataan, mengunjungi tempat yang tidak pernah diduga sebelumnya, dapat melecut kita, para pendidik ataupun siapa saja untuk memajukan pendidikan dengan segala keterbatasannya.
Berbicara tentang Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya bukanlah hal yang baru bagi mereka yang mengikuti perkembangan novel Indonesia yang sedang semarak dengan hadirnya penulis-penulis novel yang memberikan kisah-kisah yang berbeda dan menggugah jiwa pembacanya, seperti Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang karya-karyanya best seller dan digandrungi karena ceritanya yang mengandung nilai Islami dan tidak terkesan menggurui.
Andrea Hirata, anak muda Melayu Belitong lulusan Sorbonne, Perancis, novelis muda berbakat yang menghadirkan kisah masa kecilnya dalam sebuah novel yang unik dengan mengangkat tema pendidikan dalam ceritanya yaitu Tetralogi Laskar Pelangi. Dalam Tetralogi Laskar Pelangi terdiri dari empat novel yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.
Dalam Laskar Pelangi, mengisahkan sepuluh orang anak yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Cerita berawal dari keresahan Pak Harfan dan Bu Muslimah, yang mengabdikan diri di sekolah tersebut, yang panik karena baru ada sembilan anak baru kelas satu yang mendaftar yaitu Ikal (penulis sendiri, Andrea Hirata), Lintang, Mahar, Trapani, Kucai, Syahdan, Samson, A Kiong, dan satu-satunya perempuan bernama Sahara. Padahal menurut pengawas dari Diknas Belitong menegaskan bahwa sekolah yang muridnya kurang dari sepuluh maka sekolah tersebut harus tutup. Disaat-saat terakhir munculah Harun, anak lima belas tahun dengan keterbalakangan mental yang menyelamatkan sekolah itu dari penutupan.
Keberadaan SD sekaligus SMP Muhammadiyah tersebut sangat berbeda dengan kedaan sekolah-sekolah PN Timah, ibarat bumi dengan langit. Sekolah PN Timah adalah sekolah yang didirikan oleh PN Timah, perusahaan negara yang menguasai produksi hasil tambang di pulau Belitong. Sekolah PN dikhususkan untuk anak-anak pejabat atau staf yang bekerja di perusahaan yang pada masa itu tebesar se-kawasan Asia. Sedangkan penduduk belitong adalah pekerjanya.
Meski dikisahkan kesepuluh anak Laskar Pelangi tersebut bersekolah di sekolah yang mirip gudang kopra, semangat mereka tetap membara, begitupun Bu Muslimah guru mereka, dan Pak Harfan kepala sekolah. Bu Muslimah digambarkan sebagai sosok guru yang bersahaja dari pandangan anak didiknya yang memanggilnya ibunda guru. Kehidupan ekonominya dari pekerjaan lain sebagai penjahit. Profesi gurunya murni semata demi syiar Islam dan memenuhi panggilan jiwa sebagai pendidik. Demikian halnya dengan Pak Harfan, pamannya Bu Mus, digambarkan sebagai guru yang berjenggot lebat, berkemeja koko warna hijau yang berubah menjadi putih karena terlalu sering dicuci, bercelana panjang kusut karena terlalu sering dipakai. Kehidupan ekonominya dari hasil berkebun. Sekolah mereka adalah potret buram sekolah miskin masyarakat Melayu Belitong yang hidup dan berkembang dengan semangat perjuangan dan pengorbanan serta sumbangan sukarela warga.
Mengikuti alur cerita Laskar Pelangi membuat kita (pembaca) untuk menyelami masa kecil penulis (Andrea Hirata) dan juga teman-temannya yang penuh semangat dalam mengenyam pendidikan. Seperti Lintang yang harus mengayuh sepedanya sejauh 40 kilometer melewati jalan kecil penuh rawa dan buaya besar untuk sampai di sekolah. Lintang jualah yang disebut-sebut dalam novel ini sebagai anak jenius didikan alam, yang mengangkat harkat dan martabat sekolah miskin Muhammadiyah itu dalam lomba cerdas cermat tingkat kabupaten mengalahkan sekolah-sekolah PN yang penuh fasilitas. Namun sayang, anak jenius didikan alam tersebut harus mengubur kejeniusannya saat ayahnya meninggal dan Lintang harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi adalah Sang Pemimpi. Mengisahkan Ikal, Arai, dan Jimron dalam menjalani hari-hari mereka bersama mimpi-mimpinya saat bersekolah di SMA. Kesetiakawanan yang tinggi mereka tunjukkan dalam mewujudkan mimpinya. Saat itu PN Timah belitong dalam keadaan kacau dan gelombang PHK besar-besaran membuat anak-anak tidak bisa bersekolah karena orang tua mereka tidak sanggup membiayainya. Anak-anak yang ingin bersekolah harus bekerja, begitu juga dengan ketiga sahabat ini, hingga harus bekerja sebagai kuli ngambat yang bertugas menunggu perahu nelayan tambat dan memikul tangkapan para nelayan itu ke pasar ikan. Kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya diminati oleh mereka yang semangat bersekolahnya kuat, atau mereka yang benar-benar putus asa karena tidak memiliki pekerjaan lain.
Buku ketiga adalah Edensor, menceritakan Ikal dan Arai yang mendapat beasiswa untuk mengambil S-2 ke Eropa, tepatnya di Sorbonne, Perancis. Dan buku keempat dari Tetralogi Laskar Pelangi adalah Maryamah Karpov.
Kiranya, semangat Andrea Hirata dalam Tetralogi Laskar Pelanginya dalam meraih pendidikan setinggi-tingginya, menggapai mimpi menjadi kenyataan, mengunjungi tempat yang tidak pernah diduga sebelumnya, dapat melecut kita, para pendidik ataupun siapa saja untuk memajukan pendidikan dengan segala keterbatasannya.
Sabtu, 05 April 2008
AYO MENULIS CERPEN
Bagi seorang guru/ pendidik, kegiatan tulis menulis lebih banyak yang berkaitan dengan dunia pendidikan seperti artikel, opini, atau dengan kata lain harus ilmiah, nonsastra, dan relevan. Oleh sebab itu, tulisannya cenderung berkutat seputar kebijakan pendidikan, kritik dan saran. Sehingga bagi sebagian guru yang sudah kenyang makan asam garam atau telah lama berkecimpung di dunia pendidikan seakan lelah dan bosan dengan suguhan yang tak juga berpihak kepada pendidikan itu sendiri. Kebijakan pemerintah untuk pendidikan, kesejahteraan guru, perkembangan kurikulum, adalah sajian yang sering kita temukan dalam tulisan tersebut. Terlebih lagi sang penulis biasanya adalah orang yang berprestasi dan bertugas di daerah perkotaan yang jauh dari kemelut kehidupan pendidikan di pedesaan dengan sagala keterbatasannya. Dan lebih memprihatinkan lagi adalah jika penulis itu sendiri menulis sekedar teori saja dan tujuan penulisannya adalah agar dirinya menjadi orang yang terpandang ilmunya, disegani, dan dihormati. Sehingga seolah tiada pesan yang mengena di hati pembacanya.
Dunia tulis menulis sangat dipengaruhi oleh senggangnya waktu di tengah-tengah kesibukan aktifitas pekerjaan dan urusan keluarga serta masyarakat.
Cerpen bisa menjadi alternative tulisan yang mampu memberi kesan berbeda bagi pembaca setelah menangkap pesan/ amanat yang ingin disampaikan, dan tentu saja masih seputar kebijakan pendidikan, kesejahteraan guru, perkembangan kurikulum, kritik, saran dan lain-lain.
Sebuah cerpen harus tetap mengedepankan estetika/ keindahan karena cerpen itu sendiri merupakan sebuah karya seni yang meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembaca. Salah satu kesalahan yang sering dibuat cerpenis pemula mereka berpikir bahwa cerpen itu hanya semacam media untuk menyampaikan informasi tertentu. Maka hasilnya karya yang dihasilkanpun tak lebih dari deretan informasi demi informasi (Jonriah Ukur Ginting, www.jonru.net).
Banyak cerita yang dapat menjadi inspirasi atau ilham untuk menulis sebuah cerpen. Ilham itu dikupas sedemikian rupa dan memadukannya dengan imajinasi, serta menuangkannya dalam bentuk tulisan. Adapun langkah-langkahnya adalah: menemukan ide dalam sebuah tema, menyusun alur cerita sebagai kerangka karangan, mengumpulkan kosakata dan gaya bahasa, mengembangkan alur cerita menjadi kerangka karangan utuh (Awan Sundiawan, www.awan965.wordpress.com).
Struktur para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika menyusun cerpen mereka (diterjemahkan dan diringkas oleh Ary Cahya Utomo dari sumber www.write101.com/shortstory.htm, dan saya kutip dari www.pelitaku.sabda.org).
taruh seseorang di atas pohon (munculkan sebuah kedaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita)
lempari dia dengan batu (kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan tokoh utama tadi)
buat dia turun (tunjukkan bagaimana tokoh pada akhirnya mengatasi masalah itu/ sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis)
Tulisan fiksi menuntut daya imajinasi tinggi, sementara nonfiksi dibatasi oleh fakta dan aturan-aturan hukum tertentu. Jadi bagi yang ingin menulis fiksi, latihlah kreatifitas daya imajinasi dan juga kemampuan mendramatisasi suatu adegan (Ary Cahya Utomo, www.pelitaku.sabda.org).
Bacaan yang kita lahap sebenarnya ibarat amunisi yang membuat keahlian menulis kita semakin baik. Selain menambah wawasan/ pengetahuan, membaca juga bisa membuat kita menemukan kosakata baru, gaya bahasa baru, atau teknik bercerita yang baru (Jonriah Ukur Ginting, www.jonru.net).
Sebuah cerita tidak dapat disebut cerpen apabila secara minimal tidak memenuhi syarat sebagai berikut (Drs.Sugeng, Bahasa Indonesia SMA kelas X, 2005:76)
meskipun pendek, merupakan kesatuan yang lengkap dan selesai
tersusun atas lima bagian, pengenalan, perumitan, klimaks cerita, krisis balik, dan penyelesaian masalah
mengandung estetika, baik dalam hal bahasa maupun dalam hal teknik bercerita
unsur-unsur pembangun cerita tergambar secara eksplisit atau implicit
mampu memberikan efek (kesan tertentu) bagi pembaca baik secara moral, emosional, ataupun intelektual.
Jadi pada dasarnya sebuah cerpen harus memiliki tema, tokoh, setting, alur/ jalan cerita, konflik, dan amanat/ pesan. Selain itu, dalam sebuah cerpen harus ada dialog yang memberi bobot pada cerpen, juga dimanakah sudut pandang penulis dalam cerpen. Kalau sudut pandang penulis adalah sebagai ‘aku’, maka seolah-olah penulis benar-benar menceritakan dirinya sendiri. Jika sudut pandang penulis adalah sebaga pencerita, maka penulis hanyalah memaparkan sang tokoh dalam sudut pandang penulis.
Dan perlu kita renungkan, bahwa sebuah karya sastra baik itu cerpen, novel, dll, bila kita menulis berdasarkan tren yang sudah ada, dan mengikuti saja pendapat pakar penulis terkenal, bukan jaminan bahwa karya kita akan diterima oleh pembaca. Karena pada dasarnya, karya yang diterima oleh pembaca adalah karya yang benar-benar orisinil dan berbeda serta mengetengahkan hal yang baru bagi pembaca.
Rowopanjang, April 2008
Dunia tulis menulis sangat dipengaruhi oleh senggangnya waktu di tengah-tengah kesibukan aktifitas pekerjaan dan urusan keluarga serta masyarakat.
Cerpen bisa menjadi alternative tulisan yang mampu memberi kesan berbeda bagi pembaca setelah menangkap pesan/ amanat yang ingin disampaikan, dan tentu saja masih seputar kebijakan pendidikan, kesejahteraan guru, perkembangan kurikulum, kritik, saran dan lain-lain.
Sebuah cerpen harus tetap mengedepankan estetika/ keindahan karena cerpen itu sendiri merupakan sebuah karya seni yang meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembaca. Salah satu kesalahan yang sering dibuat cerpenis pemula mereka berpikir bahwa cerpen itu hanya semacam media untuk menyampaikan informasi tertentu. Maka hasilnya karya yang dihasilkanpun tak lebih dari deretan informasi demi informasi (Jonriah Ukur Ginting, www.jonru.net).
Banyak cerita yang dapat menjadi inspirasi atau ilham untuk menulis sebuah cerpen. Ilham itu dikupas sedemikian rupa dan memadukannya dengan imajinasi, serta menuangkannya dalam bentuk tulisan. Adapun langkah-langkahnya adalah: menemukan ide dalam sebuah tema, menyusun alur cerita sebagai kerangka karangan, mengumpulkan kosakata dan gaya bahasa, mengembangkan alur cerita menjadi kerangka karangan utuh (Awan Sundiawan, www.awan965.wordpress.com).
Struktur para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika menyusun cerpen mereka (diterjemahkan dan diringkas oleh Ary Cahya Utomo dari sumber www.write101.com/shortstory.htm, dan saya kutip dari www.pelitaku.sabda.org).
taruh seseorang di atas pohon (munculkan sebuah kedaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita)
lempari dia dengan batu (kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan tokoh utama tadi)
buat dia turun (tunjukkan bagaimana tokoh pada akhirnya mengatasi masalah itu/ sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis)
Tulisan fiksi menuntut daya imajinasi tinggi, sementara nonfiksi dibatasi oleh fakta dan aturan-aturan hukum tertentu. Jadi bagi yang ingin menulis fiksi, latihlah kreatifitas daya imajinasi dan juga kemampuan mendramatisasi suatu adegan (Ary Cahya Utomo, www.pelitaku.sabda.org).
Bacaan yang kita lahap sebenarnya ibarat amunisi yang membuat keahlian menulis kita semakin baik. Selain menambah wawasan/ pengetahuan, membaca juga bisa membuat kita menemukan kosakata baru, gaya bahasa baru, atau teknik bercerita yang baru (Jonriah Ukur Ginting, www.jonru.net).
Sebuah cerita tidak dapat disebut cerpen apabila secara minimal tidak memenuhi syarat sebagai berikut (Drs.Sugeng, Bahasa Indonesia SMA kelas X, 2005:76)
meskipun pendek, merupakan kesatuan yang lengkap dan selesai
tersusun atas lima bagian, pengenalan, perumitan, klimaks cerita, krisis balik, dan penyelesaian masalah
mengandung estetika, baik dalam hal bahasa maupun dalam hal teknik bercerita
unsur-unsur pembangun cerita tergambar secara eksplisit atau implicit
mampu memberikan efek (kesan tertentu) bagi pembaca baik secara moral, emosional, ataupun intelektual.
Jadi pada dasarnya sebuah cerpen harus memiliki tema, tokoh, setting, alur/ jalan cerita, konflik, dan amanat/ pesan. Selain itu, dalam sebuah cerpen harus ada dialog yang memberi bobot pada cerpen, juga dimanakah sudut pandang penulis dalam cerpen. Kalau sudut pandang penulis adalah sebagai ‘aku’, maka seolah-olah penulis benar-benar menceritakan dirinya sendiri. Jika sudut pandang penulis adalah sebaga pencerita, maka penulis hanyalah memaparkan sang tokoh dalam sudut pandang penulis.
Dan perlu kita renungkan, bahwa sebuah karya sastra baik itu cerpen, novel, dll, bila kita menulis berdasarkan tren yang sudah ada, dan mengikuti saja pendapat pakar penulis terkenal, bukan jaminan bahwa karya kita akan diterima oleh pembaca. Karena pada dasarnya, karya yang diterima oleh pembaca adalah karya yang benar-benar orisinil dan berbeda serta mengetengahkan hal yang baru bagi pembaca.
Rowopanjang, April 2008
Senin, 31 Maret 2008
BAHASA JAWA SEBAGAI BAHASA KOMUNIKASI DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI TK DAN SD KELAS RENDAH
PENULIS:
Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Suatu hari, kakak perempuan saya yang salah satu putranya bersekolah di taman kanak-kanak bercerita tentang kegiatan drumband yang merupakan kegiatan rutin setiap sabtu itu. Dapat dibayangkan bagaimana mengatur anak-anak TK yang merupakan masa bermain itu. Tentulah dibutuhkan ekstra kesabaran ibu-ibu guru pengasuh. Tapi yang sungguh-sungguh disayangkan adalah cara ibu guru TK itu mengatur dan membimbing bertutur katanya dalam bahasa Indonesia. Sementara anak-anak usia pra-sekolah tersebut kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah atau dilingkungannya selalu menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian mereka. Sementara pengetahuan bahasa Indonesia mereka terbatas. Akibatnya, anak-anak itu pun berbicara menjawab ataupun bertanya kepada ibu gurunya dalam bahasa Jawa ngoko.
Dari deskripsi singkat di atas, dapat digambarkan bahwa pengetahuan akan bahasa Jawa yang penggunaannya terdiri dari bahasa ngoko, krama, dan krama inggil bagi anak-anak orang jawa itu sendiri dapat dikatakan memprihatinkan. Bukannya maksud saya untuk mengkritik atau menyalahkan apa yang dilakukan ibu guru TK tersebut. Dan bukan pula bermaksud menganaktirikan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional dan bahasa pemersatu bangsa ini. Tapi akankah lebih baiknya apabila dalam usia-usia mereka saat ini mengenalkan dan mengakrabkan mereka dengan bahasa Jawa yang merupakan salah satu khazanah budaya bangsa Indonesia yang beranekaragam itu.
Satu lagi cerita saat mengikuti workshop pembelajaran tematik yang diadakan UPTD Pendidikan kecamatan bruno bekerjasama dengan penerbit Erlangga yang menghadirkan pembicara Ibu Nani Rosdjiati dari Widyaiswara LPMP Jateng. Narasumber yang memiliki pengalaman mengajar sebagai guru geografi SMA itu pun menerangkan secara gamblang tentang apa itu pembelajaran tematik dan mensimulasikan bagaimana sebaiknya pembelajaran tematik itu dilakukan agar tercapai hasil yang maksimal. Acara itupun tergolong sukses karena dihadiri oleh hampir semua guru kelas I-VI dan kepala sekolah se-kecamatan bruno. Ada pertanyaan yang menggelitik dalam fikiran saya yang saya diskusikan singkat dengan peserta workshop tersebut tapi tidak coba saya utarakan pertanyaan saya itu kepada narasumber. Pertanyaan itu adalah “Apakah dalam pembelajaran tematik yang dikhususkan untuk kelas rendah (kelasI-III) tersebut dalam kegiatan belajar mengajarnya menggunakan pengantar bahasa Indonesia atau bahasa Jawa?”. Saya menganggap pertanyaan saya ketika itu tidak terlalu penting, lagipula saya takut menyinggung narasumber yang asli bandung itu.
Dan merupakan pengalaman pribadi saya, yang seorang guru kelas IV (kelas tinggi) saat suatu hari ibu guru kelas I berhalangan hadir dan saya masuk ke kelas itu, kebetulan kelas saya diisi pelajaran Agama oleh guru PAI. Saya mencoba berbicara dalam bahasa Indonesia, dan anak-anak kelas I itupun hanya diam membisu sambil menatap saya dengan heran dan canggung. Karena menurut Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5). Maka agar apa yang saya sampaikan dapat dipahami oleh siswa, maka saya menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dalam mengajar. Memang, anak-anak seusia mereka belum mengerti betul bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Jawa adalah bahasa keseharian mereka. Bahasa Indonesia baru mereka ketahui melalui media elektronik seperti televisi, dan saat mereka duduk di bangku sekolah.
Menurut pendapat saya, akankah lebih baiknya bila pada usia TK dan SD kelas awal (khususnya kelas I dan II), dalam kegiatan belajar mengajarnya menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi. Dan untuk SD kelas awal, bahasa Indonesia hanya sebatas mata pelajaran saja dengan alasan untuk mengenalkan bahasa Jawa lebih dahulu sebagai basic dasar sebelum mereka mengenal bahasa Indonesia dalam berkomunikasi mereka. Dan untuk menunjang hal tersebut, perlu diadakannya penataran bahasa Jawa untuk guru-guru TK dan SD yang mengajar di kelas awal, tanpa harus mengubah kurikulum, misalnya untuk SD kelas awal tetap pembelajaran tematik, tetapi dalam menyampaikan materi menggunakan bahasa Jawa. Penataran ini bertujuan untuk mengasah dan mempertajam penggunaan bahasa Jawa bagi para guru, dengan menghadirkan pakar yang benar-benar menguasai bahasa Jawa dan berpengalaman mengajar dengan komunikasi bahasa Jawa yang baik dan benar.
Anak-anak diperkenalkan dengan bahasa Jawa yang bila dipelajari lebih dalam itu menyimpan kekayaan kata, budi bahasa dan unggah-ungguh (sopan santun) yang baik. Karena budi pekerti seseorang akan terlihat melalui bahasa yang dituturkannya. Seperti saat sekarang ini, saat berbagai macam suguhan hiburan merebak di negeri ini, kita sepertinya kehilangan budaya ketimuran kita yang terkenal santun dan ramah.
Supadiyanto (Studi Sarjana pada Jurusan Komukasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogya & Jurdik Matematika FMPA UNY serta Peneliti muda pada ICRC) mengemukakan bahwa bagaimanakah posisi bahasa Jawa yang menjadi nukleus dari kehalusan tutur bahasa seseorang, kini tak mendapatkan porsi pelajaran di bangku sekolah. Mengapa, siswa tak memperoleh pelajaran bahasa Jawa, yang mengajarkan tata krama, unggah-ungguh dalam filosofi budaya Jawa. Krisis pemakaian bahasa Jawa yang terjadi di lokal area DIY dan Jawa Tengah secara umum bakal mempengaruhi kredibilitas kultur bahasa keraton ini di masa mendatang. Sudah jarang dan sulit sekali kita bisa dengan mudah menemukan siswa SD dan atau SMP yang pandai ber-casciscus memakai bahasa krama pada gurunya. Tak ada lagi ditemukan, siswa SMA yang lihai dalam berolah kata mengeksplorasikan krama inggil untuk berkomunikasi dengan orang tua atau sosok yang lebih dihormati.
Adalah hal yang menggembirakan karena sekarang ini pelajaran bahasa Jawa menjadi mata pelajaran yang wajib diajarkan mulai dari SD sampai SMA. Itu artinya ada upaya untuk melestarikan bahasa Jawa dan membudayakan bahasa Jawa di sekolah-sekolah.
Dede Awan Aprianto, A.Ma. Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo.
Suatu hari, kakak perempuan saya yang salah satu putranya bersekolah di taman kanak-kanak bercerita tentang kegiatan drumband yang merupakan kegiatan rutin setiap sabtu itu. Dapat dibayangkan bagaimana mengatur anak-anak TK yang merupakan masa bermain itu. Tentulah dibutuhkan ekstra kesabaran ibu-ibu guru pengasuh. Tapi yang sungguh-sungguh disayangkan adalah cara ibu guru TK itu mengatur dan membimbing bertutur katanya dalam bahasa Indonesia. Sementara anak-anak usia pra-sekolah tersebut kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah atau dilingkungannya selalu menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa keseharian mereka. Sementara pengetahuan bahasa Indonesia mereka terbatas. Akibatnya, anak-anak itu pun berbicara menjawab ataupun bertanya kepada ibu gurunya dalam bahasa Jawa ngoko.
Dari deskripsi singkat di atas, dapat digambarkan bahwa pengetahuan akan bahasa Jawa yang penggunaannya terdiri dari bahasa ngoko, krama, dan krama inggil bagi anak-anak orang jawa itu sendiri dapat dikatakan memprihatinkan. Bukannya maksud saya untuk mengkritik atau menyalahkan apa yang dilakukan ibu guru TK tersebut. Dan bukan pula bermaksud menganaktirikan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional dan bahasa pemersatu bangsa ini. Tapi akankah lebih baiknya apabila dalam usia-usia mereka saat ini mengenalkan dan mengakrabkan mereka dengan bahasa Jawa yang merupakan salah satu khazanah budaya bangsa Indonesia yang beranekaragam itu.
Satu lagi cerita saat mengikuti workshop pembelajaran tematik yang diadakan UPTD Pendidikan kecamatan bruno bekerjasama dengan penerbit Erlangga yang menghadirkan pembicara Ibu Nani Rosdjiati dari Widyaiswara LPMP Jateng. Narasumber yang memiliki pengalaman mengajar sebagai guru geografi SMA itu pun menerangkan secara gamblang tentang apa itu pembelajaran tematik dan mensimulasikan bagaimana sebaiknya pembelajaran tematik itu dilakukan agar tercapai hasil yang maksimal. Acara itupun tergolong sukses karena dihadiri oleh hampir semua guru kelas I-VI dan kepala sekolah se-kecamatan bruno. Ada pertanyaan yang menggelitik dalam fikiran saya yang saya diskusikan singkat dengan peserta workshop tersebut tapi tidak coba saya utarakan pertanyaan saya itu kepada narasumber. Pertanyaan itu adalah “Apakah dalam pembelajaran tematik yang dikhususkan untuk kelas rendah (kelasI-III) tersebut dalam kegiatan belajar mengajarnya menggunakan pengantar bahasa Indonesia atau bahasa Jawa?”. Saya menganggap pertanyaan saya ketika itu tidak terlalu penting, lagipula saya takut menyinggung narasumber yang asli bandung itu.
Dan merupakan pengalaman pribadi saya, yang seorang guru kelas IV (kelas tinggi) saat suatu hari ibu guru kelas I berhalangan hadir dan saya masuk ke kelas itu, kebetulan kelas saya diisi pelajaran Agama oleh guru PAI. Saya mencoba berbicara dalam bahasa Indonesia, dan anak-anak kelas I itupun hanya diam membisu sambil menatap saya dengan heran dan canggung. Karena menurut Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5). Maka agar apa yang saya sampaikan dapat dipahami oleh siswa, maka saya menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dalam mengajar. Memang, anak-anak seusia mereka belum mengerti betul bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Jawa adalah bahasa keseharian mereka. Bahasa Indonesia baru mereka ketahui melalui media elektronik seperti televisi, dan saat mereka duduk di bangku sekolah.
Menurut pendapat saya, akankah lebih baiknya bila pada usia TK dan SD kelas awal (khususnya kelas I dan II), dalam kegiatan belajar mengajarnya menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi. Dan untuk SD kelas awal, bahasa Indonesia hanya sebatas mata pelajaran saja dengan alasan untuk mengenalkan bahasa Jawa lebih dahulu sebagai basic dasar sebelum mereka mengenal bahasa Indonesia dalam berkomunikasi mereka. Dan untuk menunjang hal tersebut, perlu diadakannya penataran bahasa Jawa untuk guru-guru TK dan SD yang mengajar di kelas awal, tanpa harus mengubah kurikulum, misalnya untuk SD kelas awal tetap pembelajaran tematik, tetapi dalam menyampaikan materi menggunakan bahasa Jawa. Penataran ini bertujuan untuk mengasah dan mempertajam penggunaan bahasa Jawa bagi para guru, dengan menghadirkan pakar yang benar-benar menguasai bahasa Jawa dan berpengalaman mengajar dengan komunikasi bahasa Jawa yang baik dan benar.
Anak-anak diperkenalkan dengan bahasa Jawa yang bila dipelajari lebih dalam itu menyimpan kekayaan kata, budi bahasa dan unggah-ungguh (sopan santun) yang baik. Karena budi pekerti seseorang akan terlihat melalui bahasa yang dituturkannya. Seperti saat sekarang ini, saat berbagai macam suguhan hiburan merebak di negeri ini, kita sepertinya kehilangan budaya ketimuran kita yang terkenal santun dan ramah.
Supadiyanto (Studi Sarjana pada Jurusan Komukasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogya & Jurdik Matematika FMPA UNY serta Peneliti muda pada ICRC) mengemukakan bahwa bagaimanakah posisi bahasa Jawa yang menjadi nukleus dari kehalusan tutur bahasa seseorang, kini tak mendapatkan porsi pelajaran di bangku sekolah. Mengapa, siswa tak memperoleh pelajaran bahasa Jawa, yang mengajarkan tata krama, unggah-ungguh dalam filosofi budaya Jawa. Krisis pemakaian bahasa Jawa yang terjadi di lokal area DIY dan Jawa Tengah secara umum bakal mempengaruhi kredibilitas kultur bahasa keraton ini di masa mendatang. Sudah jarang dan sulit sekali kita bisa dengan mudah menemukan siswa SD dan atau SMP yang pandai ber-casciscus memakai bahasa krama pada gurunya. Tak ada lagi ditemukan, siswa SMA yang lihai dalam berolah kata mengeksplorasikan krama inggil untuk berkomunikasi dengan orang tua atau sosok yang lebih dihormati.
Adalah hal yang menggembirakan karena sekarang ini pelajaran bahasa Jawa menjadi mata pelajaran yang wajib diajarkan mulai dari SD sampai SMA. Itu artinya ada upaya untuk melestarikan bahasa Jawa dan membudayakan bahasa Jawa di sekolah-sekolah.
PENTINGNYA ALAT PERAGA DALAM MENGAJAR IPA
Oleh: Dede Awan Aprianto, A.Ma (Guru SDN Rowopanjang, Bruno, Purworejo)
Salah satu tujuan pengajaran IPA adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994: 61). Apabila dalam proses belajar mengajar IPA guru tidak menggunakan alat peraga, maka sulit bagi siswa untuk menyerap konsep-konsep pelajaran yang disampaikan guru sehingga berdampak pada kurangnya tingkat keberhasilan siswa dalam belajar.
Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa (Moh. Surya, 1992: 21).
Tiap-tiap benda yang dapat menjelaskan suatu ide, prinsip, gejala atau hukum alam, dapat disebut alat peraga Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6)
Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif (Nana Sudjana, 2002: 99). Dalam kaitannya dengan pengajaran IPA, keberadaan alat peraga jelas mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan belajar mengajar. Pengajaran pada dasarnya (Nana Sudjana, 2002: 43) adalah suatu proses terjadinya interaksi guru siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yaitu kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru.
Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5).
Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP kelas IV SD (Depdikbud, 1994: 61) mengemukakan pembelajaran IPA di SD sebagai berikut.
Mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.
Pengajaran IPA bertujuan agar siswa:
memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari
memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitar
mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar
bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerjasama dan mandiri
mampu menerapkan berbagai konsep IPA
mampu menggunakan tekhnologi sederhana
mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Alat peraga merupakan salah satu factor untuk mencapai efisiensi hasil belajar (Moh. Surya, 1992: 75). Keberadaan alat bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga) oleh A.Samana (2001: 21) digambarkan dalam diagram berikut.
Tujuan Pendidikan (tujuan pengajaran)
Guru Siswa
Pendekatan -- Metode -- Teknik
Alat Bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga)
Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6).
Ada enam fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam bukunya Dasar-dasar Proses belajar mengajar (2002: 99-100):
a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantuuntuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif
b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar
c. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran
d. Alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan atau bukan sekedar pelengkap
e. Alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru
f. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar
Di samping enam fungsi di atas, penggunaan alat peraga mempunyai nilai-nilai:
Dengan peragaan dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme
Dengan peragaan dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar
Dengan peragaan dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap
Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa
Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan
Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa
Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.
Dalam menggunakan alat peraga hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut (Nana Sudjana, 2002: 104-105)
Menentukan jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu alat peraga manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan
Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan tingkat kemampuan/kematangan anak didik
Menyajikan alat peraga dengan tepat
Menempatkan dan memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.
R.M. Soelarko dalam buku Audio Visual media komunikasi ilmiah pendidikan penerangan (1995: 6) menggolongkan macam-macam alat peraga berdasarkan pada bahan yang dipakai:
a. Gambar-gambar (lukisan), dalam IPA misalnya Zoologie (gambar-gambar binatang), Botanie (gambar pohon, bunga, daun, dan buah), dan gambar tentang ilmu bumi (gambar gunung, laut, danau, hutan)
b. Benda-benda alam yang diawetkan, misalnya daun kering yang dipres, bunga, serangga misalnya kupu-kupu, jangkrik, belalang.
c. Model, Fantom, dan Manikkin. Yang disebut model adalah bentuk tiruan dalam skala kecil. Fantom atau Manikkin adalah model anatomi dari bagian-bagian tubuh manusia itu sendiri misal rangka manusia.
REFERENSI
A. Samana, 2001, Sistem Pengajaran, Yogyakarta: Kanisius
Depdikbud, 1994, Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-garis Besar Program Pengajaran Kelas IV SD, Dirjen Dikti Bagian Proyek Pengembangan PGSD
Dimyati dan Mudjiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Moh. Surya, 1992, Psikologi Pendidikan, Bandung: IKIP Bandung
Nana Sudjana, 1990, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Nana Sudjana, 2002, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo
Ngalim Purwanto, 1998, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
R.M. Soelarko, 1995, Audio Visual Media Komunikasi Ilmiah Pendidikan Penerangan, Binacipta
Tim Penulis Psikologi Pendidikan, 1993, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UPT IKIP Yogyakarta
Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Salah satu tujuan pengajaran IPA adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994: 61). Apabila dalam proses belajar mengajar IPA guru tidak menggunakan alat peraga, maka sulit bagi siswa untuk menyerap konsep-konsep pelajaran yang disampaikan guru sehingga berdampak pada kurangnya tingkat keberhasilan siswa dalam belajar.
Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa (Moh. Surya, 1992: 21).
Tiap-tiap benda yang dapat menjelaskan suatu ide, prinsip, gejala atau hukum alam, dapat disebut alat peraga Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6)
Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif (Nana Sudjana, 2002: 99). Dalam kaitannya dengan pengajaran IPA, keberadaan alat peraga jelas mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan belajar mengajar. Pengajaran pada dasarnya (Nana Sudjana, 2002: 43) adalah suatu proses terjadinya interaksi guru siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yaitu kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru.
Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa (Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993: 5).
Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP kelas IV SD (Depdikbud, 1994: 61) mengemukakan pembelajaran IPA di SD sebagai berikut.
Mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.
Pengajaran IPA bertujuan agar siswa:
memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari
memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitar
mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar
bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggung jawab, bekerjasama dan mandiri
mampu menerapkan berbagai konsep IPA
mampu menggunakan tekhnologi sederhana
mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Alat peraga merupakan salah satu factor untuk mencapai efisiensi hasil belajar (Moh. Surya, 1992: 75). Keberadaan alat bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga) oleh A.Samana (2001: 21) digambarkan dalam diagram berikut.
Tujuan Pendidikan (tujuan pengajaran)
Guru Siswa
Pendekatan -- Metode -- Teknik
Alat Bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga)
Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6).
Ada enam fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam bukunya Dasar-dasar Proses belajar mengajar (2002: 99-100):
a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantuuntuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif
b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar
c. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran
d. Alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan atau bukan sekedar pelengkap
e. Alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru
f. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar
Di samping enam fungsi di atas, penggunaan alat peraga mempunyai nilai-nilai:
Dengan peragaan dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme
Dengan peragaan dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar
Dengan peragaan dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap
Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa
Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan
Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa
Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.
Dalam menggunakan alat peraga hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut (Nana Sudjana, 2002: 104-105)
Menentukan jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu alat peraga manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan
Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan tingkat kemampuan/kematangan anak didik
Menyajikan alat peraga dengan tepat
Menempatkan dan memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.
R.M. Soelarko dalam buku Audio Visual media komunikasi ilmiah pendidikan penerangan (1995: 6) menggolongkan macam-macam alat peraga berdasarkan pada bahan yang dipakai:
a. Gambar-gambar (lukisan), dalam IPA misalnya Zoologie (gambar-gambar binatang), Botanie (gambar pohon, bunga, daun, dan buah), dan gambar tentang ilmu bumi (gambar gunung, laut, danau, hutan)
b. Benda-benda alam yang diawetkan, misalnya daun kering yang dipres, bunga, serangga misalnya kupu-kupu, jangkrik, belalang.
c. Model, Fantom, dan Manikkin. Yang disebut model adalah bentuk tiruan dalam skala kecil. Fantom atau Manikkin adalah model anatomi dari bagian-bagian tubuh manusia itu sendiri misal rangka manusia.
REFERENSI
A. Samana, 2001, Sistem Pengajaran, Yogyakarta: Kanisius
Depdikbud, 1994, Kurikulum Pendidikan Dasar Garis-garis Besar Program Pengajaran Kelas IV SD, Dirjen Dikti Bagian Proyek Pengembangan PGSD
Dimyati dan Mudjiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Moh. Surya, 1992, Psikologi Pendidikan, Bandung: IKIP Bandung
Nana Sudjana, 1990, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Nana Sudjana, 2002, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo
Ngalim Purwanto, 1998, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
R.M. Soelarko, 1995, Audio Visual Media Komunikasi Ilmiah Pendidikan Penerangan, Binacipta
Tim Penulis Psikologi Pendidikan, 1993, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UPT IKIP Yogyakarta
Uzer Usman dan Lilis Setyawati, 1993, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Langganan:
Postingan (Atom)